Senin, 17 Februari 2014

Ketika Orang Yaman dan Tiongkok ke Banten


Menurut Hussein, penjaga makam Habib Abdullah Bin Ali Al Uraidhi, riwayat Habib Abdullah Bin Ali Al Uraidhi sampai di desa Sukawali masih simpang siur. Husein menceritakan, awalnya Habib Abdullah Bin Ali Al Uraidhi berlayar dari Hadramaut menuju pulau Jawa. Ketika akan memasuki perairan Banten, kapalnya diterjang badai sehingga kandas di pesisir pantai desa Sukawali. Akhirnya memutuskan untuk menetap di desa Sukawali dan menyebarkan agama Islam. “Habib Abdullah Bin Ali Al Uraidhi konon menyebarkan agama Islam sampai kemana-mana bahkan sampai ke Madura. Maka banyak orang Madura yang mencari cari makam ini,” ujarnya. Menurut peziarah yang datang, rata-rata mereka sebelumnya mendapat mimpi supaya berziarah ke makam keramat ini. Husein menuturkan, gambaran peziarah terhadap Habib Abdullah Bin Ali Al Uraidhi ketika bermimpi hampir sama. Dalam mimpinya mereka ditemui seseorang bertinggi besar, berwajah Arab, berewokan, memakai surban dan jubah berwarna putih.

Cuma sampai sekarang tidak jelas lagi keturunan Habib Abdullah Bin Ali Al Uraidhi. Husein mengaku tidak mengetahui sisa-sisa keturunan Habib Abdullah Bin Ali Al Uraidhi. Selama ini juga belum ada orang yang mengaku sebagai anak keturunan Habib Abdullah Bin Ali Al Uraidhi. Sehingga riwayat kehidupan Habib Abdullah sulit dilacak karena tidak ada peninggalan tertulis dan tidak ditemukan keturunannya. Mengenai makam Habib Abdullah yang memiliki panjang diluar kewajaran, banyak versi yang beredar. Husein menerangkan,panjang makam yang mencapai 9 meter ini sebenarnya sebuah bentuk penghormatan masyarakat masa itu. “Dulu jika seorang tokoh yang meninggal dunia, maka makamnya dibuat panjang untuk menghormatinya. Semakin panjang makammnya berarti namanya semakin harum. Jadi bukan karena orangnya panjang 9 meter,” tandasnya.

Wali Penyebar Islam

Mengutip pendapat budayawan Betawi, Drs Ridwan Saidi. Menurut dia, proses Islamisasi di Jakarta dan sekitarnya sudah terjadi jauh lebih awal. Bahkan, lebih dari 100 tahun sebelum kedatangan balatentara Falatehan yang mengusir orang Barat (Portugis) di Teluk Jakarta (sekitar Pasar Ikan). Tepatnya pada tahun 1412, yang digerakkan oleh Syekh Kuro, seorang ulama dari Campa (Kamboja). Pada tahun tersebut, ia telah membangun sebuah pesantren di Tanjung Puro, Karawang. Dalam abad ke-14 dan 15 kraton-kraton di Jawa sudah menerima Islam karena alasan politik.’ Menurut kitab ‘Sanghyang Siksakanda’, sejak pesisir utara Pulau Jawa mulai dari Cirebon, Karawang, Bekasi dan Tangerang terkena pengaruh Islam yang disebarkan orang-orang Pasai, maka tidak sedikit orang-orang Melayu yang masuk Islam. “Habib Abdullah Bin Ali Al Uraidhi dapat dikatakan pula wali penyebar Islam di wilayah Betawi dan Tangerang,” papar Hussein.

Di kawasan ini terdapat situs Kramat yang mengindikasikan suatu pemukiman dalam ukuran besar (Saptono, 1997). Situs Kramat terdapat di Desa Sukawali, Kecamatan Paku Haji. Situs ini berada di pantai sebelah timur laut situs Sugri. Di kawasan situs ini terdapat beberapa obyek arkeologis, antara lain makam, fragmen, komponen bangunan, kapal, serta fragmen keramik, gerabah, dan besi. Makam yang terdapat di situs ini berupa makam panjang. Berdasarkan sebaran artefak yang terdapat di permukaan, luas situs Keramat ini diperkirakan 10 hektar. Situs Keramat saat ini merupakan sebuah kawasan pemukiman penduduk, kebun, penggalian pasir, komplek makam dan empang. Dari hasil penggalian yang disebabkan oleh aktivitas sehari-hari penduduk sekitar banyak ditemukan temuan berupa fragmen keramik lokal maupun asing, fragmen benda-benda kaca dan fragmen besi.

Artefak tersebut kebanyakan ditemukan antara permukaan tanah dan kedalaman 0,5 meter di dalam tanah. Bahkan sekitar 500 meter dari pantai pernah ditemukan fragmen kapal dengan posisi membentang arah timur-barat sejajar dengan garis pantai. Fragmen kapal yang terlihat tersebut merupakan bagian sisi lambung kapal sepanjang 2 meter. Hanya saja sisa fragmen kapal tersebut sudah tertutup oleh timbunan tanah dan pemukiman penduduk. Beberapa fragmen kecil kini disimpan di Kantor Dinas P dan K Kabupaten Tangerang. Temuan artefak keramik dapar menunjukkan kronologi situs secara relatif. Berdasarkan analisis terhadap fragmen yang ditemukan di situs Kramat, diperkirakan pemukiman di situs Kramat berlangsung sejak abad VII hingga XX. Namun karena tidak ditemukannya keramik dari masa Dinasti Yuan (abad XIII-XIV) diduga pada masa tersebut mengalami pasang surut.

Aktifitas meningkat pesat pada masa dinasti Ming (abad XIV-XVII) dan mencapai puncaknya pada masa dinasti Qing (abad XVII-XX) dan selanjutnya surut lagi. Kajian sejarah menyimpulkan bahwa situs Kramat adalah bekas kota pelabuhan Cheguide. Dari tepi pantai, hanya sepelangkahan dari situ, terdapat kelenteng yang cukup terkenal yaitu Kelenteng Tanjung Kait. Kelenteng itu memiliki keunikan karena adanya tempat keramat yang menjadi tempat pemujaan terhadap tokoh lokal, seperti Dewi Neng. Warga Betawi dan Sunda pun kerap berziarah ke tempat itu. Peneliti Perancis Claudine Salmon dan Denis Lombard dalam buku Klenteng-klenteng dan Masyarakat Tionghoa di Jakarta mencatat, sosok dewa-dewi lokal seperti Dewi Neng menjadi bagian penting dalam situs kelenteng di Jakarta dan sekitarnya. Tahun 1792 Andries Teisseire, seorang pelaut Barat, mencatat adanya kelenteng ini. Kelenteng ini memiliki dewa tuan rumah, yakni Kongco Tjoe Soe Kong, seorang tabib yang hidup di zaman Dinasti Song. Dia berasal dari Cuanciu di Provinsi Hokkian. Dia kerap menolong orang tanpa meminta imbalan. Sewaktu beliau wafat, orang pun menghormati dengan memujanya untuk mengingat jasa-jasanya bagi manusia. (*) 



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar