Sabtu, 17 Mei 2014

Syi’ah Islam dan Soal Kosmologi


“Kosmologi yang benar adalah fondasi yang harus dibangun oleh setiap insan beragama.   Dengan metode epistemologis apakah kosmologi ini bisa dibangun?  Mungkinkah pengetahuan empiris dapat memecahkan masalah-masalah prinsipal kosmologis? Di manakah posisi Irfan (tasawuf) dalam perfeksi dan perjalanan spiritual manusia?  Artikel  ini akan berusaha menjawabnya dengan penjelasan yang lugas dan sesederhana mungkin.”

Definisi Agama

Bicara soal agama, tidak bisa tidak kita harus memahami terlebih dahulu definisi agama. Dalam bahasa Arab agama disebut ‘Din’ yang secara bahasa berarti ketataan, pahala dan sebagainya.  Dalam istilah, ‘Din’ berarti  keyakinan kepada Sang Pencipta manusia dan alam semesta, serta ajaran-ajaran ‘amaliah yang sesuai dengan keyakinan ini.  Atas dasar ini, orang yang tidak meyakini adanya Sang Pencita dan menganggap segala fenomena alam ini sebagai kejadian spontan atau semata-mata terjadi karena interaksi alam natural disebut sebagai orang yang tak beragama (ateis).  Sebaliknya, orang  yang meyakini adanya Sang Pencipta semesta alam disebut sebagai orang yang beragama (tadayyun), sekalipun keyakinannya atau ritus-ritus agamanya mengalami penyimpangan dan khurafat. Maka dari itu, agama terbagi menjadi hak dan batil. Agama yang hak adalah agama yang mengandung keyakinan yang sesuai dengan kenyataan serta membawa petunjuk kepada perilaku-perilaku yang memiliki jaminan yang valid untuk menggapai kebenaran.

Ushûl dan Furû'

Dengan pengertian terminologis agama tadi jelaslah bahwa agama setidaknya terdiri dari dua elemen.  Pertama, akidah atau keyakinan-keyakinan yang dilandasi dengan prinsip dan dasar yang valid. Kedua, hukum atau perintah-perintah ‘amaliah yang sesuai dengan dasar-dasar akidah. Dengan demikian, tepatlah kiranya jika elemen akidah setiap agama disebut ‘ushûl’  (pokok-pokok –dasar dan fondasi inti), sedangkan elemen hukum ‘amaliahnya disebut furû' (cabang-cabang). Dua istilah ini oleh para ulama Islam juga lazim disebut akidah Islam dan hukum Islam.

Kosmologi dan Ideologi

Istilah kosmologi dan ideologi artinya tak jauh berbeda satu dengan yang lain. Arti kosmologi antara lain ialah serangkaian keyakinan dan pandangan universal yang tersistematis mengenai manusia dan alam semesta, atau secara umum mengenai ‘ke-ada-an’ (wujud).  Sedangkan arti ideologi antara lain ialah serangkaian pandangan universal yang tersistematis mengenai perilaku manusia. Sesuai dua pengertian ini bisa dikatakan bahwa rangkaian akidah dan ushûl setiap agama adalah kosmologi agama ini sendiri, sementara sistem universal hukum-hukum ‘amaliahnya adalah ideologinya, dan keduanya diterapkan sesuai ushûl dan furû' agama ini.  Patut diingat bahwa istilah ideologi tidak mencakup hukum-hukum parsial sebagaimana kosmologi juga tidak mencakup keyakinan-keyakinan parsial. Selain itu, kata ideologi juga sering diterapkan pada pengertian umum yang mencakup kosmologi.

Kosmologi Teisme dan Kosmologi Materialisme 

Di tengah umat manusia terdapat aneka ragam kosmologi. Meskipun ndemikian, dengan pertimbangan diterima atau tidaknya alam in-materi atau supranatural semuanya bisa dibagi dalam dikotomi kosmologi ketuhanan (teisme) dan kosmologi materialisme. Penganut kosmologi materialisme dulu disebut zindiq atau mulhid (ateis), sedangkan sekarang lazim disebut materialis. Ada banyak paham yang membidani lahirnya materialisme, dan di antaranya yang paling kesohor ialah Materialisme Dialektik yang menjadi elemen filosofis ajaran Marxisme. Dari keterangan di atas jelas bahwa penerapan istilah kosmologi lebih luas daripada istilah keyakinan atau akidah agama, karena kosmologi juga meliputi paham-paham ateisme dan materialisme, sedangkan akidah agama tidak mencakupnya.  Ini serupa dengan istilah ideologi yang sebenarnya hanya mencakup rangkaian hukum-hukum agama.

Agama Samawi dan Ushûlnya

Tentang proses munculnya berbagai agama, para ahli sejarah agama dan sosiolog berbeda pendapat.  Namun, berdasarkan apa yang bisa dipahami dari teks-teks keislaman (nash), agama muncul sejak manusia itu ada.  Manusia pertama adalah Nabi Adam as yang merupakan nabi penyeru Tauhid (monoteisme), sedangkan keberadaan agama–agama yang mengandung paham-paham syirik (politeisme) tak lain adalah akibat penyelewengan, distorsi, dan tendensi-tendensi individual maupun kelompok. Agama-agama monoteisme yang merupakan agama samawi dan hakiki memiliki tiga prinsip universal yang kolektif.  Pertama, keyakinan kepada Tuhan Yang Esa. Kedua, keyakinan kepada kehidupan yang abadi untuk setiap manusia di alam akhirat serta ganjaran dan pahala untuk setiap perbuatannya ketika hidup di alam dunia. Ketiga, keyakinan kepada pengutusan  para Nabi oleh Allah SWT untuk menuntun umat manusia kepada kesempurnaan dan kebahagiaan dunia dan akhirat.  

Tiga prinsip ini pada hakikatnya adalah jawaban untuk beberapa pertanyaan fundamental untuk setiap orang yang arif dan bijak, yaitu apa dan siapakah kausa prima atau sumber pertama wujud alam semesta ini?  Apakah akhir dari kehidupan ini?  Dan apakah yang bisa dijadikan sebagai jalur terbaik untuk menjalani program hidup?  Adapun kandungan program yang dapat dipelajari dari jalur wahyu yang terjamin kebenarannya tak lain ialah ideologi religius yang terbangun berlandaskan kosmologi teisme.

Keyakinan-keyakinan prinsipal memiliki berbagai konsekwensi, korelasi, akses, dan rincian-rincian yang keseluruhannya membentuk konsetalasi keyakinan religius. Perselisihan dalam hal-hal inilah yang menumbuh-biakkan berbagai aliran keagamaan, mazhab, dan sekte.  Perselisihan mengenai status kenabian sebagian nabi serta penentuan kitab suci yang valid, misalnya, telah memicu perselisihan antara agama-agama Yahudi, Kristen, dan Islam.  Perselisihan ini kemudian membawa akses berupa perselisihan-perselihan lain dalam keyakinan dan tradisi yang sebagian di antaranya tidak sejalan dengan keyakinan-keyakinan prinsipal. Contohnya adalah keyakinan Trinitas dalam agama Kristen yang jelas-jelas berseberangan dengan paham monoteisme, walaupun umat Kristiani tetap berusaha mengemas keyakinan trinitas ini dengan penjelasan-penjelasannya sendiri.  Dalam Islam pun, umat Nabi Besar Muhammad Saw juga terpecah menjadi Syi'ah dan Sunni akibat perselisihan mengenai mekanisme penentuan para pengganti Rasul Saw.  Syi'ah meyakini bahwa yang berhak menentukannya hanyalah Allah SWT, sementara Sunni meyakini bahwa yang menentukannya adalah umat Islam sendiri. Alhasil, Tauhid, kenabian, dan hari kebangkitan adalah keyakinan yang paling fundamental dan prinsipal dalam semua ajaran agama samawi.

Masalah-Masalah Prinsipal Kosmologis

Ketika manusia berniat memecahkan berbagai persoalan fundamental kosmologis dan mengenal ushûluddin yang benar, pertanyaan yang pertama kali mencuat ialah apakah jalan pemecahan masalah-masalah ini? Bagaimanakah pengetahuan-pengetahuan yang fundamental bisa diserap dengan benar? Di tengah berbagai metode yang ada, metode manakah yang valid untuk memperoleh pengatahuan-pengetahuan ini? Semua pertanyaan ini dibahas secara rinci dalam epistemologi, yaitu satu disiplin ilmu yang menganalisis dan mengevaluasi berbagai pengetahuan dan metode penalaran manusia dalam memperoleh pengetahuan.  Kita di sini akan membicarakan masalah ini sekadarnya.

Berbagai Jenis Pengetahuan

Dari satu aspek tertentu pengetahuan-pengetahuan manusia bisa diklasifikasikan ke dalam empat kategori: Pertama, pengetahuan empiris. Pengetahuan ini diperoleh manusia dengan mengandalkan organ-organ inderawi, kendati akal juga berperan dalam eksepsi dan generalisasi pengetahuan-pengetahuan empiris.  Pengetahuan empiris difungsikan dalam ilmu-ilmu empiris semisal kimia, fisika, dan biologi.

Kedua, pengetahuan rasional.  Pengetahuan ini dibentuk oleh konsepsi-konsepsi yang diserap oleh akal pikiran. Dalam pengetahuan ini peranan akal sangat fundamental kendati adakalanya persepsi-persepsi empiris masih digunakan sebagai sumber serapan konsepsi atau digunakan sebagai bagian dari premis dalam silogisme. Ruang gerak pengetahuan ini meliputi ilmu logika, ilmu filsafat, dan ilmu matematika.

Ketiga,  pengetahuan yang diterima begitu saja (ta'abbudî).  Pengetahuan ini memiliki aspek sekunder dengan pengertian bahwa ilmu ini didapat berdasarkan pengetahuan-pengetahuan sebelumnya yang sudah dibuktikan sebagai sumber yang valid dan punya otoritas. Dengan kata lain, pengetahuan ini diperoleh dari berita yang disampaikan oleh pembawa kabar yang terbukti bisa dipercaya (tsiqah). Contoh kongkritnya adalah pengetahuan yang diperoleh para penganut agama dari pemuka agamanya.  Pengetahuan ini adakalanya membentuk keyakinan yang jauh lebih kuat daripada keyakinan-keyakinan yang diperolehnya dari pengalaman-pengalaman empiris.

Keempat, pengetahuan intuitif (syuhûdî).  Tak seperti  tiga kategori pengetahuan di atas, pengetahuan ini bersentuhan langsung dengan obyeknya tanpa perantara gambaran subyetif.  Karena itu, ilmu atau pengetahuan ini tidak mungkin salah. Namun demikian, biasanya apa yang diklaim sebagai ilmu syuhûdî atau ‘irfani pada hakikatnya adalah interpretasi subyektif dari sesuatu yang telah disaksikan.  Interpretasi inilah yang bisa salah. 

Berbagai Jenis Kosmologi

Berdasarkan klasifikasi di atas, kosmologi bisa dibagi dalam empat bagian sebagai berikut: Pertama, kosmologi ilmiah. Maksudnya ialah manusia membangun kosmologi universalnya mengenai alam semesta berdasarkan hasil-hasil ilmu pengetahuan empiris. Kedua, kosmologi filosofis yang dicapai melalui proses argumentasi-argumentasi rasional. Ketiga, kosmologi yang diperoleh melalui keimanan kepada para pemimpin agama sehingga semua kata-kata mereka diyakini sebagai kebenaran. Keempat, kosmologi ‘irfani yang diperoleh melalui jalur intuisi atau mukâsyafah, syuhûd, dan isyrâq.  Pertanyaannya sekarang ialah apakah semua masalah fundamental kosmologis bisa dipecahkan secara seimbang melalui semua bagian kosmologi di atas?  Ataukah ada satu di antaranya yang harus diprioritaskan atas yang lain?

Evaluasi dan Tinjauan Kritis

Seperti diketahui, ruang gerak pengetahuan empiris hanya terbatas pada fenomena-fenomena alam materi. Maka dari itu, hasil-hasil ilmu empiris tidak bisa mengenal fondasi-fondasi kosmologi dan menyelesaikan masalah-masalah kosmologis yang letaknya berada di luar peta ilmu pengetahuan empiris.  Ilmu empiris tidak bisa mengisbatkan atau menafikannya. Hasil-hasil riset di laboratorium, misalnya, tidak akan bisa mengkonfirmasikan atau menolak keberadaan Tuhan.  Ini tak lain karena pengalaman empiris sama sekali tidak akan bisa menjangkau alam in-materi, dan oleh sebab itu pengalaman ini jelas tidak akan bisa mengisbatkan atau menafikan sesuatu yang berada di luar zona alam materi. Dengan demikian, kosmologi empiris lebih menyerupai fatamorgana.  Karenanya, kata-kata ‘kosmologi’ dalam pengertian yang sebenarnya tidak bisa diterapkan pada pandangan-pandangan universal empiris.  Kita hanya bisa menyebutnya sebagai  Ilmu Pengetahuan Alam Materi.  Jadi, ilmu ini tidak akan bisa menjawab berbagai persoalan prinsipal menyangkut kosmologi.

Pengetahuan-pengetahuan  ta’abbudî juga demikian.  Sebagaimana yang dijelaskan tadi, pengetahuan ta’abbudî bersifat sekunder dalam pengertian bahwa pengetahuan ini bisa diyakini setelah sumbernya bisa dibuktikan valid sebelumnya.  Jadi, sebelumnya harus bisa dibuktikan kenabian seseorang yang menjadi nara sumber pengetahuan itu. Sebelum ini pun harus pula dibuktikan keberadaan Tuhan, Zat yang mengutus nabi untuk membawa kabar (baca: pengetahuan).  Dan keberadaan Pengutus nabi serta kenabian orang yang diutus-Nya jelas tidak bisa dibuktikan dengan pesan (baca: pengetahuan) yang dibawa oleh nabi.  Misalnya, keberadaan Tuhan tidak bisa kita buktikan dengan pernyataan Al Qur'an “Tuhan itu ada”. Dengan demikian, metode ta’abbudî juga tidak bisa menyelesaikan masalah-masalah prinsipal kosmologis.

Adapun berkenaan dengan motode ‘irfani, syuhûdî, intuitif, atau yang juga disebut mistis kita perlu memberikan penjelasan secara agak detail melalui beberapa poin sbb: Pertama,  kosmologi adalah pengetahuan yang terdiri dari konsepsi-konsepsi subyektif (mafâhim dzihniyah), sementara dalam intuisi sama sekali tidak ada mafâhim dzihniyahKedua, untuk menjelaskan dan menginterpretasi apa yang diketahui seseorang dengan jalan intuisi sangatlah memerlukan kepiawaian yang besar dalam berpikir, dan ini tidak akan bisa dicapai kecuali dengan latar belakang jerih payah berpikir dan analisis-analisis filosofis yang panjang. Jika tidak, maka seseorang yang mengalami intuisi akan terjebak pada penggunaan kata-kata yang ambigu sehingga bisa menjadi penyebab timbulnya kesesatan dan penyelewenangan.

Ketiga, dalam banyak kasus, hakikat yang diketahui seseorang melalui intuisi bisa mengundang kebingungan bagi orang ini sendiri manakala dia mencoba memberikan refleksi dan interpretasi subyektif.  Keempat, diketahuinya hakikat-hakikat yang setelah diinterpretasikan oleh pikiran bisa kita sebut kosmologi bergantung kepada proses penempuhan jalan suluk, sedangkan penerimaan metode suluk ini sendiri juga memerlukan teori-teori dasar dan masalah-masalah prinsipal dalam kosmologi. Jadi, masalah-masalah ini harus terpecahkan terlebih dahulu sebelum dimulai perjalanan suluk, sedangkan pengetahuan-pengetahuan intiusi berada pada tahap yang paling akhir. Suluk, ‘irfan, atau yang disebut tasawuf hanya akan bisa dialami oleh seseorang jika dia benar-benar ikhlas berusaha menempuh jalan Allah SWT,  dan usaha ini hanya bisa ditempuh oleh yang orang yang memiliki pengetahuan sebelumnya tentang Allah dan jalan pengabdian kepada-Nya.

Kesimpulan

Setelah semua metode di atas terbukti tidak bisa difungsikan dalam penyelesaian masalah-masalah prinsipal kosmologis, maka tinggallah satu jalan yang bisa dijadikan alternatif, dan itu ialah jalan penalaran rasional. Dengan begitu, maka kosmologi yang yang valid dan realistis ialah kosmologi filosofis. Sungguhpun demikian, ini bukan berarti bahwa untuk menemukan kosmologi  yang benar semua persoalan-persoalan filosofis harus bisa dipecahkan. Sebaliknya, pemecahan beberapa persoalan filosofis yang sederhana dan mendekati aksiomatis sudah cukup untuk membuktikan keberadaan Tuhan yang merupakan masalah yang paling fundamental dalam kosmologi. Selain itu, menjadikan metode penalaran rasional (ta’aqqul) sebagai satu-satunya alternatif  bukan berarti bahwa  metode-metode lain tidak bisa dimanfaatkan untuk menyelesaikan masalah-masalah kosmologis, karena banyak sekali argumentasi-argumentasi rasional yang bisa dikemukakan melalui premis-premis yang didapat dari ilmu-ilmu empiris dan sebagainya.

*Disadur  dari buku Amûzesh-e Aqâid yang ditulis  Ayatullah Misbah Yazdi untuk para pemula pelajar akidah.

Quote: “Tersebutlah di kota Madinah, seorang bernama Ja’d bin Dirham, seorang ekstrim ateis, pembuat bid’ah yang mendedikasikan hidupnya dalam zandaqah (gerakan atheisme) serta memdengungkan ajaran dan doktrin ateis radikal (tidak meyakini adanya Tuhan). Dia menunjukkan kedangkalan akalnya secara demonstratif, seperti memasukkan tanah dan air dalam sebuah botol, kemudian beberapa saat terdapat cacing dalam botol yang semula diisi dengan tanah dan air tersebut. Kemudian dia berkata kepada para sahabatnya “Aku telah menciptakannya, karena aku adalah sebab keberadaannya”. Imam Ja’far as Shadiq mendengar berita ini dan mengutus seorang muslim untuk membantahnya dengan bukti rasional, beliau berkata, “Katakan kepadanya (kepada Ja’d), jika dia (Ja’d) yang menciptakannya maka tanyakan kepadanya berapa jumlahnya? Berapa yang jantan dan yang betina? Berapa beratnya masing-masing? Mintalah kepadanya untuk mengubahnya menjadi bentuk yang lain!”. Mendengar perkataan Imam Ja’far as Shadiq melalui utusannya itu, sang pendiri zandaqah tersebut pun mengakui keunggulan argumen Imam Ja’far as Shadiq.”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar