Minggu, 24 Agustus 2014

Mukjizat Itu Bernama Revolusi



(Foto: Iran Setelah Revolusi Islam 1979) 
 (Foto: Iran Sebelum Revolusi Islam 1979)

Oleh Behrouz Kamalvandi, Duta Besar Republik Islam Iran untuk Republik Indonesia

Beberapa kalangan telah mengenal dan mengetahui banyak perihal visi dan misi serta apa yang telah dicapai Revolusi Islam Iran. Di antara semua pandangan itu, pemaknaan Revolusi sebagai mukjizat Allah Swt akan membuka banyak cakrawala berpikir kita dan juga menguak sisi-sisi lain yang belum terungkap sebelumnya. Kita semua tahu apa definisi dan maksud dari kata mukjizat, yaitu karunia Allah Swt kepada Nabi dan Rasul-Nya sebagai bukti kebenaran yang tidak bisa dilakukan oleh orang lain. Ada “Invisible hand,” yaitu Allah sendiri, di dalam setiap tindakan material seorang nabi dan rasul. Dalam kehidupan sehari-hari, kita sebagai manusia biasa mungkin juga pernah menyaksikan “tangan-tangan lain” yang bekerja di luar jangkauan tangan material kita meskipun mungkin tidak memberikan perhatian serius kepadanya atau mengabaikannya begitu saja.

Bila kita mau jujur, cukuplah bagi Allah untuk memberikan satu mukjizat melalui tangan seorang nabi dan rasul sebagai “syarat cukup” bagi semua orang untuk meyakininya. Namun karena tingkat keimanan manusia berbeda-beda, maka Allah memberikan berbagai mukjizat kepada seorang nabi. Bagaimanapun, walaupun banyak mukjizat telah ditunjukkan-Nya, masih saja ada segelintir manusia yang menolak kenabian. Kalau mau menelaah dan memperhatikan segala kondisi yang terjadi sebelum Revolusi Islam, baik di Iran atau pun di luar Iran, pasti kita akan memprediksi bahwa revolusi mustahil terjadi. Saat itu tidak ada orang yang mampu melakukan sebuah gerakan pembebasan karena ada kekuatan besar yang kukunya mencengkeram semua aspek kehidupan masyarakat Iran.

Mereka yang menelaah dan meneliti konstelasi geopolitik pada masa itu akan mengakui dominasi dan pertarungan di antara dua kutub besar: komunisme dan kapitalisme. Kita tidak mungkin melakukan suatu perubahan kecuali berlindung kepada salah satu dari dua kekuasaan tersebut. Namun di sinilah letak kemukjizatannya. Revolusi Islam Iran dilahirkan oleh masyarakat yang tidak memiliki senjata. Mereka melawan sistem zalim nan digdaya dengan tangan kosong. Mereka juga tidak memiliki landasan ekonomi-sosial-politik yang kuat. Namun kenyataannya, mereka berhasil menghancurkan hegemoni dan menggulingkan tirani Raja terakhir di Dinasti Pahlevi. Inilah mukjizat yang pertama.

Mukjizat kedua terjadi pasca-Revolusi. Tidak ada satu pun analis sekuler yang percaya bahwa revolusi ini bisa berumur panjang dan terus bertahan hingga detik ini. Tidak perlu saya menyampaikan analisis politik yang panjang lebar. Cukuplah saya memberikan satu contoh bahwa saat Republik Islam ini baru lahir, ia telah dipaksa berperang selama 8 tahun oleh Iraq yang didukung negara-negara besar Dunia (yang salah-satu komandonya adalah Amerika). Tidak cukup di situ, penyerangan dan embargo Amerika dengan berbagai dalih, termasuk pembekuan aset Iran di Amerika Serikat. Namun, Iran tidak goyah. Kita pun menyaksikan mukjizat kedua dari Allah Swt.

Dalam semua bidang, Iran mendapatkan semua kemajuan setelah revolusi yang tidak bisa saya sebutkan secara terperinci dalam kesempatan ini, baik di bidang pertanian, industri, maupun energi. Pasca-Revolusi, ilmu pengetahuan berkembang pesat. Iran berada di urutan teratas di Timur Tengah, dan urutan ketujuh atau kesepuluh di Dunia, untuk tujuh bidang ilmu pengetahuan besar di dunia, di antaranya yaitu fisika, kimia, biologi, dan matematika. Pengembangan dan pembangunan infrastruktur terjadi di setiap sektor, baik jalan, perairan, maupun pembangkit tenaga listrik. Dalam kebudayaan, produksi film Iran adalah edukatif dan humanis, jauh dari kesan terorisme. Tentu saja tidak ketinggalan kemajuan teknologi nuklir.

Tawakkal

Bisa disimpulkan dalam satu kalimat pendek bahwa yang menjadi dasar dan penyebab kemenangan Revolusi Islam Iran tiada lain adalah tawakkal kepada Allah Swt. Walaupun kita tahu bahwa sosok Imam Khomeini r.a menduduki peran yang sangat penting dalam revolusi ini, tetap saja apa yang beliau lakukan adalah dalam rangka menguatkan tawakkal masyarakat Iran kepada Allah Swt. Imam Khomeini bisa memimpin masyarakat di tengah samudera yang luas dan dihadang berbagai badai serta ombak yang begitu besar karena tawakkal kepada Allah Swt. Selain itu, beliau berhasil menghidupkan kembali nilai-nilai spiritual Islam, seperti nilai dan makna syahadah. Kita dapat menyaksikan efek positif terhadap berbagai belahan Dunia dari apa yang telah beliau lakukan, misalnya pembelaan terhadap rakyat Palestina atau kaum tertindas di tempat-tempat lain.

Poin lain yang beliau tanamkan dan hidupkan di dalam diri kami adalah kepercayaan terhadap kemampuan diri sendiri. Ini juga berasal dari tawakkal kepada Allah Swt. Setiap orang yang memiliki kepercayaan diri pasti mampu melakukan perubahan karena bertawakkal kepada Allah Swt. Peran masyarakat juga besar karena mereka mengikuti apa yang telah dititahkan oleh pemimpin mereka. Mengapa bisa demikian? Karena tujuan, visi dan misi Imam Khomeini adalah misi Ilahiah, misi ketuhanan. Segala aktivitas dan segala apa yang beliau perintahkan bersumber dari apa yang Allah Swt ajarkan kepada kita. Sebaliknya, ketika kita mengalami keputusasaan, rendah diri, dan merasa tidak mampu, maka di situlah keimanan kita lemah dan jauh dari nilai-nilai kebaikan, nilai-nilai Allah Swt. Dalam sebuah hadis Qudsi disampaikan bahwa apabila beriman, taat, dan bertakwa kepada-Nya, maka kita akan menjadi “seperti-Nya”. Tangan kita akan menjadi seperti “tangan-Nya,” kaki kita akan menjadi seperti “kaki-Nya”, dan apa yang kita lakukan akan sesuai dengan kehendak-Nya.

Imam Khomeini telah mencapai derajat seperti itu, derajat takwa yang menyebabkan beliau bisa melakukan berbagai hal yang tidak bisa dilakukan oleh orang biasa karena di situ ada tangan-tangan Tuhan yang juga ikut membantunya. Karena itulah, kita menyaksikan bahwa setiap ucapan yang muncul dari mulut Imam Khomeini akan memberi efek dan pengaruh terhadap mereka yang menyimaknya. Kemenangan Revolusi Islam Iran harus dilihat dari kelanjutan berbagai konfrontasi, konflik antara hak dan batil sepanjang sejarah, kelanjutan dari Karbala yang ada di setiap masa. Karena kita menyaksikan bahwa yang berkuasa di dunia sekarang ini adalah kekuasaan yang tidak benar dan membawa nilai-nilai kebatilan, maka konfrontasi dan konflik antara hak dan batil ini juga akan terus berlanjut.

Namun, janganlah dibayangkan bahwa kita akan menyelesaikan masalah dunia ini langsung pada hal yang global tanpa dimulai dari dalam diri kita sendiri. Kalau kita berhasil menundukkan hawa-nafsu kita, atau menang atas kebatilan di dalam diri kita, barulah kita akan berhasil untuk menyelesaikan problem dan pertentangan antara hak dan batil di luar diri kita. Begitu pula problem perpecahan yang terjadi di tengah masyarakat harus menjadi fokus kita. Apa yang kita saksikan sesungguhnya tidak lepas dari hegemoni sebagian kelompok yang ingin menancapkan kukunya pada semua sendi kehidupan global.

Inti kemenangan Revolusi adalah iman dan takwa kepada Allah Swt. Kalau kemajuan di Iran hanya diukur dari kemajuan material, maka Barat justru lebih maju daripada Iran, dan kita akan kembali jatuh dalam keputusasaan. Kita merasa bahwa kita masih kecil dan tidak punya apa-apa. Kita harus melihat segala kemajuan ini dari sisi mukjizat Allah Swt. Apa yang kami dapatkan sekarang ini dengan berbagai latar-belakang yang kami miliki, juga dengan berbagai kondisi dunia yang ada pada saat ini, adalah mukjizat dan tangan-tangan Allah yang selalu membantu kami. Di situlah kita akan merasa bahwa diri kita mampu dan memiliki kepercayaan diri.

Nuklir

Masalah “besar” yang selalu digembar-gemborkan kekuatan-kekuatan adidaya adalah nuklir Iran. Padahal masalahnya sangat sederhana, yaitu sebuah bangsa yang dengan tangan kosong dan diboikot serta diembargo dari berbagai penjuru dunia masih bisa mencapai kemajuan dalam teknologi nuklir. Kemajuan teknologi Iran bukan terbatas pada nuklir. Salah satunya, kami juga berhasil menguasai apa yang disebut dengan teknologi “Air Berat” (Heavy Water). Iran merupakan salah satu dari lima negara di dunia yang berhasil mengembangkan tekhnologi Air Berat. Air Berat, jika dilihat dengan mata telanjang, nyaris sama dengan air-air yang lain. Allah Swt menciptakan di dalam air apa yang disebut dengan Deuterium. Dari situlah, Allah menyatakan di dalam Al-Quran bahwa, “Kami menciptakan segala sesuatu yang hidup itu dari air”. Mereka yang sedang belajar di fakultas kimia atau fisika tentu lebih layak untuk meneliti hal ini.

Kalau air itu dibagi menjadi satu juta (molekul), maka 120 atau 170 darinya mengandung apa yang disebut dengan Deuterium tadi; 120 per 1 juta. Kalau 120 itu berhasil dinaikkan, atau dilipatgandakan hingga lima kalinya, maka Deuterium itu akan berfungsi untuk mempengaruhi gerakan-gerakan molekul-molekul di dalam diri kita yang akan menyebabkan ketuaan. Dan kalau terus dikayakan, digandakan, dan diperkuat, maka ia akan menjadi obat yang paling ampuh bagi kanker. Hampir 95% kanker yang ada di dunia ini dapat diobati dengan tekhnologi ini. Kalau terus dikayakan, maka ia akan menjadi pengganti minyak pelumas, pendingin mesin-mesin. Kalau berhasil mengayakannya sampai sempurna, maka kita tidak membutuhkan lagi uranium, atau tidak membutuhkan lagi nuklir.

Saya berani memastikan bahwa pencapaian teknologi ini di sebuah negara seperti di Iran adalah suatu mukjizat yang besar. Karena tidak ingin berita ini tersebar, bahwa Iran berhasil mengembangkan teknologi Air Berat, Barat kemudian menutupi hal ini dan mengangkat isu lain, yaitu bahwa nuklir Iran akan membuat senjata pembunuh massal dan akan berbahaya bagi Dunia. Itulah mukjizat yang mereka tutupi. Berkenaan dengan nuklir, isu terakhir yang bisa saya sampaikan adalah bahwa segala upaya diplomasi dan legal sudah kami lakukan, dan sekarang kita sedang melalui jalan bebas hambatan untuk menuju kepada kesuksesan. Beberapa hari yang lalu, Iran berhasil meluncurkan satelit dan alih-alih mengucapkan selamat atas prestasi itu, mereka malah mengatakan hal ini bertujuan militer demi untuk invasi dan sejenisnya.

Telah saya sampaikan bahwa masalah diplomatik (terkait program nuklir Iran) sudah final walaupun masih ada kemungkinan DK PBB, misalnya, karena tekanan-tekanan akan menjatuhkan sangksi terhadap Iran. Namun saya, sebagai orang yang sudah berkecimpung dalam dunia politik selama tiga puluh tahun, bisa memastikan bahwa sanksi itu tidak memberi dampak apa pun. Poin terakhir yang ingin saya sampaikan adalah yakinilah janji Allah Swt akan terlaksana. Janji Allah akan terealisasi, yakni bahwa Allah Swt akan memenangkan hak di atas kebatilan dan Allah-lah, yang disebutkan dalam surah Al-Ikhlas sebagai Allahusshamad, Zat Yang menutupi kebatilan. Kebatilan merupakan kekosongan dan Kebenaran Allah itulah yang kemudian akan menutupi segala kekosongan, dan Allah Swt pasti akan merealisasikan janji-Nya.

Sumber: Majalah SYI’AR Edisi Maulid 1429 H, hal. 73-78. 


(Foto: Iran Setelah Revolusi Islam 1979) 

(Foto: Iran Sebelum Revolusi Islam 1979)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar