Jumat, 20 November 2015

Zionisme Amerika [1]


Oleh Edward W Said (filsuf)[2]

Artikel ini berbicara mengenai peran Zionisme Amerika yang dalam persoalan Palestina kerap salah dipahami dan dinilai. Dalam pandangan saya, peran kelompok-kelompok dan aktivitas-aktivitas Zionis yang terorganisasi di Amerika Serikat kurang mendapatkan sorotan yang semestinya selama berlangsungnya apa yang disebut “proses perdamaian”. Ini adalah pengabaian yang menurut saya luar biasa, mengingat kebijakan Palestina secara esensial bergantung kepada orang-orang di panggung Amerika Serikat (AS) yang minus kesadaran strategis tentang betapa kebijakan AS, sebagai akibatnya, didominasi—jika tidak dikontrol secara keseluruhan—oleh sebuah minoritas kecil dari orang-orang yang pandangannya mengenai perdamaian di Timur Tengah, dalam sebagian cara, jauh lebih ekstrim bahkan daripada orang-orang Israel di Partai Likud.

Izinkan saya memberi sebuah contoh kecil. Harian Israel Haaretz pernah mengirimkan seorang kolomnis ternama mereka, Ari Shavit, untuk berbicara dengan saya selama beberapa hari; ringkasan dari wawancara yang panjang ini hadir dalam bentuk tanya-jawab pada edisi 18 Agustus 2000 dari suplemen harian itu dengan tanpa dipotong dan disensor secara fundamental. Saya menyuarakan pandangan saya dengan sangat jelas, dengan penekanan utama kepada “hak pulang” bangsa Palestina, peristiwa-peristiwa pada 1948, dan tanggung jawab Israel atas semua itu. Saya terkejut bahwa pandangan-pandangan saya ditampilkan seperti apa yang saya sampaikan, tanpa sedikit pun penyuntingan dari Shavit, yang pertanyaan-pertanyaannya selalu sopan dan tidak konfrontatif.

Satu minggu setelah wawancara itu, muncul respon dari Meron Benvenisti, mantan wakil walikota Yerusalem di bawah Teddy Kollek. Respon itu begitu mengerikan secara personal: penuh dengan cacian dan serangan terhadap pribadi dan keluarga saya. Namun, Benvenisti tidak pernah mengingkari eksistensi bangsa Palestina, atau bahwa kami diusir dari tanah air kami pada 1948. Faktanya, dia mengatakan, “Kami menundukkan kalian, lantas mengapa kami harus merasa bersalah?” Saya menanggapi Benvenisti satu minggu kemudian di Haaretz. Apa yang saya tulis juga diterbitkan tanpa dipangkas. Saya mengingatkan para pemimpin Israel bahwa Benvenisti bertanggung jawab atas pembumihangusan (dan mungkin mengetahui pembunuhan sejumlah orang Palestina) Haret al-Magharibah pada 1967, yang di dalamnya ratusan orang Palestina kehilangan rumah-rumah mereka karena dihancurkan buldozer-buldozer Israel. Namun, saya tidak harus mengingatkan Benvenisti atau para pembaca Haaretz bahwa sebagai sebuah bangsa, kami (bangsa Palestina—penerj.) eksis dan setidaknya bisa mempertanyakan hak pulang kami (right of return). Hal itu sudah menjadi kebenaran yang diterima begitu saja (taken for granted).

Ada dua hal di sini. Pertama, keseluruhan wawancara tersebut tidak akan bisa tampil di suratkabar Amerika mana pun, dan pastinya tidak di jurnal Yahudi-Amerika mana pun. Dan kalaupun ada wawancara, maka pertanyaan untuk saya akan menjadi konfrontatif, intimidatif, penuh hinaan, seperti, mengapa anda terlibat dalam terorisme, mengapa anda tidak mengakui Israel, kenapa Haji Amin seorang Nazi, dan lain sebagainya. Kedua, orang Israel sayap kanan, seperti Benvenisti, tak peduli seberapa besar ia membenci saya dan pandangan saya, tidak akan mengingkari eksistensi bangsa Palestina yang dipaksa pergi pada 1948. Seorang Zionis Amerika sejak awal akan mengatakan bahwa tidak ada pendudukan yang terjadi atau, seperti yang diklaim Joan Peters dalam buku terbitan 1984 yang kini menghilang dan dilupakan, From Time Immemorial (yang memenangi hampir semua penghargaan Yahudi ketika terbit di sini), bahwa tidak ada bangsa Palestina yang hidup di Palestina sebelum 1948.

Setiap orang Israel akan siap mengakui dan tahu secara persis bahwa seluruh Israel sekarang ini dulunya adalah Palestina, bahwa (sebagaimana yang juga diakui Moshe Dayan [3] secara terbuka pada 1976) setiap kota atau desa Israel dulunya memiliki nama-nama Arab. Dan Benvenisti pun mengatakan secara terbuka, “Kami menjajah, lantas apa?” “Mengapa kami harus merasa bersalah karena kemenangan kami?” Diskursus Zionis Amerika tidaklah pernah sejujur itu. Ia selalu saja berputar dan berbicara mengenai penciptaan padang pasir menjadi subur atau demokrasi Israel, dan lain-lain, sehingga benar-benar menghindari fakta-fakta esensial mengenai 1948, dimana setiap orang Israel secara aktual menyadarinya. Bagi Zionis Amerika, semua itu adalah fantasi, atau mitos, bukan realitas. Begitu tercerabut dari aktualitas dan begitu terperangkap ke dalam superioritas sebagai minoritas yang paling sukses dan digdaya di Amerika Serikat itulah Zionis Amerika, sehingga apa yang muncul seringkali adalah kecemasan yang bercampur dengan kekerasan eksplisit terhadap Arab dan ketakutan yang mendalam serta kebencian kepada mereka. Ini adalah hasil dari, tidak seperti Yahudi Israel, ketiadaan hubungan langsung yang berkelanjutan antara Zionis Amerika dengan Arab.

Dengan demikian, bagi Zionis Amerika, Arab bukanlah sesuatu yang nyata, tetapi fantasi dari segala sesuatu yang selalu bisa dijelek-jelekkan dan dibenci; terorisme dan anti-Semitisme lebih khususnya. Saya pernah menerima surat dari seorang bekas mahasiswa saya, yang memperoleh keuntungan karena mendapatkan suatu pendidikan terbaik di AS: dia masih mampu menampikan dirinya untuk bertanya kepada saya secara jujur dan sopan, mengenai mengapa, sebagai seorang Palestina, saya membiarkan seorang Nazi seperti Haji Amin bisa membentuk agenda politik saya, “Sebelum Haji Amin,” dia berkomentar, “Yerusalem tidak penting bagi Arab. Karena begitu jahat, ia membuat Yerusalem menjadi isu penting bagi Arab dengan tujuan hanya untuk menggagalkan keinginan Zionis yang selalu memandang Yerusalem penting bagi mereka.” Jelas ini bukanlah logika bagi seseorang yang pernah hidup bersama Arab dan mengetahui sesuatu yang konkret mengenai Arab. Ini adalah tentang seseorang yang membicarakan sebuah diskursus yang terorganisasi dan diarahkan oleh sebuah ideologi yang hanya memandang Arab sebagai sebuah fungsi negatif, sebagai manifestasi dari hasrat-hasrat jahat anti-Semit. Dengan sendirinya, maka Arab adalah untuk diperangi dan, jika mungkin, dibuang jauh-jauh. Tak terkecuali Dr. Baruch Goldstein, pembunuh berdarah dingin atas 29 orang Palestina yang tengah mendirikan salat dengan tenang di mesjid Hebron, adalah seorang Amerika, dan juga Rabbi Meir Kahane [4]. Alih-alih dipandang sebagai penyimpangan yang memalukan bagi para pengikut mereka, baik Kahane maupun Goldstein kini malah dihormati oleh orang-orang lain yang serupa dengan keduanya. Sebagian besar imigran (Yahudi) radikal kanan paling fanatik yang kini menduduki tanah Palestina tanpa kenal lelah berbicara tentang “tanah Israel” seolah-olah tanah itu milik mereka dan membenci serta mengabaikan para pemilik tanah dan pemukim Palestina di sekitar mereka. Dan mereka ternyata juga kelahiran Amerika. Melihat mereka melangkah di jalan-jalan Hebron, seolah-olah kota Arab itu seluruhnya kepunyaan mereka, adalah sebuah pemandangan yang menakutkan. Ini dipicu oleh sikap kasar dan penghinaan yang mereka tampilkan secara terang-terangan terhadap mayoritas Arab.

Saya mengungkapkan semua itu di sini adalah untuk menyampaikan satu hal esensial. Setelah Perang Teluk, ketika PLO mengambil keputusan strategis—yang telah ditempuh sebelumnya oleh dua negara utama Arab—untuk bekerja sama dengan pemerintah Amerika Serikat dan jika mungkin dengan lobi kuat yang menguasai perdebatan soal kebijakan Timur Tengah, mereka telah membuat keputusan tersebut berdasarkan atas kepandiran yang besar dan asumsi-asumsi yang luar biasa salah. Gagasan itu, sebagaimana diungkapkan kepada saya setelah 1967 oleh seorang diplomat Arab, adalah untuk benar-benar menyerah, atau katakan saja, kami tidak ingin lagi berjuang. Kini kami bersedia menerima Israel dan juga menerima peran menentukan AS terhadap masa depan kami. Pada saat itu, dan juga kini, terdapat alasan-alasan objektif bagi pandangan semacam itu, yakni untuk apa lagi berjuang jika semua itu hanya menghasilkan kekalahan yang lebih jauh dan bahkan bencana. Namun, saya sepenuhnya percaya bahwa adalah sebuah kebijakan yang salah untuk menyerahkan kepentingan Arab di pangkuan AS, karena organisasi-organisasi utama Zionis begitu berpengaruh di mana pun di negara itu, seraya mengatakan, kami tidak akan berjuang lagi, izinkan kami bergabung dengan kalian tetapi perlakukan kami dengan baik. Harapannya adalah bahwa jika kami menerima dan mengatakan, kami tidak lagi menjadi musuh kalian, maka sebagai Arab kami akan menjadi teman kalian. Persoalannya adalah kesenjangan kekuatan yang ada. Bagi yang kuat, perbedaan apakah yang bisa diharapkan dari strategi mereka jika musuh mereka yang lemah menyerah dan mengatakan, kami tidak akan berjuang lagi, ajaklah kami, kami ingin menjadi sekutu kalian, hanya tolong pahami kami sedikit lebih baik dan kemudian kalian akan menjadi lebih adil?

Cara terbaik untuk menjawab pertanyaan ini dalam terminologi yang praktis dan konkret adalah dengan memerhatikan proses pemilihan senator di New York, ketika Hillary Clinton bersaing dengan calon Republik Ric Lazio untuk memperebutkan kursi yang ditinggalkan Daniel Patrick Moynihan (D). Akhir tahun lalu, Hillary mengatakan bahwa dia mendukung berdirinya sebuah negara Palestina dan, dalam kunjungan resmi ke Gaza bersama suaminya, memeluk Suha Arafat. Namun, sejak memasuki persaingan kursi senat di New York, dia malah telah mengalahkan Zionis sayap kanan yang paling radikal sekalipun dalam fanatisme kepada Israel dan penentangan kepada Palestina. Lebih jauh, dia bahkan mendorong pemindahan kedutaan besar AS dari Tel Aviv ke Yerusalem dan (jauh lebih ekstrem) mengkampanyekan keringanan hukuman bagi Jonathan Pollard, analis intelijen Angkatan Laut AS yang divonis sebagai mata-mata Israel karena telah mengungkapkan sejumlah data intelijen kepada Israel, dan kini menjalani hukuman seumur hidup.

Para pesaing Hillary dari Partai Republik berupaya mempermalukannya dengan menyebutnya sebagai “pecinta Arab” dengan merilis sebuah foro dimana ia memeluk Suha. Karena New York adalah pusat kekuasaan Zionis, maka menyerang seseorang dengan label semacam itu, “pecinta Arab” dan “sahabat Suha Arafat”, sama artinya dengan sebuah penghinaan terburuk yang paling mungkin dilakukan. Semua ini tentu saja terlepas dari kenyataan bahwa Arafat dan PLO justru telah menyatakan diri mereka sebagai sekutu Amerika, penerima bantuan militer dan keuangan AS, dan penikmat dukungan keamanan Dinas Intelijen Pusat CIA.

Dalam kesempatan yang berbeda, Gedung Putih pun kemudian merilis sebuah foto yang menampilkan Lazio sedang berjabat tangan dengan Arafat dua tahun yang lalu. Satu serangan tampaknya layak mendapatkan balasannya.

Fakta sebenarnya adalah bahwa diskursus Zionis merupakan diskursus kekuatan, dan Arab dalam diskursus itu adalah objek dari kekuatan—objek yang tidak termaafkan. Dengan menyerahkan posisi tawar Palestina kepada kekuatan ini sebagai bekas musuh yang menyerah, maka Palestina tidak akan pernah dipandang dalam terminologi yang setara dengan kekuatan tersebut. Karenanya, pertunjukkan yang merendahkan dan menghinakan Arafat (selalu dan selamanya dipandang sebagai simbol kebencian kepada pemikiran Zionis) telah dan terus akan digunakan dalam keseluruhan persaingan lokal di Amerika antara dua kompetitor yang mencoba membuktikan siapa di antara mereka yang lebih pro-Israel. Dan bahkan keduanya, baik Hillary Clinton maupun Ric Lazio, bukanlah Yahudi.

Apa yang hendak saya diskusikan dalam bagian selanjutnya adalah bagaimana satu-satunya strategi politik yang mungkin bagi AS sejauh terkait kebijakan mengenai Arab dan Palestina bukanlah sebuah kesepakatan dengan Zionis maupun dengan kebijakan AS. Namun, strategi itu adalah sebuah mobilisasi kampanye publik yang diarahkan kepada rakyat AS demi kepentingan hak-hak kemanusiaan, sipil, dan politik bangsa Palestina. Semua kesepakatan, apakah itu Oslo atau Camp David, akan gagal karena, sederhananya, diskursus resmi mengenai Palestina secara total didominasi oleh Zionisme dan, dengan beberapa pengecualian, tidak ada alternatif lain yang mungkin. Dengan demikian, semua kesepakatan damai yang diambil atas dasar sebuah persekutuan dengan AS adalah kesepakatan yang justru lebih menjustifikasi kekuatan Zionisme ketimbang melawannya. Untuk menyerah begitu saja kepada kebijakan Timur Tengah yang didominasi Zionis, sebagaimana yang Arab telah lakukan selama lebih daripada satu generasi, tidak akan menghasilkan stabilitas di Palestina dan juga kesetaraan dan keadilan di AS.

Ironinya adalah bahwa masih ada sejumlah besar opini yang siap beroposisi, baik kepada Israel maupun kebijakan luar negeri AS. Tragedinya adalah Arab terlalu lemah, terlalu bercerai-berai, sangat tidak terorganisasi, dan tidak peduli untuk mengambil keuntungan dari kesempatan tersebut. Saya juga akan membahas faktor-faktor penyebabnya pada bagian selanjutnya karena harapan saya tertuju kepada generasi baru yang mungkin terkacaukan dan terlemahkan oleh tempat yang memilukan, dimana kebudayaan dan masyarakat kami kini berada, dan oleh kemarahan yang konstan serta kehinaan yang kami semua alami sebagai akibatnya. Sebuah episode kecil tapi mungkin memalukan terjadi sejak saya menulis bagian terakhir dari artikel ini dua minggu lalu. Martin Indyk, duta besar AS kepada Israel (untuk periode kedua selama masa pemerintahan Clinton), tiba-tiba dicabut jaminan keamanan diplomatiknya oleh Departemen Luar Negeri. Ceritanya karena ia menggunakan komputer jinjingnya tanpa melalui prosedur keamanan yang semestinya, dan karenanya mungkin telah merilis informasi kepada orang-orang yang tidak berwenang. Akibatnya, ia kini tidak bisa memasuki atau meninggalkan Departemen Luar Negeri tanpa pengawasan, tidak bisa tetap berada di Israel, dan seharusnya menjalani sebuah investigasi menyeluruh.

Kita mungkin tidak bisa menemukan apa yang sebenarnya terjadi. Namun, apa yang menjadi rahasia publik dan sayangnya tidak dibahas oleh media adalah skandal penunjukkan Indyk pada kali pertamanya. Menjelang pelantikan Clinton pada Januari 1993, diumumkan bahwa Martin Indyk, yang lahir di London dan menjadi warganegara Australia, telah disumpah menjadi warganegara AS berdasarkan atas kehendak langsung presiden terpilih. Prosedur-prosedur yang semestinya tidak dilalui. Ini adalah sebuah tindakan dari hak prerogatif eksekutif, sehingga, setelah memperoleh kewarganegaraan AS, Indyk dapat segera menjadi seorang anggota Dewan Keamanan Nasional AS yang bertanggung jawab dalam kebijakan Timur Tengah. Semua ini, saya percaya, merupakan skandal yang sebenarnya, bukan kecerobohan Indyk setelahnya atau atau ketidakhati-hatiannya, atau bahkan keterlibatannya dalan mengabaikan kode-kode etik yang resmi. Karena sebelum ia datang ke jantung pemerintahan AS pada puncak dan posisi yang seringkali dijalankan secara rahasia, Indyk adalah kepala Washington Institute for Near East Policy, semacam think thank yang terlibat dalam mendukung secara aktif kepentingan Israel, dan yang mengordinasikan aktivitasnya dengan AIPAC (American Israel Public Affairs Committee), lobi paling berpengaruh dan ditakuti di Washington. Patut diperhatikan bahwa sebelum datang ke pemerintahan Bush, Dennis Ross, penasehat Departemen Luar Negeri AS yang memimpin proses perdamaian Amerika, adalah juga kepala Washington Institute. Jadi, lalu-lintas antara lobi Israel dan kebijakan Timur Tengah AS sangatlah reguler, dan memang diregulasikan.

AIPAC selama bertahun-tahun menjadi begitu berpengaruh bukan hanya karena didukung oleh populasi Yahudi yang terorganisasi, terhubungkan dengan baik, sangat menonjol, sukses, dan kaya tetapi sebagian besarnya karena sedikit sekali resistensi terhadapnya. Terdapat ketakutan dan rasa hormat yang kuat bagi AIPAC di seluruh Amerika, dan khususnya di Washington, dimana dalam beberapa jam saja nyaris seluruh anggota Senat dapat digiring untuk menandatangani sebuah surat kepada presiden demi kepentingan Israel. Siapa yang mau menentang AIPAC dan melanjutkan karirnya di Kongres, atau berhadapan dengannya demi kepentingan, katakan saja, bangsa Palestina ketika tidak ada hal konkret yang dapat ditawarkan dibandingkan dengan apa yang ditawarkan kepada siapa pun yang mendukung AIPAC? Di masa lalu, satu atau dua anggota Kongres memang melakukan resistensi terhadap AIPAC secara terbuka tetapi segera setelahnya pemilihan ulang mereka diblok oleh banyak komite aksi politik yang dikendalikan AIPAC. Satu-satunya senator yang terlihat memiliki pandangan oposisi terhadap AIPAC adalah James AbuRezk, tetapi dia menolak untuk dipilih kembali dan, karena alasannya sendiri, mengundurkan diri setelah periode enam tahunnya berakhir.

Tidak ada pengamat politik yang secara jelas dan terbuka menentang Israel di AS. Seorang kolumnis liberal, seperti Anthony Lewis dari New York Times, kadang-kadang menulis kritik terhadap praktik pendudukan Israel, tetapi tidak ada yang dikatakannya mengenai 1948 dan seluruh isu tentang pengusiran Palestina yang orisinal, yang menjadi akar dari keberadaan Israel dan perilaku-perilaku setelahnya. Dalam sebuah artikel, baru-baru ini mantan pejabat Departemen Luar Negeri AS, Henry Pracht, mengungkapkan adanya keselarasan opini yang luar biasa di semua sektor media Amerika, dari film, televisi, radio, suratkabar, hingga terbitan-terbitan mingguan, bulanan, kwartalan, dan harian: semuanya, lebih atau kurangnya, bersentuhan dengan garis kepentingan Israel, yang juga menjadi garis kebijakan resmi Amerika. Inilah keselarasan yang Zionisme Amerika capai sejak 1967, dan yang dieksploitasi dalam sebagian besar wacana publik mengenai Timur Tengah. Dengan begitu, kebijakan AS setara dengan kebijakan Israel, terkecuali dalam beberapa kesempatan yang teramat jarang (misalnya dalam kasus Pollard), dimana Israel melangkahi batas dan berasumsi bahwa ia mempunyai hak untuk menolong dirinya sendiri sesuai dengan apa yang dikehendakinya.

Kritik terhadap praktik-praktik Israel, karenanya, sangat terbatas pada manuver-manuver yang sporadik, yang sangat jarang hingga nyaris tidak terlihat. Konsensus utamanya benar-benar tak tersentuh kritik dan begitu kuat hingga dapat dipaksakan di mana-mana sebagai arus utama yang diterima. Konsensus ini terdiri dari ‘kebenaran’ yang anti-kritik mengenai status Israel sebagai negara demokrasi, kualitas dasarnya, hingga modernitas dan rasionalitas rakyat serta keputusannya. Rabbi Arthur Hertzberg, seorang agamawan liberal Amerika, suatu kali pernah mengatakan bahwa Zionisme adalah agama sekuler komunitas Yahudi Amerika. Ini didukung secara jelas oleh beragam organisasi Amerika yang perannya adalah untuk mengawasi kehidupan publik dari perbedaan, bahkan ketika banyak organisasi Yahudi lainnya menjalankan rumah sakit, musium, dan lembaga-lembaga riset demi kebaikan negara ini. Dualitas ini tampaknya adalah sebuah paradoks yang tak tertuntaskan dimana lembaga-lembaga publik yang mulia eksis bersama dengan lembaga-lembaga yang tak berhati nurani dan nyaris tidak manusiawi. Karenanya, sebagai contoh, Zionist Organization of America (ZOA), sebuah kelompok fanatik kecil tapi vokal, memasang sebuah iklan di New York Times pada 10 September 2000. Iklan ini ditujukan kepada Ehud Barak seolah-olah ia adalah pegawai yang digaji Yahudi Amerika. Iklan ini mengingatkan Barak bahwa enam juta Yahudi Amerika adalah lebih banyak daripada lima juta orang Israel yang telah memutuskan untuk menegosiasikan Yerusalem. Bahasa di dalam iklan itu bukan hanya bernada peringatan tetapi juga mengancam dengan mengatakan bahwa perdana menteri Israel secara tidak demokratis telah memutuskan apa yang ditentang oleh Yahudi Amerika, yang tidak rela dengan sikapnya. Tidaklah jelas siapa yang memberi kelompok fanatik kecil nan agresif ini sebuah mandat untuk menceramahi perdana menteri Israel dalam nada seperti itu. Namun, ZOA merasa mempunyai hak untuk mengintervensi urusan siapa pun. Mereka secara rutin menghubungi dan menulis surat kepada rektor universitas saya agar ia mengeluarkan atau mencekal saya karena sesuatu yang telah saya katakan, seolah-olah universitas sama dengan taman kanak-kanak dan para profesornya dapat diperlakukan layaknya para penjahat di bawah umur. Tahun lalu, mereka menggalakkan sebuah kampanye untuk menjatuhkan saya dari posisi sebagai presiden Modern Language Association, dimana 30 ribu anggotanya mereka ceramahi seolah-olah kumpulan orang bodoh. Ini adalah jenis intimidasi gaya Stalin yang paling buruk tetapi telah menjadi ciri khas Zionisme Amerika dalam kondisinya yang paling fanatik.

Demikian juga, selama beberapa bulan terakhir, para penulis dan editor Yahudi sayap kanan (seperti Norman Podhoretz, Charles Krauthammer, dan William Kristol—untuk menyebut beberapa nama propagandis yang paling kasar) melancarkan kritik terhadap Israel karena telah membuat mereka tidak rela, seolah-olah mereka lebih berhak memiliki label “Israel” ketimbang siapa pun. Nada bahasa mereka dalam artikel-artikel tersebut, dan artikel-artikel lainnya, benar-benar mengerikan: sebuah kombinasi dari selera rendah, kebodohan yang eksplisit, khotbah soal moral, dan bentuk kemunafikan paling buruk. Semua itu mereka sampaikan dalam suasana kepercayaan diri yang sempurna. Mereka berasumsi bahwa dengan adanya kekuatan organisasi-organisasi Zionis yang mendukung dan melindungi keliaran mereka, maka mereka bisa bebas begitu saja menampilkan verbalisme yang melewati batas. Namun, hal ini lebih banyak disebabkan oleh mayoritas orang Amerika yang tidak peduli kepada apa yang mereka katakan atau diintimidasi untuk bungkam sehingga membuat mereka terus melenggang dengan semua omong kosong tersebut. Hanya sedikit orang Amerika yang bersentuhan dengan aktualitas-aktualitas politik Timur Tengah yang sebenarnya. Bahkan, orang-orang Israel yang lebih sensitif kerap memandang jijik orang-orang seperti itu.

Zionisme Amerika kini telah mencapai level dari sesuatu yang nyaris murni fantasi, yakni bahwa apa yang baik bagi Zionis Amerika, dalam hegemoni mereka dan wacana fiksi mereka, adalah baik bagi Amerika dan Israel, dan tentunya bagi Arab, Muslim, dan Palestina, yang dipandang tak lebih daripada sekedar rasa gatal yang bisa diabaikan. Siapa pun yang menentang dan berani menantang mereka (khususnya ketika dia seorang Arab atau Yahudi yang mengkritik Zionisme) akan menjadi korban dari pembunuhan karakter dan kekerasan yang paling buruk, dimana semuanya bersifat personal, rasis, dan ideologis. Mereka tak pernah mengenal lelah dan benar-benar tanpa rasa kasih sayang atau kemanusiaan yang tulus. Mengatakan bahwa serangan dan analisis mereka seperti Perjanjian Lama dalam praktiknya adalah sama dengan menghina Perjanjian Lama itu sendiri.

Dengan kata lain, menjalin persekutuan dengan mereka, seperti yang coba dijustifikasi oleh negara-negara Arab dan PLO sejak Perang Teluk, adalah sebuah ketidakpedulian yang paling bodoh. Zionis Amerika secara dogmatis menentang segala hal yang Arab, Muslim, dan khususnya bangsa Palestina perjuangkan serta dengan segera akan menghancurkan segala sesuatunya alih-alih membuat kesepakatan damai dengan kita. Adalah juga benar adanya bahwa sebagian besar orang awam dikacaukan oleh antusiasme dalam nada bahasa mereka seraya tidak menyadari apa yang sebenarnya berada di balik itu. Kapan pun anda berbicara tentang Palestina dengan orang-orang Amerika yang bukan Yahudi atau Arab, dan tidak akrab dengan persoalan Timur Tengah, seringkali terdapat kemarahan yang ditunjukkan lewat sikap intimidatif, seolah-olah seluruh Timur Tengah adalah milik mereka untuk mereka ambil. Zionisme di Amerika, saya simpulkan, hanyalah sebuah fantasi yang dibangun di atas fondasi yang lemah. Tidaklah mungkin menjalin persekutuan atau melakukan pertukaran rasional dengannya. Namun, ia juga dapat dibongkar dan dikalahkan.

Berkali-kali sejak pertengahan 1980-an, saya menyatakan kepada para pemimpin PLO dan setiap orang Palestina serta Arab yang saya temui bahwa upaya PLO untuk menarik perhatian presiden AS sepenuhnya merupakan sebuah ilusi karena semua presiden AS kontemporer telah mendedikasikan dirinya kepada Zionisme. Saya mengusulkan bahwa satu-satunya jalan untuk mengubah kebijakan AS dan memperoleh hak menentukan nasib sendiri adalah dengan melalui sebuah kampanye publik yang langsung kepada rakyat Amerika tentang hak-hak asasi bangsa Palestina, yang berefek pada terbongkarnya Zionisme. Sebagai populasi yang tidak tercerahkan oleh informasi dan masih terbuka kepada rasa keadilan, orang-orang Amerika akan bereaksi seperti yang mereka lakukan terhadap rezim apartheid ANC, yang pada akhirnya mengubah keseimbangan di dalam Afrika Selatan. Secara berimbang di sini, saya harus menyebutkan bahwa James Zogby, sebelumnya adalah seorang aktivis hak asasi manusia yang energik (sebelum dia menjalin hubungan dengan Arafat, pemerintah AS, dan Partai Demokrat), dulu merupakan seorang pelopor ide tersebut. Bahwa dia mengabaikannya sekarang hanyalah tanda bahwa dia telah berubah, dan bukan tanda invaliditas ide itu sendiri.

Namun, juga menjadi jelas bagi saya bahwa PLO tidak akan pernah melakukan ide itu karena beberapa alasan. Pertama, ide itu membutuhkan kerja keras dan dedikasi. Kedua, ia berarti mencakup sebuah pandangan filosofis yang benar-benar berbasiskan pada organisasi akar-rumput yang demokratis. Ketiga, ia harus menjadi sebuah pergerakan daripada sekedar sebuah inisiatif pribadi dalam kaitan dengan pemimpin-pemimpin yang ada sekarang. Dan terakhir, ia meniscayakan sebuah pengetahuan riil, dan bukan superfisial, tentang masyarakat AS. Di samping itu, saya merasa bahwa pemikiran konvensional yang selama ini mengunci kita dalam satu posisi yang buruk adalah sesuatu yang sulit diubah, dan waktu ternyata membuktikan hal itu benar. Kesepakatan Oslo adalah sebuah penerimaan yang tak terbayangkan oleh Palestina bagi supremasi Israel-AS, alih-alih sebuah upaya untuk mengubahnya.

Bagaimanapun, setiap aliansi atau kompromi dengan Israel dalam situasi dan kondisi sekarang, ketika kebijakan AS benar-benar didominasi Zionisme Amerika, dapat dipastikan hanya memunculkan hasil yang sama bagi Arab secara umum dan bangsa Palestina pada khususnya. Israel harus dominan, kepentingan Israel lebih utama, dan ketidakadilan sistemik Israel dapat terus berlangsung. Terkecuali Zionisme Amerika diatasi dan dilucuti—sebuah tugas yang sejatinya tidak sulit, seperti yang akan saya tunjukkan pada bagian selanjutnya—maka hasilnya akan sama: kepedihan dan kehinaan bagi kami sebagai Arab.

Peristiwa-peristiwa selama empat minggu terakhir di Palestina benar-benar menjadi kemenangan bagi Zionisme Amerika Serikat untuk pertama kalinya sejak kemunculan kembali pergerakan nasional Palestina modern pada akhir 1960-an. Wacana politik dan publik dengan sangat definitif mentransformasi Israel menjadi ‘korban’ dalam beberapa konflik terakhir. Bahkan meskipun dilaporkan 140 orang Palestina meninggal dan hampir 5000 lainnya terluka, tetap saja dikatakan bahwa “kekerasan orang Palestina” adalah faktor yang menghalangi kelancaran “proses perdamaian”.

Kini ada sebuah ritual kecil dari ungkapan-ungkapan yang setiap pengamat akan mengulanginya kata demi kata atau bergantung kepadanya sebagai sebuah asumsi yang tak terkatakan; semua itu telah terukir di dalam telinga, pikiran, dan ingatan sebagai pembimbing bagi orang yang bingung; sebuah manual atau mesin untuk menghasilkan ungkapan-ungkapan yang telah menghentikan udara selama, paling tidak, satu bulan. Saya dapat membacakan kembali sebagian besar dari ungkapan itu, bahwa: Barak menawarkan konsensi yang lebih banyak di Camp David daripada perdana menteri Israel sebelumnya (90 persen wilayah dan kedaulatan terbatas atas Yerusalem); Arafat penakut dan tidak memiliki keberanian untuk menerima tawaran Israel demi mengakhiri konflik; kekerasan orang Palestina, yang diarahkan oleh Arafat, telah mengancam Israel (semua jenis variasi mengenai ini, termasuk keinginan untuk mengeliminasi Israel, anti-Semitisme, bom bunuh diri untuk tampil di televisi, dan menempatkan anak-anak di garis depan hingga mereka menjadi martir) dan membuktikan bahwa “kebencian” klasik kepada Yahudi memotivasi orang-orang Palestina; Arafat adalah seorang pemimpin lemah yang mengizinkan dan memprovokasi rakyatnya untuk menyerang Yahudi dengan merilis para teroris dan memproduksi buku-buku sekolah yang mengingkari eksistensi Israel.

Mungkin terdapat satu atau dua formula lainnya yang tidak saya kutipkan, tetapi gambaran umumnya adalah bahwa Israel dikelilingi oleh para barbarian yang melempari batu sehingga bahkan rudal-rudal, tank-tank, dan helikopter-helikopter pemburu yang digunakan untuk “membela” Israel dari kekerasan hanyalah sebuah upaya untuk mencegah kekuatan yang mengerikan itu. Perintah Bill Clinton (dengan penuh kesetiaan ditirukan menteri luar negerinya) kepada Palestina untuk “mundur” berhasil mengesankan bahwa orang-orang Palestina menginfiltrasi wilayah Israel, dan bukan sebaliknya.

Juga penting untuk disebutkan bahwa begitu berhasilnya upaya Zionisasi media ini sehingga tidak pernah ada sebuah peta pun yang diterbitkan atau ditunjukkan di televisi untuk mengingatkan para pembaca dan pemirsa Amerika—yang sangat tidak peduli dengan geografi dan sejarah—bahwa kamp-kamp, pemukiman-pemukiman, jalan-jalan, dan barikade-barikade Israel-lah yang mencacah tanah orang Palestina di Gaza dan Tepi Barat. Lebih jauh, seperti di Beirut pada 1982, terjadi sebuah pengepungan riil Israel terhadap orang Palestina, termasuk terhadap Arafat dan orang-orangnya. Yang benar-benar telah dilupakan—jika ini memang benar-benar dipahami—adalah sistem wilayah A, B, dan C yang dengannya pendudukan militer Israel terhadap 40 persen Gaza dan 60 persen Tepi Barat terus berlangsung, dan yang proses perdamaian Oslo tidak pernah benar-benar dirancang untuk mengakhirinya, atau bahkan tidak memodifikasinya sama sekali.

Sebagaimana yang ditunjukkan oleh tidak adanya geografi dalam konflik yang sebagian besarnya bersifat geografis ini, maka kelemahan yang dihasilkan adalah hal yang sangat penting karena gambar-gambar ditampilkan atau dijelaskan tanpa konteks sama sekali. Menurut saya, penghapusan oleh media yang terzionisasi ini adalah tindakan yang disengaja pada awalnya dan kini lambat-laun menjadi hal biasa. Media yang terzionisasi memberikan tempat kepada para komentator palsu, seperti Thomas Friedman, untuk menjajakan komoditasnya tanpa perasaan malu sedikit pun, menyuarakan ketidakberpihakan Amerika, fleksibilitas dan kedermawanan Israel, dan pragmatismenya yang bijaksana, yang dengannya dia mengecam para pemimpin Arab dan mengejutkan para pembacanya yang membosankan. Ia tidak hanya membiarkan anggapan yang luar biasa absurd tentang Palestina yang menyerang Israel untuk tampil ke permukaan tetapi lebih jauh mendehumanisasi Palestina sebagai binatang-binatang buas yang memangsa tanpa kesadaran dan motif. Ada sedikit pertanyaan mengapa ketika catatan mengenai siapa yang tewas dan terluka disebutkan, tidak ada informasi mengenai kebangsaan mereka? Hal ini jelas untuk membiarkan orang-orang Amerika berasumsi bahwa penderitaan terbagi secara seimbang di antara “kelompok-kelompok yang bertikai”, dan pada kenyataannya menonjolkan penderitaan Yahudi dan mereduksi atau menghilangkan sama sekali perasaan orang-orang Arab, terkecuali tentu saja bagi kemarahan mereka. Kemarahan dan faktor-faktor penyebabnya tinggal menjadi satu-satunya cara mendefinisikan emosi orang-orang Palestina. Hal itu menjelaskan kekerasan, dan memang, memperlakukannya sedemikian rupa sehingga Israel harus tampil sebagai representasi dari keluhuran moral dan demokrasi yang selamanya dikelilingi oleh kemarahan dan kekerasan. Tidak ada proses lain yang secara logis bisa menjelaskan para pelempar batu itu dan keperkasaan “pertahanan” Israel.

Tidak ada yang dikatakan mengenai penghancuran rumah, perampasan lahan, penahanan ilegal, penyiksaan, dan yang sejenisnya. Tidak ada yang dikutip mengenai apa yang disebut (kecuali bagi pendudukan Jepang atas Korea) pendudukan militer terlama dalam sejarah modern; tidak ada mengenai resolusi-resolusi PBB; tidak ada tentang pelanggaran Israel terhadap seluruh Konvensi Jenewa; tidak ada yang dikatakan mengenai penderitaan sebuah bangsa dan kekeraskepalaan bangsa lainnya. Lupakan tentang bencana (Nakba) pada 1948, pembersihan dan pembantaian etnis, penghancuran Qibya, Kafr Qassem, Shabra serta Shatila, dan periode panjang pemerintahan militer bagi warga Israel non-Yahudi tidak mengatakan apa pun tentang penindasan yang terus berlangsung terhadap mereka sebagai 20 persen minoritas yang dikorbankan di dalam negara Yahudi. Ariel Sharon, dikatakan, sebagai provokator terbaik, dan bukan seorang penjahat perang sementara Ehud Barak adalah negarawan, dan bukan penjagal Beirut. Terorisme selalu menjadi catatan di pihak Palestina sementara “membela diri” adalah milik Israel.

Apa yang abai disebut Friedman dan “para pecinta perdamaian” pro-Israel ketika mereka memuji kedermawanan Barak yang tak terbayangkan sebelumnya adalah substansi sebenarnya dari hal itu. Kita tidak diingatkan bahwa komitmen Barak untuk melakukan penarikan mundur yang ketiga (dari sekitar 12 persen wilayah pendudukan) yang dibuat di Wye 18 bulan yang lalu tidak pernah terjadi. Maka, nilai apakah yang lebih daripada “konsesi” seperti itu? Kita diberi tahu bahwa Barak akan mengembalikan 90 persen wilayah. Apa yang diabaikan adalah bahwa 90 persen merupakan nilai yang Israel tidak pernah akan kembalikan. Yerusalem Raya pastinya adalah 30 persen Tepi Barat; pemukiman besar yang harus dianeksasi adalah 15 persen lagi; jalan-jalan militer di wilayah-wilayah itu belum diputuskan. Jadi setelah semua ini dideduksikan, 90 persen sama sekali bukan jumlah yang banyak.

Mengenai Yerusalem, konsesi Israel pada prinsipnya adalah mereka konon berkeinginan untuk membahasnya dan mungkin, cuma mungkin, menawarkan pembagian otoritas yang sama atas Haram asy-Syarif. Kemunafikan yang mengejutkan dari persoalan ini adalah bahwa seluruh Yerusalem Barat (mayoritasnya Arab pada 1948) telah disepakati oleh Arafat, plus sebagian besar Yerusalem Timur yang diperluas. Sebuah rincian yang lebih jauh: orang-orang Palestina yang menembakkan senjata-senjata kecil mereka ke Gilo secara rutin dibuat seakan-akan seperti kekerasan yang tak ada pemicunya, sementara tak ada seorang pun yang menyebutkan bahwa Gilo itu sendiri berdiri di atas tanah yang dirampas dari Beit Jala, tempat dimana tembakan itu berasal. Di samping itu, Beit Jala secara membabi-buta terus dihujani rudal oleh helikopter Israel untuk menghancurkan rumah-rumah penduduk sipil.

Saya melakukan sebuah survei terhadap suratkabar-suratkabar utama. Beberapa kali sejak 28 September, terdapat setidaknya antara satu hingga tiga artikel rata-rata setiap harinya di New York Times, Washington Post, Wall Street Journal, Los Angeles Times, dan Boston Globe. Dengan pengecualian, mungkin, sekitar tiga artikel yang ditulis dari sudut pandang pro-Palestina di Los Angeles Times, dan dua lainnya (satu ditulis oleh seorang pengacara Israel, Alegra Pacheco, dan yang lainnya oleh jurnalis liberal pro-Oslo asal Yordania, Rami Khoury) di New York Times, seluruh artikel yang diterbitkan—termasuk yang ditulis para kolumnis reguler seperti Friedman, William Safire, Charles Krauthammer, dan yang serupa dengan mereka—berposisi mendukung Israel, proses perdamaian yang disponsori AS, dan ide bahwa kekerasan Palestina, kurangnya kerja sama Arafat, dan fundamentalisme Islam adalah yang patut dipersalahkan. Para penulis yang dimaksud, semuanya, merupakan mantan pejabat militer dan sipil AS, pejabat dan apologis Israel, para spesialis dan ahli, serta pejabat-pejabat lobi dan organisasi pro-Israel. Dengan kata lain, peliputan media arus utama telah benar-benar berasumsi bahwa pandangan Palestina atau Arab atau Muslim mengenai persoalan-persoalan seperti taktik teror Israel terhadap penduduk sipil, kolonialisme pemukiman, dan pendudukan militer sama sekali tidak ada, atau tidak berharga untuk didengar. Hal ini terjadi bukan tanpa preseden dalam catatan jurnalisme AS, dan merupakan sebuah refleksi langsung dari pola pikir Zionis yang menjadikan Israel sebagai norma dalam perilaku manusia, yang dengan begitu mengenyampingkan pertimbangan yang setara dari eksistensi 300 juta Arab dan 1,2 milyar Muslim.

