Minggu, 30 Maret 2014

Biografi Mini Imam Ali bin Musa ar Ridho As




Mungkin Anda tidak begitu tahu seberapa dekat Anda mengenal Madinah. Akan tetapi Imam Ridha as. mengenalnya dengan sangat baik. Di kota itulah beliau dilahirkan. Mereka tidak sedemikian ingat hari, bulan dan tahun kelahiran beliau, atau boleh jadi mereka itu benar-benar tahu namun tidak mengakuinya—mungkin karena sejarah sama sekali bukanlah pemegang amanat yang terpercaya. Mereka mencatat kelahiran beliau, yaitu pada kisaran tahun 148, 151 dan 153 H, hari Jumat 19 dari bulan Ramadhan, atau pertengahan bulan Ramadhan, atau hari Jumat dari bulan Rajab, atau 11 Dzilqa’dah. Namun yang paling sahih dari semua itu adalah tahun 148 H, yakni tahun wafatnya Imam Ja’far Al-Shadiq as. Ini sesuai dengan catatan sejumlah ulama besar seperti: Syaikh Mufid, Kulaini, Kaf’ami, Syahid Tsani, Tabarsi, Shaduq, Ibnu Zuhrah, Mas’udi, Abul Fida’, Ibnu Atsir, Ibnu Hajar, Ibnu Jauzi, dan nama-nama besar lainnya.

Gelar dan panggilan kehormatan Imam Ridha as. pun selaksa nama-nama cemerlang yang selalu melekat kuat dalam memori sejarah. Nama kehormatannya adalah Abul Hasan (bagi kalangan khusus), dan di antara gelar beliau adalah Shabir, Zaki, Wali, Fadhil, Wafiy, Shiddiq, Radhi, Sirajullah, Nurul Huda, Quratu Ainul Mu’minin, Kalidatul Mulhidin, Kufwul Mulk, Kafiyul Khalq, Rabbul Sarir, Ri’abul Tadbir, sementara Ridha merupakan gelar yang paling populer yang dengan nama ini kita masih senantiasa mengenal beliau selama ini. Barangkali Anda ingin mengetahui mengapa gelar ini melekat pada pribadi agung beliau, demikian ini penjelasannya:

“Beliau dikenal dengan nama Ridha karena disenangi di langit dan menjadi kebahagian Allah swt., para nabi dan para imam setelah beliau. Sebagian orang juga mengatakan bahwa beliau dinamai Ridha lantaran semua orang, entah kawan ataupun lawan, senang pada beliau. Pendapat lain menyebutkan bahwa orang-orang memanggil beliau dengan nama itu karena Khalifah Ma’mun senang padanya.”

Tatkala Anda menyimak gelar, panggilan kehormatan dan nama-nama ibunda Imam Ridha as., dapat dirasakan ada sesuatu di dalamnya yang mirip dengan apa yang terdapat dalam gelar-gelar dan nama-nama Imam as. seperti: Ummul Banin, Najmah, Sakan, Taktam, Khizran, Thahirah, dan Syaqra.

Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa Imam Ridha as. memiliki lima putra dan seorang putri. Akan tetapi, sebagaimana dikemukakan oleh Allamah Majlisi, “Para ulama menyebutkan Jawad sebagai satu-satunya anak laki-laki beliau.” Ini adalah nama yang sudah akrab bagi kita.

Adapun tahun wafat Imam Ridha as., catatan sejarah lagi-lagi tidak memberikan kontribusinya secara utuh kepada kita, dimana membuka kemungkinan tahun wafat beliau berkisar antara 202, 203 dan 206 H. Namun demikian, kebanyakan ulama meyakini tahun 203 sebagai tahun wafat beliau. Atas dasar ini, usia Imam Ridha as. adalah 55 tahun; beliau menghabiskan 35 tahun bersama saying ayah dan menempuh 20 tahun sisanya untuk mengemban tugas imamah memimpin kaum Syi’ah.

Awal imamah Imam Ridha as. bertepatan selama sepuluh tahun dengan periode terakhir kekhalifahan Harun dari dinasti Abbasiyah. Lima tahun kemudian, imamah beliau semasa dengan era kekhalifahan Amin. Dan akhirnya imamah beliau juga sempat mengalami masa kekhalifahan Ma’mun selama lima tahun, yakni tahun-tahun keberhasilannya menguasai negeri Islam pada masa itu. Ma’mun tak lain adalah orang yang membunuh Imam Ridha as. dengan tipu muslihat dan racun. Para pecinta beliau menguburkan jasad suci beliau di kota Thus, tepat di bagian kiblat dari kubah Harun di rumah Hamid bin Qahtabah Al-Tha’i. Dan kini pusara beliau menjadi pusat ziarah para pecinta.

Di Madinah

Periode imamah Imam Ridha as. di Madinah bermulai pada tahun 183 H. Pemerintahan pada masa itu berada di tangan Harun Al-Rasyid dan terpusat di kota Baghdad. Tak beda dengan kaum tiran, sejarah mencatat bagaimana Harun memerintah dengan tangan dingin, penyiksaan, penjara, dan terror; dia menyiksa warga hanya untuk menarik pajak dan menderitakan kaum anak dan pengikut Syiah. Sebelumnya Harus telah memenjarakan ayah beliau, Imam Musa bin Ja’far, di penjara-penjara Bashrah dan Baghdad, sampai akhirnya dia membunuh beliau dengan racun. Demikian masa-masa yang menyaksikan kesyahidan sayang ayah dan bencana-bencana sosial yang menimpa pengikut Syiah.

Pada masa hidup Imam Ridha as., Harun Al-Rasyid sedemikian kuatir terhadap pengaruh Ahlul Bait as. di tengah masyarakat sehingga, di samping tersebut di atas tadi, dia juga mengimpor perbagai pemikiran dan ide-ide orang asing ke dalam keilmuan kaum Muslimin. Harun melakukan demikian dengan maksud agar masyarakat lebih terfokus pada ilmu dan pemikiran asing tersebut.

Abu Bakar Kharazmi (w. 383 H) dalam sepucuk suratnya kepada warga Naisyabur mengenai tingkah pemerintahan dinasti Abbasiyah, khususnya perilaku Harun, menuliskan, “Harun meninggal dunia setelah menumbangkan pohon kenabian dan mencerabut akar imamah … karena salah satu imam pembawa panji hidayah dan pemimpin dari keluarga suci Nabi saw. wafat, tidak seorang pun yang mengiringi jenazahnya dan dibiarkan makamnya tanpa polesan. Akan tetapi ketika badut atau pelayan atau penyanyi atau algojonya meninggal dunia, para hakim mengadiri jenazahnya dan para elite penguasa memadati majelis duka citanya. Kaum materialis dan skeptis menikmati keamanan yang mamadai di negeri Muslimin. Para penguasa itu tidak mempersoalkan orang-orang yang mengajarkan buku-buku filsafat, akan tetapi setiap orang Syiah justru tewas dibunuh, dan siapa saja yang member nama Ali untuk bayinya, mereka akan menumpahkan darahnya.”

Berangkat dari fakta-fakta ini dan kondisi sebegitu rupa, Imam Ridha as. Menimbang akan lebih tepat bila tidak terbuka akan imamahnya; beliau hanya berhubungan dengan segelintir dari pengikut setia beliau. Akan tetapi beberapa tahun kemudian, pemerintahan Harun Al-Rasyid melemah dengan bangkitnya serangkaian pemberontakan, maka Imam Ridha as. Mulai menampakkan imamahnya di tengah khalayak dan aktif menangani persoalan masyarakat dalam berbagai bidang kepercayaan dan sosial.

Beliau sendiri mengungkapkan, “Aku duduk di halaman makam kakekku, Rasulullah saw., sementara ada banyak orang-orang pandai di Madinah. Setiap kali salah satu dari mereka bingung cara memecahkan masalah, semua mencariku dan mengirimkan pertanyaan-pertanyaan kepadaku. Maka aku pun menjawab satu per satu.”

Pada akhirnya, usia Harun pun berakhir sudah. Tatkala pada tahun 193 H dia bertolak menuju Khurasan untuk meredam gejolak pemberontakan, dia meninggal dunia di sana dan dikuburkan di kota Thus, di salah satu kamar bawah tanah istana gubernur, Hamid bin Qahtabah Al-Tha’i.

Lalu tibalah giliran anak-anak Harun, yaitu Amin dan Ma’mun, bertikai satu sama lain dalam perebutan kekuasaan. Maka Amin mengendalikan wilayah kekuasaan di Baghdad, sementara Ma’mun menduduki takhta dinasti di Maru. Pertikaian di antara dua anak Harun ini berlangsung selama lima tahun hingga akhirnya pasukan Ma’mun menyerang Baghdad. Dalam serangan di tahun 198 H ini, Ma’mun membunuh Amin dan dengan begitu dia memegang kekuasaan sepenuhnya. Namun demikian, keluarga Alawi dan keturunan Imam Ali as. Tidak membiarkan Ma’mun bernafas lega. Mereka sudah sukup menderita; berawal dari penindasan Harun, lalu kekecewaan terhadap anak-anaknya, dan kini kejahatan Ma’mun. Maka mereka melakukan pemberontakan di sejumlah wilayah Irak, Hijaz dan Yaman. Mereka hanya mengangkat satu tuntutan: kekuasaan diserahkan kembali ke keluarga Nabi Muhammad saw. Dengan kecerdikannya, Ma’mun mengundang Imam Ridha as. ke Khurasan. Selalunya pertanyaan yang muncul acapkali melintasi penggalan sejarah ini adalah “Apa gerangan?”, apa tujuan Ma’mun? Ya, dia ingin menempatkan Imam Ridha as. di sisinya agar menjadi alat pembenaran atas politik dan pemerintahannya. Namun beliau menolak undangan tersebut hingga akhirnya Ma’mun pengundang beliau dengan ancaman serius.

Dokumen-dokumen sejarah tidak menerangkan secara rinci faktor-faktor keberangkatan Imam Ridha dan masih banyak detail kondisi-kondisi yang mengawali hijrah beliau yang belum terbongkar. Akan tetapi dengan menelaah catatan sejarah yang tersisa, dapat dipastikan bahwa hijrah beliau terjadi sebelum terjalinnya surat-menyurat antara Maru dan Madinah, dan beliau hijrah ke Maru atas dasar ancaman dan paksaan Ma’mun.

Selain melayangkan surat-surat undangan, Ma’mun juga mengutus dua ajudannya, Raja’ bin Abi Dhahhak dan Yasir Khadim, ke Madinah. Setibanya di Madinah, mereka menceritakan tugasnya kepada Imam Ridha as. Demikian, “Sesungguhnya Ma’mun telah menginstruksikan kami untuk membawamu ke Khurasan.”

Imam Ridha as. sangat memahami tipu muslihat Ma’mun. beliau tidak lupa akan sekian lamanya ayah beliau dipenjarakan dengan berbagai siksaan dan derita. Beliau juga tahu bagaimana Ma’mun telah membunuh saudara kandungnya sendiri dan kini dia dirundung kecemasan dan kekuairan akan keberadaan beliau di tengah masyarakat.

Dengan kesadaran inilah Imam Ridha as. memulai hijrahnya, sebuah perjalanan yang tak dikehendaki, dengan berat hati meninggalkan Madinah, berpisah jauh dari makam suci Rasulullah saw. dan masyarakat yang amat mencintainya dan memandangnya tak ubahnya ayah penyayang. Sesungguhnya beliau tidak perlu menempuh perjalanan geografis, karena dia berjalan dalam wilayah hati dan cinta.

Ya, Imam Ridha as. memulai perjalanan dengan terpaksa dan tahu benar apa yang akan diperbuat Ma’mun terhadap beliau.

Dari Madinah ke Maru

Bagi Imam Ridha as., berpisah dari Madinah terasa begitu berat. Bahkan kalaupun Anda sekali saja bepergian ke suatu negeri asing, Anda akan memahami suasana batin demikian itu, seperti juga Nabi Yusuf as. berangkat dalam keterasingan menuju Mesir yang ingar binger engan kekayaan dan kemegahan, namun hatinya tetap tertambat bersama tanah airnya, Kan’an.

Imam Ridha as. meninggalkan masjid Nabi saw. dengan pengetahuan sepenuhnya bahwa tidak ada lagi jalan kembali di belakang beliau. Syaikh Shaduq dalam ‘Uyun Akhbar Al-Ridha as. menukil riwayat dengan sanadnya dari Muhawwal Bajastani bahwa setelah Imam Ridha as. berpamitan dengan Rasulullah saw., acapkali berbalik menghadapkan diri ke arah makam suci Nabi saw., suara tangisan beliau semakin terdengar keras. Aku menghampiri Imam as. dan menyelamati beliau. Imam as. berkata, “Tinggalkan aku! Aku sedang berpisah kian jauh dari Rasulullah saw. dan aku akan meninggal dunia dalam keterasingan.” 


Selasa, 25 Maret 2014

Warisan Literer dan Intelektual Imam Ali bin Abi Thalib As


Pertama yang dilakukan setelah Rasulullah saw meninggal dunia adalah -sesuai wasiat Nabi sendiri- mengumpulkan Al-Quran. Pengumpulan yang dilakukan oleh Imam Ali bin Abi Thalib memiliki beberapa kelebihan dibandingkan dengan pengumpulan yang dilakukan nantinya oleh orang-orang seperti Usman bin Affan. Kelebihan itu lebih dikarenakan penertibannya sesuai dengan waktu turunnya dan disertai dengan sebab-sebab turunnya ayat, tafsir dan ta'wil yang dibutuhkan oleh umat Muhammad saw. Imam Ali bin Abi Thalib pernah mengajukannya kepada khalifah pertama Abu Bakar namun jawaban yang diterima demikian, 'Kami tidak membutuhkan ini'. Imam Ali bin Abi Thalib kemudian memberikan isyarat bahwa setelah ini mereka tidak akan mendapatkannya lagi. Dan memang demikian. Al-Quran yang dikumpulkan oleh Imam Ali bin Abi Thalib kemudian diwariskan kepada Imam setelahnya dari anak-anaknya.

Disebutkan juga bahwa Imam Ali bin Abi Thalib memiliki beberapa karya lain yang disebut dengan Shahifah yang memuat hukum-hukum tentang diyat (ganjaran bagi pelanggar). Bukhari, Muslim dan Ibnu Hanbal meriwayatkan tentang adanya Shahifah ini. Ada juga kita yang dinisbatkan kepada Imam Ali bin Abi Thalib yang disebut Al-Jamiah. Buku ini memuat semua hal yang dibutuhkan oleh manusia yang terkait dengan masalah halal dan haram. Imam Shadiq AS. menjelaskan keberadaan buku ini dan menyebutkan bahwa panjangnya tujuh puluh jengkal. Ditambahkan juga bahwa semua masalah disebutkan di dalamnya bahkan sampai pada hal-hal yang remeh sekalipun.

Buku Al-Jifr yang disebut-sebut juga sebagai milik Imam Ali bin Abi Thalib memuat hal-hal yang berhubungan dengan ramalan masa depan dan lembaran-lembaran para Nabi sebelumnya. Buku Al-Jifr ini hampir sama dengan mushaf Fathimah Az-Zahra AS. yang ditulis oleh Ali bin Abi Thalib dengan dikte dari Fathimah AS. setelah kematian ayahnya Muhammad Saw. Keduanya memuat pengertian-pengertian yang terilhamkan kepada mereka. Buku-buku yang telas disebutkan di atas terhitung barang-barang warisan imamah yang berpindah tangan dari satu Imam kepada Imam yang lain.

Para ulama telah berusaha keras untuk mengumpulkan warisan intelektual Imam Ali bin Abi Thalib mulai dari khotbah-khotbahnya, surat-surat hingga kalimat-kalimat hikmahnya. Kemudian dikumpulkan dalam sebuah buku yang diberi nama sesuai dengan tujuan dan para pengumpul. Buku paling pertama yang mengumpulkan semua itu dan yang paling terkenal adalah Nahjul Balaghah yang dikumpulkan oleh Syarif Ar-Radhi yang wafat pada tahun 404 H. Syarif Radhi telah mengumpulkan pemikiran-pemikiran cemerlang dari Imam Ali bin Abi Thalib dalam berbagai macam masalah dimulai dari akidah, akhlak, sistem pemerintahan dan pengaturannya, sejarah, sosial, psikologi, doa, ibadah dan berbagai macam ilmu yang terkait dengan alam. Karena tidak semua pikiran-pikiran Imam Ali bin Abi Thalib terkumpulkan oleh Syarif Radhi dalam Nahjul Balaghah membuat sebagian ulama yang lain untuk ikut mengumpulkan ide-ide Imam Ali bin Abi Thalib yang kemudian disebut dengan nama Mustadrakat Nahjul Balaghah.

Imam An-Nasa'i yang wafat pada tahun 303 H meriwayatkan hadis-hadis yang diriwayatkan oleh Imam Ali bin Abi Thalib dari Rasulullah saw yang diberi nama Musnad Imam Ali AS.

Al-Amidi, wafat pada tahun antara 520 dan 550 H, mengumpulkan kalimat-kalimat pendek Imam Ali bin Abi Thalib yang berisikan hikmah dan kebijakannya yang disebut dengan nama Ghurar Al-Hikam wa Durar Al-Kalim.

Abu Ishaq Al-Witwath yang meninggal antara tahun 553 dan 583 H mengumpulkan ucapan-ucapan Imam Ali bin Abi Thalib dalam bukunya yang disebut Matlub Kulli Thalib min Kalam Ali bin Abi Thalib. Al-Jahizh, meninggal tahun 255 H, sendiri mempunyai buku yang berkaitan dengan ucapan-ucapan Imam Ali bin Abi Thalib nama buku tersebut adalah Miah Kalimah. Sementara At-Thabarsi, penulis buku tafsir terkenal Majma' Al-Bayan, mengumpulkan ucapan-ucapan Imam Ali dalam bukunya Natsr Al-La'ali. Nashr bin Muzahim memiliki buku bernama Shiffin yang berisi kumpulan dari khotbah dan surat-surat Imam Ali bin Abi Thalib. Dan sebuah buku yang bernama As-Shahifah Al-Alawiyah memuat kumpulan doa-doa yang dinisbatkan kepada Imam Ali bin Abi Thalib.

Mengenal Nahjul Balaghah

Bila Al-Quran disebut sebagai mukjizat kenabian, maka Nahjul Balaghah sebagai mukjizat imamah. Rasionalitas yang tampak dalam metode penyampaian yang transenden dan jelas dalam setiap kalimat Nahjul Balaghah telah ditanam dan dipupuk oleh Nabi Muhammad saw yang langsung mendapat tuntunan dari wahyu Allah swt. Setiap tema yang disampaikan dalam Nahjul Balaghah dapat ditemukan cahaya Allah memancar dari depan dan hidayah Nabi menerangi jalan di depannya.

Syarif Ar-Radhi, sang penyusun Nahjul Balaghah, berkata, 'Imam Ali bin Abi Thalib adalah orang memunculkan kefasihan dalam puncaknya. Dari beliau rahasia-rahasia dan aturan-aturan kefasihan dalam bahasa Arab diambil. Setiap orator besar bakal mengambil permisalan yang dibawakan oleh Imam Ali bin Abi Thalib. Setiap mubalig selalu terbantu dengan ucapan-ucapannya. Namun pun demikian, kefasihan Imam Ali bin Abi Thalib adalah yang terdepan dan setiap usaha yang ingin dilakukan tetap tidak dapat melampaui kefasihannya bahkan selalu terbelakang. Itu semua karena ucapan Imam Ali bin Abi Thalib mendapat sentuhan ilmu ilahi dan di dalamnya tercium ucapan Nabi.

Mengenal akal, pengetahuan dan ilmu

1. Tidak ada kekayaan seperti ilmu dan kemiskinan seperti kebodohan. Akal adalah sumber kebaikan dan paling mulia potensi yang dapat memilih dan memilah. Akal adalah hiasan yang paling indah.

2. Akal adalah utusan kebenaran. Akal adalah dasar terkuat. Manusia dikenal dengan akalnya. Dengan akal segala sesuatu dapat diperbaiki.

3. Ilmu adalah penutup sementara akal bak pedang tajam yang dapat membelah. Sembunyikan kegamangan akhlakmu dengan kesabaran. Bunuh hawa nafsumu dengan akalmu. Berpikir adalah cermin yang bening.

4. Akal adalah pemilik tentara Maha Penyayang dan hawa nafsu adalah pemimpin tentara setan. Jiwa senantiasa ditarik oleh keduanya. Siapa yang berhasil menguasai maka jiwa berada dalam pengawasannya.

5. Keutamaan yang perlu dimiliki oleh seseorang adalah akal. Bila orang tersebut rendah akan menjadi mulia, bila terjatuh akan ditinggikan, bila tersesat akan ditunjuki dan bila berbicara akan di tuntun ke jalan yang lurus.

6. Sesungguhnya orang yang paling mulia di sisi Allah adalah orang yang menghidupkan akalnya, menguasai hawa nafsunya dan berusaha sekuat tenaga untuk memperbaiki akhiratnya.

7. Agama diukur sesuai dengan kemampuan akal. Seorang mukmin tidak akan beriman sehingga ia berakal. Nilai setiap orang diukur dengan akalnya.

8. Ketahuilah akal lewat beberapa hal berikut ini:

a. Akal adalah menjauhkan diri dari perbuatan dosa dan melihat kepada akibat perbuatan dan membuat orang waspada.

b. Akal adalah prinsip ilmu dan yang mengajak manusia memahami sesuatu.

c. Akal adalah potensi yang semakin bertambah dengan ilmu dan eksperimen.

d. Hati terkadang memiliki pikiran-pikiran buruk dan akal yang menahan dan melindunginya.

e. Akal yang sehat menolak penghinaan terhadap akal itu sendiri.

f. Orang yang disebut berakal adalah orang yang mampu memilih dan memilah kebaikan dari dua keburukan.

Mengenal Al-Quran dan Sunah

1. Imam Ali bin Abi Thalib AS. berkata, 'Diturunkan Al-Quran kepada kalian sebagai penjelas segala sesuatu. Allah memanjangkan umur Nabi di antara kalian sehingga Allah menyempurnakan buatnya dan buat kalian -terkait dengan ajaran yang diturunkan lewat Al-Quran- agama-Nya yang diridai-Nya.

2. Demikianlah Al-Quran. Ia tidak dapat berbicara. Oleh karenanya ajak berdialog Al-Quran. Akan tetapi aku akan mengabarkan kepada kalian tentang Al-Quran. Ketahuilah, di dalamnya ada ilmu tentang yang akan datang sebagaimana ada cerita tentang masa lalu. Al-Quran adalah obat penyakit kalian dan memperbaiki hubungan di antara kalian. Sebagian ayat Al-Quran berdialog dan berbicara dengan sebagian yang lain. Sebagian ayat Al-Quran menjadi saksi buat ayat yang lain. Al-Quran tidak berselisih tentang Allah dan tidak juga pembawa Al-Quran, Muhammad saw, menyimpang dari Allah swt. Al-Quran tidak bengkok sehingga perlu diluruskan, tidak menyimpang sehingga perlu ditegur dan dinasihati. Ia tidak diciptakan karena banyaknya penolakan dan seringnya sampai ke pendengaran. Keajaibannya tidak akan pernah sirna sebagaimana keanehan-keanehannya tidak bakal lenyap. Kegelapan tidak akan lenyap tanpa Al-Quran.

Al-Quran bak musim semi yang menumbuhkan hati. Al-Quran adalah sumber ilmu. Tidak akan ditemukan sesuatu yang lebih jelas dan nampak buat hati selain Al-Quran. Al-Quran merupakan tambang iman dan fondasinya, sumber ilmu dan lautannya, taman keadilan dan bagian darinya, dasar Islam dan bangunannya, sungai-sungai tempat mengalirnya kebenaran dan ladangnya, lautan yang tidak akan pernah habis di sedot, mata air yang mengalir yang tidak akan habis diambil. Allah menjadikan Al-Quran sebagai pelepas dahaga ulama dan penyemai hati para fakih, sebagai bukti bagi jalannya orang-orang baik, penunjuk kepada orang yang sadar, sebagai ungkapan bagi yang meriwayatkannya, sebagai penghukum bagi yang menginginkan keadilan, sebagai penyembuh bagi penyakit tidak dikhawatirkan dan sebagai obat bagi yang tidak ada penyakit lagi. Hendaklah sembuhkan dirimu dengannya dari penyakit-penyakit kalian, minta bantuannya atas masalah-masalah yang kalian hadapi. Dalam Al-Quran ada obat untuk penyakit paling sulit yaitu kekafiran, kemunafikan, kezaliman dan kesesatan'.

Imam Ali bin Abi Thalib berkenaan dengan masalah Sunah Rasulullah saw telah mengajak kaum muslimin untuk mengamalkannya. Beliau juga tidak luput menerangkan posisi para Imam dalam mengantarkan Sunah yang benar kepada umat Islam serta menghidupkan ajaran-ajaran Nabi yang berusaha untuk dihilangkan oleh para penyeleweng dan mereka yang ingin menonaktifkan Sunah Rasulullah saw.

Imam Ali bin Abi Thalib berkata, 'Ikutilah tuntunan Nabi kalian Muhammad saw karena tuntunannya adalah hidayah yang paling utama. Amalkanlah Sunah Nabi karena Sunahnya adalah yang paling menuntun manusia'.

Imam Ali bin Abi Thalib berkata, 'Hamba yang paling dicintai di sisi Allah adalah orang yang mengikuti dan mengamalkan sesuai dengan perilaku dan jejak-jejak Nabi Muhammad saw'. Beliau melanjutkan, 'Relakanlah Muhammad saw sebagai pemandu kalian dan jadikan ia sebagai pemimpin menuju keselamatan'.

Imam Ali bin Abi Thalib berkata, 'Pada tangan manusia ada kebenaran dan kebatilan, kejujuran dan kebohongan, nasikh (yang menghapus) dan mansukh (yang terhapus), umum dan khusus, muhkam (yang pasti) dan mutasyabih (yang samar) dan dihafalkan dan dikhayalkan. Telah terjadi ada orang yang berdusta atas nama Rasulullah saw ketika Nabi masih hidup sehingga membuat beliau harus bersiri berpidato, 'Barang siapa yang berbohong dengan mengatasnamakan namaku secara sengaja niscaya ia telah menyiapkan tempatnya di neraka'.

Imam Ali bin Abi Thalib berkata, 'Keluarga Muhammad saw tidak dapat dibandingkan dengan siapa pun dari umat ini. Kehidupan mereka adalah personifikasi ilmu sementara kematian bagi mereka sama artinya dengan kebodohan. Mereka tidak pernah menentang kebenaran dan tidak pernah berselisih tentangnya. Mereka adalah tiang-tiang penguat agama dan sahabat karib yang menjaga. Dengan keberadaan mereka niscaya kebenaran kembali pada takarannya dan kebatilan akan sirna dan lenyap dari tempatnya serta lidahnya akan terpotong dari pangkalnya. Mereka mengikat agama dengan akal yang sadar dan terlindung tidak dengan akal yang hanya mendengar dan kemudian meriwayatkan. Mereka adalah tempat rahasia-rahasia Rasulullah saw dan pengayom urusannya, pelapis dan pelindung ilmunya dan penakwil hikmah-hikmahnya, gua tempat buku-bukunya dan gunung yang melindungi agamanya. Mereka adalah lentera di kegelapan dan sumber kebijakan, tambang ilmu dan tempatnya kesabaran'.

Imam Ali bin Abi Thalib berkata, 'Sesungguhnya aku berada di atas kebenaran yang jelas dari Tuhanku dan sesuai dengan cara Nabiku. Sesungguhnya aku berada di atas jalan yang jelas ketika aku berucap'.

Mengenal Tauhid, keadilan dan hari akhir

Imam Ali bin Abi Thalib ketika menetapkan dan membuktikan keberadaan Allah swt berkata, 'Segala puji syukur hanyalah milik Allah yang menunjukkan keberadaannya dengan ciptaan-Nya, penciptaan makhluk menunjukkan keazalian-Nya dan kesalahan yang makhluk-Nya perbuat menunjukkan bahwa tidak ada yang menyerupai-Nya. Ia berkata, 'Aku heran kepada orang yang ragu dengan Allah sementara ia melihat ciptaan-Nya bahkan bagi akal ditampakkan kepada kita tanda-tanda pengaturan yang rapi dan kepastian yang tidak berubah.

Ketika Imam Ali bin Abi Thalib ditanya, 'Apakah engkau melihat Tuhanmu? Imam Ali bin Abi Thalib menjawab, 'Bagaimana mungkin aku menyembah Tuhan yang tidak kulihat? Kemudian beliau melanjutkan, 'Allah tidak dapat dilihat dengan mata panca indera akan tetapi hati yang melihatnya dengan hakikat iman. Allah lebih agung dari penetapan pengaturannya dengan hati.

Dalam doanya yang terkenal dengan nama doa Shabah beliau berkata, 'Wahai Zat yang menunjukkan diri-Nya dengan Zat-Nya. Zat yang suci dari penyerupaan dengan makhluk-Nya. Zat yang lebih mulia dari kesamaan dengan makhluknya dalam kualitas. Wahai Zat yang lebih dekat dari persangkaan yang terbetik dalam benak seseorang dan lebih jauh dari sekelebatan pandangan dan mengetahui sesuatu yang belum terjadi.

Imam Ali bin Abi Thalib memuat khotbah-khotbahnya dengan pengertian-pengertian yang tinggi yang diambil dari ayat-ayat Al-Quran yang menunjukkan kekuatan ilahiah; langit dan bumi. Beliau menjelaskan dengan panjang lebar bagaikan ilmuwan yang tahu betul apa yang diucapkannya. Ia menjelaskan dengan detil ayat-ayat kekuasaan Allah yang membuat siapa yang mendengarnya akan bertambah keimanan, kekhusyukan dan ketundukkannya kepada Allah swt. Karena begitu mendengar ucapan Imam Ali bin Abi Thalib seseorang dapat merasakan langsung apa yang dibicarakannya. Sebagaimana Imam Ali bin Abi Thalib berkata, 'Demi Allah! Seandainya disingkap segala penutup dari diriku aku tidak akan bertambah yakin'.

Imam Ali bin Abi Thalib memberikan penggambaran yang detil tentang sifat-sifat Allah yang membuat para filsuf menjadikan ucapan-ucapannya sebagai bahan kajian yang dapat membuka pembahasan lebih luas. Tanpa ucapan-ucapan Imam Ali bin Abi Thalib pembahasan sifat ilahi para pembahas dapat tersesat karena ucapan beliau bersumber dari hidayah rabbani.

Beliau berkata, 'Kesempurnaan tauhid dan pengesaan Allah adalah ikhlas kepada-Nya. Kesempurnaan keikhlasan kepada Allah swt adalah menafikan sifat dari-Nya. Hal itu dikarenakan setiap sifat pasti bukan zat yang disifati dan setiap zat yang disifati pasti bukan sifat. Oleh karenanya, barang siapa yang menyifati Allah swt berarti ia telah menjadikan teman bagi-Nya. Dan barang siapa yang berpikir bahwa Allah memiliki teman itu berarti ia telah menduakan-Nya. Barang siapa yang menduakan-Nya berarti ia telah membagi-Nya. Dan barang siapa yang membagi-Nya berarti ia tidak mengerti tentang-Nya. Dan barang siapa yang tidak mengetahui-Nya berarti ia telah menunjukkan-Nya. Barang siapa yang menunjuki-Nya berarti ia telah membatasi-Nya. Dan barang siapa yang membatasi-Nya berarti telah menganggap-Nya berbilang. Allah ada tanpa diciptakan, wujud-Nya tidak diperoleh setelah sebelumnya tidak ada. Allah senantiasa bersama dengan segala sesuatu tapi tidak menemani mereka dan tidak bersama segala sesuatu tapi tidak sirna.

Imam Ali bin Abi Thalib berargumentasi tentang keesaan Allah dengan ucapannya, 'Ketahuilah wahai anakku, Seandainya Allah memiliki sekutu niscaya utusannya telah mendatangimu dan engkau akan melihat bekas-bekas kerajaan dan kekuasannya. Ketahuilah wahai anakku, tidak ada seseorang pun yang memberikan kabar berita tentang Allah swt sebagaimana kabar berita yang dibawakan oleh Rasulullah saw maka relakanlah ia menjadi penuntunmu'.

Imam Ali bin Abi Thalib memerikan keadilan Allah swt dengan ucapannya, 'Keadilan membuat Allah tidak berbuat kezaliman kepada hamba-Nya dan berbuat keadilan terhadap semua makhluk-Nya. Allah berbuat keadilan kepada semua makhluk-Nya dalam hukum dan menghukumi segala sesuatunya dengan keadilan. Imam Ali bin Abi Thalib kebudian berkata, 'Sesungguhnya Allah tidak memerintahkanmu kecuali ada kebaikan dibaliknya dan tidak akan melarangmu kecuali ada kejelekan dibalik larangannya. Hukum-Nya satu tidak pilih kasih baik untuk penghuni langit atau bumi. Allah tidak akan memasukkan seseorang ke dalam surga karena perbuatan yang membuatnya seharusnya berada di neraka'.

Mengenal kepemimpinan ilahi (kenabian dan imamah)

Hidayah ilahi yang disebut dengan kepemimpinan orang-orang yang diberi hidayah. Orang-orang yang dipilih oleh Allah untuk memberi petunjuk kepada hamba-hamba Allah adalah sunnatullah yang senantiasa ada bagi makhluk-Nya. Allah membekali mereka dengan akal, ilmu dan mempersenjatai mereka dengan iradah dan kehendak.

Sunnatullah yang berlaku kepada manusia ini dimulai dengan pemilihan Adam AS. sebagai sebaik-baik makhluk-Nya. Imam Ali bin Abi Thalib berkata, 'Allah swt kemudian menurunkan Adam ke bumi setelah ia bertaubat agar ia memakmurkan dunia dengan anak keturunannya sekaligus menegakkan bukti Allah kepada hamba-Nya. Allah tidak akan membiarkan mereka dalam kekosongan setelah memilih mereka dan menegaskan kepada makhluk-Nya akan bukti rububiah-Nya yang menjadi perantara antara makhluk-Nya dan pengetahuannya. Bahkan Allah swt telah mengadakan perjanjian dengan mereka lewat lisan manusia-manusia pilihan-Nya dari para Nabi dan mereka yang bertanggung jawab membawa amanat risalah-Nya dari abad ke abad. Allah meletakkan amanat tersebut kepada sebaik-baik orang yang mampu menjaga amanat-Nya. Keturunan-keturunan mulia inilah yang memegang amanat tersebut yang berpindah dari rahim yang suci ke rahim suci lainnya. Semua ini bak rantai yang tak berputus hingga sampai pada keturunan terakhir mereka Muhammad saw. Keturunan termulia dari tambang ilmu dan keutamaan. Keturunan yang lahir dari pohon di mana para Nabi Allah berasal dari sana begitu juga mereka para pembawa amanat ilahi'.

Imam Ali bin Abi Thalib menyifati kezuhudan para Nabi, keberanian, kerendahan hati dan bagaimana Allah melindungi dan mendidik mereka sekaligus menguji dan memberi cobaan kepada mereka dalam perjuangan di jalan Allah. Imam Ali bin Abi Thalib juga menjelaskan kewajiban-kewajiban para Nabi yang dapat dilihat dalam masalah tablig dan dakwah kepada Allah swt, memberi kabar gembira dan ancaman, menegakkan hukum Allah di bumi, memberi petunjuk manusia dengan mengeluarkan mereka dari kebodohan dan kesesatan dan berjuang menghadapi musuh-musuh Allah.

Jalan yang telah dipersiapkan Allah untuk memberikan petunjuk manusia akan berlangsung secara berkesinambungan hingga hari kiamat. Oleh
karenanya, bumi tidak akan pernah kosong dari bukti Allah; baik itu tampak dan diketahui banyak orang atau tersembunyi. Karena yang terpenting adalah bagaimana bukti Allah tetap ada di muka bumi dan tidak lenyap. Ketika kenabian telah berakhir dengan Nabi Muhammad saw, maka perintah pemberian petunjuk berpindah kepada keluarganya yang dikenal sebagai keluarga terbaik. Orang-orang yang bilsa berbicara pasti dilakukan dengan kejujuran dan bila berdiam diri tidak didahului. Mereka berasal dari pohon kenabian, dilingkupi oleh risalah kenabian, tempat lalu lalang para malaikat, tambang ilmu pengetahuan dan sumber kebijakan. Mereka orang-orang yang memiliki posisi yang mulia di sisi Allah. Dengan keberadaan mereka Allah swt menjaga bukti-bukti dan hujjah-Nya. Al-Quran dapat diketahui karena mereka dan dengan Al-Quran mereka dapat dikenal, pada mereka kemuliaan Al-Quran tersimpan dan khazanah kasih sayang Allah dan mereka orang-orang yang disebut dalam Al-Quran Ar-Rasikhun bil 'Ilm (orang-orang yang menyatu dengan ilmu tentang Al-Quran). Kesabaran mereka akan menjelaskan seberapa luas ilmu yang dimiliki, bentuk dan perilaku lahiriah mereka akan menunjukkan batin mereka dan diamnya mereka menandakan kebijakan berpikir dan bertutur. Mereka tidak pernah menentang kebenaran dan tidak pernah berselisih dalam hal kebenaran. Mereka adalah tiang-tiang penguat agama dan bak sahabat karib yang menjaga agama. Dengan keberadaan mereka niscaya kebenaran kembali pada takarannya dan kebatilan akan sirna dan lenyap dari tempatnya. Mereka adalah asas agama dan pokok keyakinan. Orang yang telah melampaui batas akan menyesuaikan dirinya dengan menjadikan mereka sebagai tolok ukur dan orang yang tertinggal dapat menyesuaikan diri dengan menjadikan mereka sebagai patokan. Mereka memiliki kekhususan-kekhususan tertentu seperti hak memiliki wilayah (kepemimpinan) dan wasiat serta warisan Nabi tentang kepemimpinan adalah untuk mereka.

Imam Ali bin Abi Thalib menegaskan kedudukan dan posisi Ahli Bayt AS. selaku pemimpin baik dalam bidang pemikiran maupun dalam bidang politik. Imam Ali bin Abi Thalib berusaha mendekatkan kepemimpinan yang terlanjur dijauhkan dari pemiliknya yang semestinya setelah ditentukan oleh Nabi Muhammad saw. Beliau mengkritik cara pandang dan kebijakan para khalifah sebelum dirinya baik secara global maupun detil. Sekalipun dengan kritik itu beliau telah merelakan, secara terpaksa, haknya sebagai khalifah dan berusaha mengajukan ide-ide murni yang bersumber dari Nabi tentang kepemimpinan setelah Rasulullah saw. Imam Ali bin Abi Thalib tetap berjuang untuk merealisasikan kebenaran dengan cara dan metode yang bijak dan sesuai dengan kondisi kritis yang sedang dialami negara dan umat Islam pada waktu itu. Beliau mampu mengajukan teori dan sistem yang sempurna dan menyiapkan sejumlah kader untuk menerapkannya ketika kondisi memungkinkan untuk itu.

Mengenal Imam Mahdi

Kajian tentang masalah Imam Mahdi AF. terpengaruh perhatian yang diberikan kepada Al-Quran dan Nabi Muhammad saw. Imam Ali bin Abi Thalib AS. sekalipun dalam kondisi yang sulit di mana masyarakat Islam yang baru dan belum stabil masih tetap memberikan perhatian yang cukup tentang masalah Imam Mahdi AF. Beliau berkata, 'Ketahuilah bahwa pada suatu hari -dan hari itu akan datang sekalipun kalian tidak mengetahuinya kapan- di mana seorang pemimpin akan muncul dan bukan dari keluarga pemimpin yang ada sekarang. Ia akan menghukumi para pejabat pemerintahan sesuai dengan perbuatan buruk mereka. Bumi akan mengeluarkan barang tambangnya demi sang pemimpin. Ia akan menunjukkan bagaimana cara menjalankan roda pemerintahan dengan adil kepada kalian. Al-Quran dan Sunah Nabi yang sampai sebelum munculnya dipinggirkan dan tidak dipergunakan sebagaimana mestinya akan dihidupkan kembali olehnya'.

Ucapan Imam Ali bin Abi Thalib tentang Imam Mahdi AF. Adalah cara pandang yang detil dan pasti serta memberikan penerangan yang jelas mengenai tanda-tanda kemunculannya. Kemunculannya akan terlihat pada revolusi global yang kemudian memberikan kesempatan kembali kepada Islam memainkan peranannya di dunia Islam dan bahkan untuk manusia dan kemanusiaan. Imam Ali bin Abi Thalib tentang pemimpin revolusi global ini berkata, 'Oleh Imam Mahdi AF. segala keinginan yang ada akan diikutkan sesuai dengan petunjuk wahyu setelah sebelumnya masyarakat menjadikan hidayah dan petunjuk senantiasa mengikuti hawa nafsunya. Masyarakat dengan segala macam teori yang ada dipaksakan kepada Al-Quran dan Al-Quran hanya dipakai sebagai bahan justifikasi pendapat mereka sementara Imam Mahdi AF. berusaha agar semua teori dan pandangan yang ada malah mengikuti Al-Quran dan bukan sebaliknya'.

Sebuah yayasan yang bernama Muassasah Nahjul Balaghah telah berhasil mengumpulkan hadis-hadis yang diriwayatkan oleh Imam Ali bin Abi Thalib tentang Imam Mahdi AF. Hadis-hadis tersebut telah terkumpul dalam satu volume dan hadis yang terkumpul sebanyak 291 hadis. Empat belas hadis berbicara tentang nama, sifat-sifat dan nama panggilan dari Imam Mahdi. Tujuh puluh tujuh hadis menjelaskan tentang keturunan Imam Mahdi AF. bahwa ia berasal dari keturunan Quraisy, Bani Hasyim, Ahli Bayt dan dari keturunan Ali bin Abi Thalib sendiri. Ia adalah keturunan dari Fathimah Az-Zahra AS. juga keturunan dari Imam Husein AS. dan salah satu imam kedua belas. Empat puluh lima hadis berhubungan dengan Imam Mahdi AF. dalam Al-Quran, Nahjul Balaghah dan syair yang diucapkan oleh Imam Ali bin Abi Thalib. Dua puluh tiga hadis berbicara tentang para penolong Imam Mahdi AF. dan riwayat-riwayat yang menyinggung tentang pemimpin. Dua belas hadis bercerita tentang masalah keluarga Sufyan dan Dajjal. Dua puluh enam hadis menjelaskan tentang kegaiban Imam Mahdi AF. dan ujian serta cobaan orang-orang Syi'ah semasa kegaiban Imam Mahdi dan keutamaan melakukan penantian kemunculan Imam Mahdi AF. Tujuh puluh lima hadis menceritakan tentang fitnah sebelum kemunculan Imam Mahdi AF. tanda-tanda kemunculannya, apa yang akan diperbuat dan akan terjadi setelah kemunculan Imam Mahdi AF. masalah hewan-hewan berkaki empat di bumi serta Ya'juj dan Ma'juj. Sembilan belas hadis berkaitan dengan keutamaan masjid Kufah dan akan keluarnya seorang dari Ahli Bayt dengan orang-orang dari timur yang membawa pedang di pundaknya selama delapan bulan sehingga orang-orang berkata, 'Demi Allah! Orang ini dari keturunan Fathimah. Kemudian ia menjelaskan pemerintahan di muka bumi dengan munculnya Imam Mahdi AF. bagaimana ia memerintah dan terakhir bagaimana agama ditutup dengannya.

Imam Ali bin Abi Thalib berkata, 'Wahai Kumail! Ilmu yang ada ini akulah pembukanya sementara rahasia yang ada diakhiri oleh Al-Mahdi AF. Wahai Kumail! Kalian perlu memperhatikan masa lalu kalian dan kami yang akan menang dibanding kalian'.

Agama dibuka dan ditutup dengan kami. Karena kami orang-orang selamat dari kesesatan yang ditimbulkan oleh fitnah sebagaimana mereka telah diselamatkan dari kesesatan syirik. Allah swt mendekatkan hati kaum muslimin berkat kami setelah permusuhan yang ditimbulkan oleh fitnah sebagaimana hati dan agama mereka telah didekatkan setelah permusuhan yang berlandaskan kesyirikan'. Seandainya pemimpin kami, Al-Mahdi, telah muncul niscaya langit akan mengucurkan hujan dan bumi akan menumbuhkan tanaman. Permusuhan akan hilang dari hati manusia. Binatang-binatang liar akan menjadi jinak sehingga seorang wanita berjalan dari Irak hingga ke Syam dengan aman. Ia hanya meletakkan kakinya di atas tumbuh-tumbuhan dan perhiasan yang berada di atas kepalanya tetap karena binatang-binaang buas tidak mengganggu dan tidak menakuti-nakutinya'.

Mengenal pemerintahan Islam: filsafat dan prinsip

Imam Ali bin Abi Thalib telah mengajukan bentuk praktis dalam pemerintahan Islam sepeninggal Rasulullah saw. Bentuk praktis ini digandengkan dengan teori paripurna yang sesuai dengan berbagai dimensi kehidupan yang ditunjukkan dengan surat dan perjanjiannya yang terkenal kepada Malik Al-Asytar ketika diangkat menjadi gubernur Mesir. Para sosiolog begitu menaruh perhatian terhadap surat ini dan memberikan komentar, penjelasan dan membandingkannya dengan sistem sosial pemerintahan lain. Teks ini termasuk salah satu dalil bagi keindahannya dan dengan ini mazhab Ahli Bayt berbeda dengan semua aliran yang ada yang membawa nama Islam dan kekhalifahan Islam. Sebagai tambahan dari teks yang luar biasa ini dapat ditemukan di Nahjul Balaghah dan buku-buku lainnya yang sampai kepada para ulama, teks ini juga dapat membantu untuk memahami dan menyingkap ide dan pemikiran Imam Ali bin Abi Thalib dan pandangan Islam tentang filsafat pemerintahan dan sistemnya baik prinsip maupun cabang masalahnya. Untuk itu ada baiknya untuk melihat secara ringkas pandangan tersebut.

Imam Ali bin Abi Thalib telah menegaskan bahwa pemerintahan adalah merupakan keharusan sosial manusia dengan ucapannya, 'Masyarakat, apapun itu, membutuhkan pemimpin; baik atau buruk. Sementara Imamah adalah sistem umat'. Beliau juga kemudian menjelaskan bahwa pemerintahan adalah pengenalan terhadap kehidupan itu sendiri, 'Kekuasaan menampakkan kekhususan yang baik sebagaimana terkadang memunculkan keburukan'.

Beliau menjelaskan bahwa pemerintahan dan kekuasaan adalah sesuatu yang bakal lenyap. Oleh karenanya, jangan sampai tertipu olehnya. Beliau berkata, 'Negara, sebagaimana dia diterima juga ditolak'. Kemudian beliau memberikan pandangan pemerintahan yang baik dan memberikan manfaat bahwa pemerintahan yang patut dicontoh adalah yang memiliki nilai dan layak untuk dipersiapkan dan dibuat rencana masa depannya.

Garis-garis besar sistem pemerintahan Islam dan fungsi negara percontohan Islam sebagai berikut:

1. Membudayakan dan mendidik umat.

2. Menegakkan keadilan.

3. Mengayomi agama.

4. Menegakkan supremasi hukum.

5. Mendidik masyarakat.

6. Bersungguh-sungguh dalam memperbaiki (nasihat) dan penyampaiannya.

7. Menyiapkan dan memperbaiki kebutuhan hidup masyarakat.

8. Melindungi dan membela kemerdekaan dan kemuliaan umat.

9. Mengamankan stabilitas dalam negeri.

10. Menolong kaum lemah.

11. Membantu orang tertindas.

12. Perhatian lebih pada pembangunan.

Sementara syarat-syarat penguasa yang patut dicontoh hendaknya ia memiliki sifat-sifat yang dipandang penting dalam menguatkan dan menstabilkan negara. Secara ringkas syarat-syarat pemimpin sebagai berikut:

1. Menolong dan membantu kebenaran.

2. Memahami permasalahan yang dihadapi.

3. Pengetahuan yang luas.

4. Keberanian dalam menegakkan kebenaran.

5. Memiliki niat yang baik.

6. Berbuat baik kepada rakyat.

7. Memiliki rasa harga diri yang tinggi.

8. Berbuat adil tanpa pandang bulu.

9. Kemampuan manajemen dan ekonomi.

10. Kejujuran.

11. Kelemahlembutan.

12. Sabar.

13. Melindungi dan membela agama.

14. Wara' (bertakwa).

15. Dipercaya dan bertanggung jawab.

16. Sadar.

17. Mengeluarkan undang-undang yang mampu dilakukan oleh masyarakat.

18. Tidak membohongi masyarakat dengan alasan kekuasaan.

19. Pembagian kerja yang benar dan penunjukan tanggung jawab sesuai dengan kemampuannya.

20. Usaha keras dan kedermawanan namun tidak menghambur-hamburkan kekayaan negara secara royal.

Ungkapan Imam Ali bin Abi Thalib penuh dengan sebab-sebab yang dapat meruntuhkan sebuah negara sekaligus juga mewanti-wanti para penguasa, pejabat dan para wali kota untuk berhati-hati agar tidak terjerumus ke dalamnya. Secara ringkas beberapa sebab yang dapat meruntuhkan sebuah negara:

1. Kebodohan

2. Pemaksaan pendapat dan tidak mau bermusyawarah.

3. Mengikuti hawa nafsu.

4. Berbilangnya jumlah pusat kekuatan.

5. Mengikuti kebatilan dan menganggap remeh agama.

6. Berbuat seenaknya dan zalim.

7. Sombong dan terlalu bangga dengan dirinya.

8. Tidak berbuat kebaikan.

9. Menghambur-hamburkan potensi dan kekayaan negara.

10. Lupa diri.

11. Balas dendam.

12. Manajemen yang buruk.

13. Sedikit mengambil pelajaran dari pengalaman.

14. Sering berbuat kesalahan.

15. Menghilangkan pilar-pilar pemerintah.

16. Mengangkat orang-orang yang tidak profesional menduduki jabatan tertentu. Imam Ali bin Abi Thalib berkata, 'Memilih orang-orang tidak profesional menduduki jabatan-jabatan pemerintahan akan membuat pemerintah tidak dipercaya bahkan runtuh'.

17. Pengkhianatan. Imam Ali bin Abi Thalib berkata, 'Bila terjadi pengkhianatan, berkah dalam kehidupan akan diangkat. Barang siapa yang menterinya melakukan pengkhianatan maka manajemen pemerintahannya menjadi rusak.

18. Kelemahan dalam masalah politik. Imam Ali bin Abi Thalib berkata, 'Bahaya yang senantiasa mengintai para pemimpin adalah kelemahan dalam masalah politik. Bahaya orang yang kuat adalah kelemahan dalam menekan kemarahan. Barang siapa yang terlambat mengatur sesuatu maka itu berarti ia mendahulukan kehancurannya'.

19. Perilaku buruk. Imam Ali bin Abi Thalib berkata, 'Bahaya yang senantiasa mengintai para penguasa adalah perilaku buruk'.

20. Lemahnya para pejabat dan wali kota.

21. Lemahnya dukungan masyarakat terhadap penguasa. Imam Ali bin Abi Thalib berkata, 'Bahaya sebuah pemerintah adalah lemahnya dukungan'

22. Prasangka buruk kepada orang yang menasihati merupakan tanda-tanda kehancuran sebuah negara.

23. Ketamakan pemimpin akan kelezatan dunia. Imam Ali bin Abi Thalib berkata, 'Seorang pemimpin adalah orang yang tidak mencari muka, tidak menipu dan tidak ditipu oleh ketamakan'. Beliau menambahkan, 'Ketamakan merendahkan seorang pemimpin'.

24. Ketiadaan keamanan.

Mengenal ibadah dan kewajiban

Imam Ali bin Abi Thalib berkata, 'Sesungguhnya Allah swt mewajibkan kepada kalian sejumlah kewajiban maka jangan kalian sia-siakan itu. Allah swt telah memberikan batasan-batasan kepada kalian maka jangan kalian langgar itu. Allah swt telah melarang kalian dari beberapa perkara maka jangan kalian terjang larangan itu. Allah swt tidak memberikan perintah kepada kalian tentang banyak hal dan itu bukan karena lupa, maka jangan kalian memaksakan diri. Allah swt tidak pernah memerintahkan kalian akan satu perkara melainkan atas dasar kebaikan yang dikandungnya dan tidak melarang kalian akan satu perkara melainkan atas dasar kejelekan dan keburukan yang idkandungnya'.

Imam Ali bin Abi Thalib berkata, 'Seyogianya engkau menjaga segala sesuatu yang bila engkau menyia-siakannya engkau tidak bakal diampuni'. Imam Ali bin Abi Thalib berkata, 'Hal pertama yang diwajibkan oleh Allah swt kepada kalian adalah menyukuri nikmat-Nya dan mencari keridaan-Nya. Sangat beruntung orang yang senantiasa menjaga ketaatannya kepada Tuhannya. Orang-orang yang bercepat-cepat melakukan ketaatan dan mendahului orang lain melakukan perbuatan baik. Bila kalian tidak melakukannya maka itu berarti kalian tidak melakukan perintah-perintah dan kewajiban-kewajiban Allah swt. Tidak diperkenankan seorang mendekati Allah dengan ibadah-ibadah sunah sementara ia masih disibukkan dengan ibadah-ibadah wajib. Tidak ada ibadah yang nilainya menyamai pelaksanaan kewajiban'. Imam Ali bin Abi Thalib juga sangat memperhatikan penjelasan tentang filsafat sejumlah dari syariat dan hukum Islam. Beliau berkata, 'Allah swt mewajibkan iman untuk menyucikan manusia dari syirik. Salat untuk menyucikan manusia dari kesombongan, zakat untuk menambah rezeki, puasa untuk menguji keikhlasan seorang hamba, haji untuk menguatkan agama, jihad untuk kemuliaan Islam, amar makruf untuk kebaikan dan kemaslahatan masyarakat awam, nahi mungkar untuk mencegah orang-orang bodoh berlaku tanpa petunjuk, silaturahmi memanjangkan umur, qisas untuk mencegah pertumpahan darah tanpa sebab, menegakkan hukum pidana untuk memuliakan hukum (hal-hal yang haram), meninggalkan minuman keras dan memabukkan untuk menjaga akal, menjauhi perbuatan mencuri untuk menambah kemuliaan, meninggalkan zina untuk menjaga keturunan, meninggalkan liwat (perilaku seks sesama jenis) untuk memperbanyak keturunan, syahadah (martir) untuk menunjukkan kepada para pengingkar, meninggalkan dusta untuk memuliakan kejujuran, Islam memberikan keamanan kepada seseorang dari ketakutan, imamah sebagai sebuah sistem pemerintahan untuk umat dan ketaatan untuk menghormati imamah'.

Imam Ali bin Abi Thalib berkata, 'Zakatnya badan adalah jihad dan puasa dan orang yang melakukan ziarah kepada Ka'bah akan aman dari azab Allah swt'.

Dan Imam Ali bin Abi Thalib berkata, 'Laksanakan amar makruf engkau akan menjadi orang yang berbuat baik, jauhi dan larang perbuatan mungkar dan jelek dengan tangan dan lidah. Pisahkan perilaku keduanya dengan usaha yang yang sungguh-sungguh dari mu. Tujuan agama adalah amar makruf dan nahi mungkar serta menegakkan supremasi hukum. Jihad adalah tiang agama dan cara untuk selamat. Barang siapa yang melakukan jihad dengan menegakkan kebenaran akan berhasil. Mereka yang berjihad akan terbuka untuk mereka pintu-pintu langit. Balasan dan pahala orang berjihad adalah yang paling agung dan mulia'.

Mengenal akhlak dan pendidikan

Imam Ali bin Abi Thalib sangat mementingkan pendidikan masyarakat dan berusaha untuk mengobati penyimpangan akhlak yang terjadi dalam diri manusia yang memiliki akar yang sangat dalam. Imam Ali bin Abi Thalib menyebutkan obat paling penting dan asasi sesuai dengan ucapannya, 'Ketahuilah, sesungguhnya cinta dunia adalah pokok segala kesalahan'. Kemudian beliau menjelaskan sebab terdalam terkait dengan cinta dunia ketika menjelaskan sebab-sebab dari persekongkolan yang dilakukan untuk meminggirkan ide-ide Nabi bagi para khalifah. Rahasia saat mereka merampok kepemimpinan darinya padahal mereka tahu benar akan banyaknya teks-teks hadis Nabi Muhammad saw yang menyebutkan bahwa kepemimpinan setelah beliau berada di tangan Ali bin Abi Thalib. Imam Ali bin Abi Thalib berkata, 'Tidak, mereka telah mendengar hadis-hadis tentang kepemimpinanku dan sadar akan keberadaannya, akan tetapi keindahan dunia telah menghiasi mata mereka.

Akibat dari kecintaan yang sangat adalah manusia akan mempergunakan segala macam cara untuk mencapai tujuannya. Kecintaan terhadap sesuatu sering membuat sang pencinta menjadi buta dan tuli. Oleh karenanya, para khalifah mencari-cari alasan dengan segala macam cara sebagai pembenaran kelayakan mereka sebagai khalifah. Alasan-alasan inilah yang dibantah dengan sangat kuat dan indah oleh Imam Ali bin Abi Thalib. Akan tetapi mereka tetap bersikeras untuk tetap melakukan apa yang sudah mereka rencanakan sebelumnya berhadapan dengan sikap Imam Ali bin Abi Thalib. Dan bila ditanyakan kepada Imam Ali bin Abi Thalib tentang obat paling manjur untuk mengobat penyakit yang telah menghunjam dalam peyimpangannya, beliau pasti akan berkata bahwa obatnya adalah sebagaimana yang disebutkannya secara detil tentang orang yang bertakwa (muttakin) dalam salah satu khotbahnya yang terkenal dengan sebutan khotbah Hammam (nama salah seorang sahabatnya yang bertanya tentang sifat mukmin). Imam Ali bin Abi Thalib menjelaskan rahasia bagaimana orang-orang muttakin bisa sampai kepada derajat kesempurnaan yang demikian karena ketakwaan. Beliau berkata, 'Allah swt sebagai pencipta agung di mata dan jiwa mereka sementara mereka memandang selain-Nya adalah kecil'. Demikianlah sebuah makrifat hakiki tentang Allah yang menjadi sebab bagaimana dunia bisa rendah dan kecil di mata orang-orang muttakin. Bila dunia telah kecil dan rendah di mata mereka maka dunia tidak bisa menjadi tujuan dan tidak akan dikejar secara sungguh-sungguh untuk dapat memilikinya. Bahkan yang terjadi adalah mereka tidak rakus untuk memiliki dunia sebagaimana Imam Ali bin Abi Thalib tidak tamak akan dunia. Beliau menerima untuk tidak menjadi khalifah ketika Quraisy memaksanya untuk meninggalkan dan berlepas tangan dari kekhalifahan dengan ucapanya, 'Kekhalifahan telah membuat orang-orang menjadi egois dan jiwa menjadi kikir sementara untuk sebagian orang lain jiwa mereka menjadi celaka. Hakim adalah Allah swt dan janji yang disampaikan akan ditemui di hari kiamat'.

Dari sini dalam masyarakat Islam ada dua kelompok akhlak dan moral yang berbeda bahkan saling bertentangan; moral yang dipraktekkan oleh Imam Ali bin Abi Thalib menjauhkan politik machiaveli dan moral yang lain dipraktekkan oleh para khalifah yang meyakini pembenaran capaian tujuan dengan segala macam cara. Tampak bagaimana dalam asalah kekhalifahan Imam Ali bin Abi Thalib lebih memilih zuhd dan meninggalkannya sementara selainnya begitu rakus dan tamak meraih dan merebutnya dari tangan orang yang berhak.

Mengenal doa dan munajat

Sebagaimana para Imam yang lain, Imam Ali bin Abi Thalib juga memberikan perhatian yang serius tentang masalah doa dan munajat. Hal itu tentunya setelah Al-Quran membuka masalah ini dengan berbicara kepada Rasulullah saw. Allah swt berfirman, 'Katakanlah, Tuhanku tidak akan mengindahkan kalian bila tidak karena doa yang kalian panjatkan'. Imam Ali bin Abi Thalib menjelaskan pentingnya doa lewat teks-teks yang diriwayatkan darinya di samping perilaku beliau sendiri. Imam Ali bin Abi Thalib berkata, 'Doa adalah senjata para wali Allah'.

Nahjul Balaghah sendiri memuat sekumpulan doa-doa yang memiliki nilai tinggi di berbagai bidang. Doa-doa yang beliau lantunkan dikumpulkan dalah buku yang disebut Shahifah Alawiyah. Dan dari doa-doa terpilihnya adalah doa Kumail, doa Shabah dan munajat Sya'baniyah. Di sini akan disebutkan potongan dari munajatnya yang berbentuk syair yang diriwayatkan dari Imam Ali bin Abi Thalib. Beliau berkata:

Segala puji kepada-Mu, wahai pemilik kedermawanan, kebesaran dan ketinggian

Berkah-Mu Engkau berikan kepada siapa yang diinginkan atau tidak

Tuhanku, penciptaku, penjagaku dan tempatku meminta perlindungan

Aku akan memohon kepada-Mu apakah kondisiku sulit atau senang

Tuhanku, bila dosa-dosaku besar dan banyak

Maka ampunan-Mu lebih besar dan luas

Tuhanku, seandainya aku mengikuti semua keinginanku

Saat ini aku di taman penyesalan mengapa aku melakukan semua itu?

Tuhanku, Engkau melihat keadaanku, kefakiranku dan kebingunganku

Engkau mendengar munajatku sekalipun kupelankan suaraku

Tuhanku, jangan Engkau putuskan harapan yang kugantungkan pada-Mu

Jangan biarkan keputusasaanku karena harapanku hanyalah Engkau

Tuhanku, bila Engkau memutuskan harapanku dan mengusirku dari ke haribaan-Mu

Kepada siapa aku berharap dan kepada siapa aku meminta syafaat

Tuhanku, bebaskan aku dari azab-Mu karena sesungguhnya aku

Terpenjara dan rendah, aku tunduk dan takut kepada-Mu

Tuhanku, bila Engkau menyiksaku selama seribu tahun

Aku tahu bahwa benang harapan dari-Mu tidak akan terputus

Tuhanku, bila Engkau hanya mengampuni orang-orang baik

Siapa yang akan memaafkan orang-orang yang mengikuti hawa nafsunya?

Tuhanku, orang yang merindukan-Mu melewati malam-malamnya tanpa tidur

Memohon dan bermunajat hingga pagi lupa melaksanakan salat subuh

Mengenal sastra Imam Ali bin Abi Thalib

Nahjul Balaghah dan buku-buku lainnya yang ditulis untuk melestarikan warisan intelektual Imam Ali bin Abi Thalib dengan mudah didapatkan. Bahkan dengan bentuk yang sangat puitis dengan menjaga kaidah-kaidah sebuah syair. Memperhatikan itu semua membuat orang mengetahui bagaimana ketinggian nilai dan pribadi Imam Ali bin Abi Thalib baik itu terkait dengan pidato, surat, kalimat-kalimat bijak dan dalam bidang puisi dan sastra. Tidak berlebihan bila disebutkan, sebagaimana para ahli sastra juga memberikan penilaian yang sama, bahwa sastra terbaik yang pernah dikenal oleh sejarah dari sisi kaidah, kedalaman dan ide-ide yang dikandungnya adalah sastra Imam Ali bin Abi Thalib AS.

Di sini sebagai contoh akan dibawakan beberapa bait syair dari Imam Ali bin Abi Thalib dalam beberapa tema. Tentunya dengan kepastian bahwa syair yang dituliskan berikut ini diambil dari diwan (kumpulan syair) yang dinisbatkan kepada Imam Ali bin Abi Thalib. Dan ini diperkuat lagi oleh sebagian sejarawan yang bersaksi dan mempergunakan sekumpulan syairnya.

Imam Ali bin Abi Thalib mengucapkan syairnya mengenang kematian ayahnya:

Abu Thalib adalah pelindung orang yang meminta perlindungan

Bak hujan yang tercurahkan, bak cahaya di kegelapan

Kepergianmu telah merusak untaian pelindung

Allah pemberi nikmat mengucapkan salawat padamu

Tuhanmu rela akan perbuatanmu

Paman terbaik buat Musthafa

Al-Jahizh Al-Baladzri menyebutkan, 'Ali bin Abi Thalib adalah sahabat Nabi yang paling dalam mengucapkan syair, paling fasih, orator tak tertandingi dan paling baik dalam menulis. Pada hari Ghadir, Imam Ali bin Abi Thalib pernah mengucapkan syairnya:

Rasul Allah menolong kami ketika mereka berselisih dan bermusuhan

Kaum muslimin yang mengerti kembali padanya

Kami gerakkan mereka yang sesat karena menghormati Rasul Allah

Ketika mereka belum melihat jalan dan petunjuk yang benar

Saat Rasul Allah membawa hidayah, kami semua

Senantiasa menaati Allah, kebenaran dan ketakwaan

Sibth bin Al-Jauzi meriwayatkan dalam bukunya Tadzkirah Al-Khawash bahwa Imam Ali bin Abi Thalib bersyair:

Ketamakan akan dunia memaksa orang untuk mengaturnya

Buatmu kejernihan dunia telah dikeruhkan

Mereka tidak menerima rezeki dunia dengan akal

Mereka menerima rezeki dengan takaran

Bahkan lewat kekuatan atau perang

Bak burung pemburu yang mendapat rezeki burung gereja

Dan diriwayatkan dari Imam Ali bin Abi Thalib:

Penyakit mu ada pada dirimu sendiri, sayangnya tak disadari

Obatnya pun dari dirimu sendiri, sayangnya tak di perhatikan

Pikirmu bentukmu kecil

Padahal terkumpul pada dirimu alam yang besar

Salawat dan salam bagimu wahai ayah Hasan dan Husein. Wahai pemimpin sastrawan salam bagimu pada hari kelahiran, hari beriman, hari perjuangan, hari kesabaran, hari ketika engkau menjadikan supremasi hukum di atas segala-galanya, hari ketika engkau syahid dengan penuh kesabaran dan hari ketika engkau dibangkitkan kembali. Hari di mana engkau menuntun para pecintamu menuju telaga kautsar terus menuju jannatun naim.


Hak Cipta @ Tim penyusun Majma' 'Alami li Ahli Bayt