Sabtu, 03 Januari 2015

Kisah Konflik Rusia dan Amerika dalam Kecelakaan Sukhoi SSJ100 di Indonesia




Oleh Yunita Fatmawati

Badan Intelijen Rusia, Glavnoye Razvedovatel’noye Upravlenie (GRU), membuat pernyataan mengejutkan bahwa Intelijen Amerika Serikat telah melakukan sabotase terhadap pesawat Sukhoi Superjet SSJ100 sehingga jatuh di Indonesia. Pesawat Sukhoi tersebut dikemudikan oleh Pilot yang memiliki jam terbang yang tinggi, Aleksander Yablontsev, dan Co-Pilot Aleksander Kochetkov.

Pada tanggal 9 Mei 2012 lalu, tepat pada hari kecelakaan pesawat Sukhoi tersebut, sebuah pesawat Amerika USAF C-17 tiba di Halim Perdanakusuma, dan diparkir di Apron Selatan. Rusia mempertanyakan kenapa pesawat USAF C-17 tersebut berangkat meninggalkan Halim setelah Pesawat Sukhoi SSJ 100 menghilang dari radar ATC. Pihak Intelijen Rusia menjelaskan bahwa 20 menit setelah lepas landas, Pilot turun dari 10.000 kaki (3.000 Meter) hingga 6.000 kaki (1.800 Meter). Pesawat mulai berbelok ke kanan dan turun kemudian menghilang dari layar Radar pada ketinggian 6.200 kaki di daerah pegunungan, 60 Kilometer dari Jakarta.

Badan Intelijen Rusia mengklaim bahwa Amerika Serikat menggunakan teknologi khusus untuk mengacaukan sinyal pesawat naas tersebut sehingga menyebabkan kerusakan sistem pada pesawat yang sedang terbang. Ini adalah murni sabotase Amerika. Selain Amerika Serikat memiliki teknologi khusus untuk mengacaukan Sinyal Pesawat, mereka juga menyoroti dan mempertanyakan kehadiran Militer AS di Bandara Halim tepat pada saat pesawat lepas landas pada tanggal 9 Mei 2012 lalu.

Rusia juga telah memiliki bukti-bukti bahwa Badan Intelijen AS memiliki akses khusus untuk mengontrol jalur penerbangan pesawat di Indonesia melalui ATC. Pesawat Sukhoi SSJ-100 tersebut diarahkan secara otomatis dan ditabrakkan ke Gunung Salak.

Pesawat Sukhoi SSJ100 tersebut tidak lepas landas dari Bandara Internasional Soekarno-Hatta, tapi dari Lapangan Terbang Halim Perdanakusuma. Halim adalah tempat Pasukan Khusus AS melatih pasukan Indonesia dalam hal taktik Angkatan Udara, serta taktik perang elektronik untuk mengacaukan sistem navigasi pesawat musuh. Badan Intelijen Rusia membeberkan bukti-bukti bahwa pelatihan-pelatihan di Halim Perdanakusuma disponsori oleh Komando Pasifik AS di Hawai.

Menurut para Ahli Penerbangan di Rusia, pesawat Sukhoi telah memenuhi persyaratan dari maskapai penerbangan di Rusia, Amerika Serikat, dan Uni Eropa. Pesawat Sukhoi telah memenuhi standard aturan Penerbangan AP-25, FAR-25, dan JAR-25. Selain itu, Pilot Aleksander Yablontsev adalah Pilot yang terbaik yang dimiliki Rusia. Kegagalan mesin maupun human error adalah hal yang mustahil sebagai penyebab kecelakaan tersebut.

Badan Intelijen Rusia merilis bahwa ini bukan pertama kalinya sabotase Amerika terhadap Rusia. Oktober 2011 lalu, AS melakukan sabotase sehingga hilangnya pesawat penyelidikan Antariksa Rusia. Begitu juga dengan kecelakaan pesawat buatan Rusia, Tu-144, pada saat demo terbang. Ketika itu tiba-tiba TU-144 terhenti pada ketinggian 4.000 kaki dan kemudian menukik jatuh, terbakar dan meledak. Enam Kru Rusia dan delapan Wartawan Perancis meninggal. Tiga anak kecil yang bermain di depan rumahnya tewas seketika tersambar potongan puing Tu-144, enam puluh orang luka berat dan 15 rumah hancur total.

Tahun lalu seorang ilmuwan Rusia dibunuh secara misterius melalui kecelakaan pesawat. Pada malam hari tanggal 20 Juni 2011 lalu, sebuah pesawat Jet Rusia Tupolev-134 dengan 43 penumpang dan Kru pesawat berangkat dari Moskow ke Petrozavodsk, sekitar 950 Km ke arah utara. Pesawat Tupolev-134 tersebut kehilangan kendali di ketinggian dan jatuh ke jalan raya di Republik Utara Karelia. Ilmuwan Reaktor Nuklir Rusia, Sergei Ryzhov, yang ikut dalam penerbangan itu tewas seketika.

Badan Intelijen Rusia menjelaskan bahwa pada tahun 1982, Presiden AS Ronald Reagan secara rahasia menyetujui rencana CIA untuk menyabotase sistem Airlines Uni Soviet melalui teknologi rahasia yang berisi perangkat lunak. Defense Advanced Research Projects Agency (DARPA) adalah sebuah Lembaga di Departemen Pertahanan Amerika yang dibentuk untuk mengemban tugas khusus pengembangan teknologi sabotase sistem navigasi Avionics Electronic pesawat.

Perlu diketahui bahwa salah satu persyaratan pesawat untuk mendapatkan Lisensi terbang di Eropa dan Amerika adalah wajib memiliki Avionics Electronic. Ini adalah suatu persyaratan yang wajib ditaati pesawat-pesawat Komersil. Pesawat Sukhoi SSJ100 juga memasang Avionics Electronic di pesawat-pesawat mereka karena Sukhoi tidak akan mendapatkan Sertifikat Keamanan Amerika dan Eropa jika pesawat-pesawat Sukhoi tidak memiliki sistem navigasi Avionics Electronic di pesawat-pesawat mereka.

Tekhnologi Avionics Electronic ini memungkinkan bagi Pentagon untuk mengambil alih Remote setiap pesawat yang menggunakannya dan dapat mengarahkan pesawat ke arah manapun. Mereka dapat memecahkan kode, mengunci, memotong jalur komunikasi, serta menonaktifkan peralatan digital dalam pesawat dengan menggunakan sinyal gelombang mikro dari satelit.

Badan Intelijen Rusia menjelaskan bahwa pesawat Polandia yang jatuh di Smolensk juga memiliki sistem navigasi Avionics Electronic ini. Rusia mengetahui bahwa kecelakaan pesawat Polandia tersebut adalah murni kepentingan Amerika untuk mengadu domba Rusia dan Polandia. Iran juga memiliki teknologi yang sama dengan Amerika Serikat. Baru-baru ini Iran mendaratkan pesawat mata-mata tanpa awak milik Amerika yang melintasi wilayah Iran. Kejadian ini membuat Amerika marah dan merasa mendapatkan saingan terberat.

Badan Intelijen Rusia mengklaim bahwa masuknya pasar Sukhoi ke Indonesia adalah ancaman besar bagi bisnis Boeing karena harga pesawat Sukhoi SSJ100 sepertiga lebih murah dari Boeing. Selain harganya lebih murah, pesawat Sukhoi juga lebih bersih, Interiornya lebih nyaman, dan mesinnya lebih halus daripada pesawat Boeing. Dalam kunjungannya ke Indonesia, Presiden Obama menandatangani kesepakatan dengan Lion Air untuk pembelian 230 pesawat Boeing dengan jaminan pinjaman Bank sebesar US$ 22,000,000,000,-. 



Tidak ada komentar:

Posting Komentar