Pola pikir yang sudah saya gambarkan sungguh mengerikan dalam kesembronoannya dan, jika hal itu bukan sebuah distorsi realitas secara praktis dan juga aktual, orang bisa dengan sangat mudah berbicara tentang sebuah bentuk gangguan kejiwaan. Dan ia sangat bersesuaian dengan kebijakan resmi Israel dalam berhadapan dengan Palestina, bukan sebagai bangsa dengan sejarah tentang perampasan hak milik dimana dalam sebagian besar kasus Israel bertanggung secara langsung, tetapi sebagai suatu gangguan periodik bagi mereka yang memandang kekuatan, dan bukan pemahaman serta akomodasi penuh, sebagai satu-satunya respon yang mungkin. Segala sesuatu selain itu jelas tidak pernah terlintas dalam pikiran. Ketidakpedulian yang luar biasa ini diperparah di Amerika Serikat karena Arab dan Muslim jarang dipedulikan kecuali sebatas (seperti yang sudah saya tulis sebelumnya) menjadi objek setiap politikus yang berambisi tinggi. Beberapa hari yang lalu, Hillary Clinton mengumumkan, dengan sebuah isyarat kemunafikan yang sangat menjijikkan, bahwa dia telah mengembalikan donasi sebesar $50,000 dari sebuah kelompok Muslim-Amerika karena, Hillary berkata, mereka mendukung terorisme; hal ini sesungguhnya adalah sebuah dusta yang luar biasa, karena kelompok yang dipersoalkan hanya mengatakan bahwa mereka mendukung resistensi bangsa Palestina terhadap Israel selama periode-periode krisis, dan dengan sendirinya bukanlah posisi yang problematik tetapi tetap dipandang kriminal di dalam sistem Amerika hanya karena Zionisme yang totaliter menuntut semua—dan lebih jelasnya saya bermaksud “setiap”—kritik terhadap apa yang Israel lakukan tidak dapat ditoleransi dan termasuk ke dalam kategori anti-Semitisme. Dan hal ini terjadi meski faktanya (kembali dalam maknanya yang paling jelas) seluruh dunia mengecam kebijakan-kebijakan pendudukan militer Israel, kekejaman yang tak sebanding, dan pengepungan bangsa Palestina. Di Amerika, anda harus menahan diri untuk tidak melancarkan kritik apa pun terhadap Israel jika anda tidak ingin didakwa sebagai seorang anti-Semit yang meniscayakan penghinaan yang brutal.

Keanehan lebih lanjut dari Zionisme Amerika, yang merupakan sebuah sistem pemikiran antitesis dan distorsi gaya Orwellian, adalah bahwa tidak diizinkan untuk berbicara tentang kekejaman Yahudi, atau tindakan-tindakan Yahudi yang berkaitan dengan Israel, meskipun segala yang dilakukan Israel dilakukan atas nama Yahudi, untuk, dan oleh negara Yahudi. Fakta bahwa negara seperti itu (Israel) secara istilah tidaklah cocok, karena hampir 20 persen populasinya bukanlah Yahudi, tidak pernah disampaikan kepada publik dan hal ini juga bertanggung jawab terhadap kesenjangan yang luar biasa, dan memang disengaja, antara apa yang media sebut sebagai “Arab Israel” dengan “Palestina”: mungkin tak seorang pembaca atau pemirsa pun tahu bahwa mereka adalah orang-orang yang sama, yang dalam kenyataannya dipisahkan oleh kebijakan Zionis, atau bahwa kedua komunitas itu merepresentasikan akibat dari kebijakan Israel—kasus apartheid di satu sisi, dan pendudukan militer serta pembersihan etnis di sisi lain.

Ringkasnya, Zionisme Amerika telah menciptakan setiap diskusi publik yang serius mengenai Israel, penerima bantuan asing AS terbesar yang pernah ada, baik masa lalunya maupun masa depannya, sebuah tabu yang tidak boleh dilanggar dalam situasi apa pun. Untuk menyatakan hal ini secara jelas sebagai tabu terakhir di dalam diskursus Amerika akan dipandang sebagai suatu pernyataan yang dibesar-besarkan. Aborsi, homoseksualitas, hukuman mati, bahkan anggaran militer yang suci itu telah dibicarakan dengan bebas (meski selalu harus berada di dalam batas). Bendera Amerika bisa saja dibakar di muka umum, sementara kesinambungan sistematis perlakuan Israel selama 52 tahun terhadap Palestina hampir tak terbayangkan, sebuah kisah yang tidak boleh muncul ke hadapan publik.

Konsensus ini hingga batas-batas tertentu mungkin dapat ditoleransi selama tidak menjadikan dehumanisasi yang terus berlangsung terhadap orang-orang Palestina itu sebagai sesuatu yang bermoral. Tidak pernah ada bangsa di dunia pada hari ini yang pembunuhan terhadap mereka di layar-layar televisi dipandang oleh mayoritas pemirsa Amerika untuk diterima sebagai sebuah hukuman yang wajar. Inilah yang menimpa Palestina yang kematian warganya sehari-harinya dipersepsikan di bawah judul “kekerasan dua pihak”, seolah-olah batu dan katapel anak-anak muda itu, yang lelah dengan ketidakadilan dan penindasan, merupakan kekerasan yang lebih utama alih-alih resistensi mereka yang berani terhadap perendahan nasib yang ditakar kepada mereka, bukan hanya oleh para prajurit Israeli dengan senjata buatan Amerika tetapi juga oleh sebuah “proses damai” yang dirancang untuk memenjarakan mereka di dalam Bantustan [5] dan tempat-tempat penampungan yang hanya cocok untuk binatang.

Bahwa para pendukung Israel di Amerika selama tujuh tahun merencanakan demi menghasilkan suatu dokumen yang utamanya didesain untuk memenjarakan banyak orang layaknya para pesakitan dalam sebuah tempat rehabilitasi atau penjara, adalah sebuah kejahatan yang nyata. Dan bahwa ini bisa disamarkan sebagai perdamaian alih-alih sebagai kebinasaan yang memang terjadi selama ini telah melampaui kemampuan saya untuk memahami atau cukup menggambarkannya sebagai sesuatu yang tidak lain daripada kebejatan yang tanpa batas. Hal terburuk dari semua ini adalah begitu tebalnya dinding yang membatasi wacana tentang Israel di Amerika, bahwa tidak ada pertanyaan yang dapat diajukan kepada pikiran mereka yang menghasilkan Oslo dan bahwa selama tujuh tahun rencana mereka disamarkan kepada dunia sebagai “perdamaian”. Nyaris tidak ada orang yang mengetahui manakah yang lebih jahat: mentalitas yang berpikir bahwa Palestina bukan entitas yang berhak untuk mengekspresikan perasaan ketidakadilan mereka (mereka terlalu rendah bagi hal itu) ataukah mentalitas yang terus merencanakan perbudakan atas mereka?

Apakah seluruh hal tersebut sudah cukup buruk? Namun, status kita yang menyedihkan terkait Zionisme Amerika semakin diperparah oleh tidak adanya institusi di sini atau di dunia Arab yang siap dan mampu menghasilkan sebuah alternatif. Saya cemas bahwa peliputan seputar batu yang dilemparkan para pengunjuk rasa di Bethlehem, Gaza, Ramallah, Nablus, dan Hebron tidak cukup terefleksikan di dalam kepemimpinan Palestina yang serba ragu, tidak mampu untuk mundur ataupun bergerak maju. Dan ini adalah kemalangan yang terakhir.

CATATAN:
[1] Dimuat sebagai artikel berseri di Al Ahram Weekly, 21-27 September, 2-8 November, Edisi No. 500-506.
[2] Edward Said (1935-2003) adalah teoritikus sastra Amerika-Palestina. Ia lahir dari keluarga Palestina Protestan. Posisi terakhirnya adalah Gurubesar Kesusastraan Inggris dan Komparatif pada Universitas Colombia, dan dipandang sebagai salah satu figur pelopor dalam teori posmodernisme. Dalam dunia Islam dan Ketimuran, Said dikenal sebagai salah seorang yang pertama menjelaskan dan mengkritik “Orientalisme”. Selain itu, ia juga populer sebagai aktivis pembela hak-hak bangsa Palestina. Awalnya, Said mendukung “solusi dua negara” dan masuk ke dalam Palestinian National Council (PNC) sebagai salah seorang anggotanya. Menjelang penandatanganan Kesepakatan Oslo 1993, Said mengundurkan diri dari PNC karena merasa Oslo sebagai pengkhianatan atas bangsa Palestina dan tidak akan pernah menghasilkan berdirinya negara Palestina yang berdaulat. Secara khusus, ia menyebut Yasser Arafat telah menjual “hak pulang” bangsa Palestina ke tanah air mereka. Akhirnya, ia mendukung “solusi satu negara” di tanah historis Palestina, dimana warganya, baik Yahudi, Arab, maupun lainnya, bisa hidup damai dan menikmati kesetaraan hak. Karena Leukemia kronis, Edward Said wafat pada 25 September 2003 di New York City pada usia 67 tahun. Pada 2006, seorang antropologis, David Price, berhasil membongkar kumpulan dokumen Biro Penyelidik Federal FBI, yang 147 halaman di antaranya berkaitan dengan Said. Sejak 1971, Said ternyata diawasi dan dimata-matai FBI dengan kode “IS Middle East” (IS= Israel).
[3] Moshe Dayan (1915-1981) adalah panglima militer tersukses dalam sejarah negara Israel. Ia menjadi simbol peperangan Israel.
[4] Meir David Kahane (1932-1990) adalah Rabbi Amerika-Israel yang berpandangan rasialis. Ia menyerukan berdirinya negara teokratik Israel Raya karena memandang bahwa bangsa Palestina tidak pernah eksis dalam sejarah.
[5] Bantustan adalah istilah yang merujuk kepada wilayah-wilayah yang ditetapkan bagi penduduk kulit hitam di Afrika Selatan sebagai bagian dari kebijakan apartheid rezim ANC.

Jumat, 06 November 2015

Kenapa Iran Mayoritas Syi'ah?



Ada beberapa sebab mengapa Syiah menjadi mayoritas di Iran. Beberapa hal di antaranya dijelaskan oleh Ayatullah Muhammad Al-Musawi kepada Al-Hafizh Muhammad Rasyid dalam dialognya di kota Peshawar.

Pertama karena ketiadaan fanatisme kebangsaan, kepentingan kelompok, dan motif kesukuan pada orang Persia. Mereka tidak terkait kepada salah satu kabilah sebagaimana kabilah Quraisy atau kabilah di Jazirah Arab lainnya. Lalu kemudian mereka menemukan hal itu pada diri Ali bin Abi Thalib. Kefanatikan dan kepentingan kelompok (suku/bani/kabilah) tidak menghalangi mereka dari jalan ahlulbait.

Kedua, karena kecerdasan dan kerasionalan mereka yang mencegah mereka bersikap fanatik dan taklid buta. Imam Ahmad dalam Musnad-nya (2/422) meriwayatkan bahwa Nabi Muhammad saw pernah bersabda, “Kalau ilmu itu berada di bintang Tsuraiya, yang akan memperolehnya adalah dari orang Persia.” Begitu juga Ibnu Qani dalam Al-Ish√Ębah (3/459) meriwayatkan, “Kalau agama itu bergantung pada bintang, yang memperolehnya adalah orang Persia.”

Ketiga, Imam Ali bin Abi Thalib mengetahui hak setiap orang dan hak tawanan dalam Islam. Sebab, Nabi Muhammad saw pernah mewasiatkan kepada kaum Muslim agar berlaku baik kepada tawanan. Nabi bersabda, “Berilah mereka makanan dengan makanan yang biasa kalian makan. Berilah mereka pakaian dengan yang biasa kalian pakai.” Sedangkan yang lain tidak mengetahuinya, atau kalau pun tahu mereka tidak menjalankannya.

Dalam sejarah dikisahkan bahwa ketika Islam membawa tawanan dari Persia (Iran) ke Madinah, sebagian kaum Muslim memperlakukan mereka secara tidak patut. Maka Imam Ali bin Abi Thalib bangkit membela para tawanan itu, khususnya kepada kedua puteri Kisra ketika khalifah Abu Bakar hendak menjual mereka. Akan tetapi Imam Ali mencegahnya dan mengatakan, “Rasulullah melarang menjual raja serta putra-putrinya.”

Lalu ia menyuruh masing-masing dari kedua putri Kisra itu memilih seorang laki-laki dari kaum muslim yang akan menikahinya. Salah seorang di antara mereka yang bernama Syahr Banu memilih Imam Husain bin Imam Ali.

Ketika penduduk Iran melihat dan mendengar pernikahan kedua puteri Yazdajird dan penghormatan Imam Ali kepada keduanya, mereka berterima kasih atas sikap mulia dan manusiawi dari Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib. Ini merupakan sebab terpenting yang mendorong penduduk Iran lebih mendalami pribadi suci Ali.

Keempat, semacam ada keterikatan khusus penduduk Iran dengan Salman Al-Farisi yang merupakan anggota keluarga mereka. Karena keislaman Salman yang mengagumkan dan kedudukannya yang mulia di sisi Nabi Muhammad saw, ia dianggap sebagai bagian dari ahlulbait. Sebuah hadis meriwayatkan bahwa Nabi saw bersabda, “Salman adalah bagian dari kami, ahlulbait.” Sejak hari itu, ia biasa dipanggil dengan Salman Al-Muhammadi.

Karena Salman Al-Farisi merupakan bagian dari Syiah ahlulbait, ia termasuk orang yang menentang perkumpulan di Saqifah dan pemilihan khalifah di sana, lalu kemudian mengajak kaumnya untuk berpegang kepada Syi’ah ahlulbait –di mana pengganti dan penerus Rasulullah berdasarkan wahyu ayat 67 surah Al-Maidah yang memberi perintah kepada Nabi Muhammad saw untuk mengumumkan pengangkatan Imam Ali sebagai penerus kepemimpinan Rasulullah secara keagamaan dan kemasyarakatan, yang mana Rasulullah kemudian mengumumkannya di Ghadir Khum saat Haji Wada’.