Minggu, 08 Juni 2014

Imam al Mahdi dan The Matrix


Oleh Frank Julian Gelli*   

Dalam naskah ini, saya bermaksud menantang paradigma sekularis Barat yang dominan melihat politik dan agama, atau kepercayaan, sebagai sama-sama eksklusif (saya selanjutnya menamakannya “The Matrix”.

Saya mengemukakan argumen bahwa itu tidak diinginkan oleh manusia dan secara teologi tidaklah niscaya. Untuk menunjukkan itu, saya melakukan penelitian terhadap beberapa halaman utama Injil. Locus classicus (kata yang berasal dari bahasa Latin; locus berarti ‘tempat’) dari pandangan yang salah dan bersifat separatis—firman Tuhan tentang hubungan antara Kaisar dan Tuhan (Matius 12:vv.13-17)—pantas dikritisi. Suatu perspektif sejarah dikemukakan dengan mempertimbangkan visi-visi tentang sebuah Negara yang adil dalam sejarah Kristen, seperti Kerajaan Romawi Suci dan Persekutuan Suci. Pemikiran dari penulis Rusia bernama Vladimir Solovyew dijadikan referensi. Pemikiran-pemikiran filsafat diungkapkan. Dimensi-dimensi eschatology dan messianis dalam tradisi Kristen dibahas dan relevansinya dengan persoalan vital tersebut diperdebatkan—kebutuhan politik teologi global yang urgen—dianalisis. Akhirnya, saya mengemukakan contoh-contoh mengenai wilayah-wilayah dimana kepentingan-kepentingan umum Islam dan Kristen seharusnya mendorong kita untuk saling memperlakukan satu sama lain sebagai sahabat dan bekerjasama dalam perjuangan besar.  

Wacana Pengantar

“The Matrix”, bagi Anda yang bukan penggemar film, adalah judul sebuah film fiksi ilmiah yang mendapat banyak pujian. Pahlawannya, seorang pemuda yang bernama Neo, seorang programer komputer, mulai menerima pesan-pesan misterius dari cyberspace (ruang kerja serba otomatis). Secara bertahap, ia mempelajari kebenaran yang mengejutkan. Realitas bukanlah hal yang terlalu disukainya. Sesungguhnya, realitas sama sekali tidaklah riil. Sebuah program komputer yang berbahaya, universal, dan mudah menyebar telah menggantikan ras manusia. Seluruh persepsi, pemikiran, dan kesan-kesan dari Neo tentang dunia luar sesungguhnya merupakan ilusi-ilusi; rekayasa-rekayasa; dan manipulasi-manipulasi digital. Ia, bersama dengan berjuta-juta dan bermilyar-milyar manusia lain, sesungguhnya terkuburkan dan tersumbat seperti dalam baterai-baterai yang menuju kerangka utama “Matrix” tersebut, yang merakit dan mengendalikan semua kehidupan mentalnya. Di sana, di dalam “Matrix” tersebut, ia bermimpi bahwa ia terbangun, aktif, dan bebas, padahal ia tertidur, pasif, dan diperbudak. Cerita film tersebut pertama-tama tentang terbangunnya Neo dari segala mimpi buruk yang begitu nyata, dan selanjutnya tentang perjuangannya, bersama dengan beberapa teman revolusionernya, untuk melawan “Matrix”tersebut dan pada akhirnya menyelamatkan umat manusia dari cengkeraman sangat kuat program jahat tersebut. (Sebagian orang mengemukakan bahwa Neo melambangkan seorang Penyelamat seperti Yesus. Untuk sahabat-sahabatku kaum Muslimin, saya kira, saya dapat mengemukakan bahwa Neo sama-sama tampak sebagai figur seperti Mahdi as)  

Realitas dan Tuhan

Marilah kita bersikap dengan sangat tegas. Saya ingin mengemukakan kepada Anda bahwa hari ini dunia Barat—apa yang senantiasa disebut, secara terhormat, Christendom (Umat Kristiani)—juga menjalani realitas palsu dan ilusif; sebuah kebohongan. Sebuah kebohongan yang dengan tekun diberi gizi, dikemukakan terus, diperkuat, dan diyakinkan, berulang kali, dengan cara yang keras, oleh media, bahasa wacana publik, para pembentuk opini, dan pastinya oleh setiap orang. Sebuah kebohongan yang dikemukakan dengan sangat sederhana namun sedikit kasar, bahwa Tuhan itu tidaklah relevan. Bahwa Tuhan itu bukanlah apa-apa. Bahwa Tuhan dan kehidupan adalah sama-sama eksklusif. “The Matrix”—bukanlah entitas fantastis yang ditampilkan melalui film tapi sebuah konspirasi aktual, nyaris universal, dan sangat mudah menyebar—telah mengkondisikan pemikiran Barat untuk percaya bahwa Tuhan itu tidak relevan dengan lingkup publik, dengan persoalan-persoalan sosial, moral, ekonomi, dan finansial—persoalan-persoalan yang benar-benar berhubungan dengan jalan dimana manusia hidup.

Tapi bagaimana bisa demikian? Tuhan itu sendiri, sebagai pencipta alam semesta dan realitas, merupakan puncak realitas, Ens Realissimus, menggunakan bahasa teologi skolastik, Tuhan Yang Mahatinggi, Mahatampak. Lantas bagaimana Tuhan dapat disingkirkan dan dikucilkan dari struktur-struktur publik yang membentuk kehidupan normal kita? Apakah hal itu tidak sama dengan menyatakan bahwa realitas itu tidaklah riil/tampak? Bahwa dunia bukanlah apa yang kita jalani? Bahwa umat manusia melakukan sebuah kebohongan?

(Catatan: adalah signifikan dimana Lenin berkata, “Sejauh yang berkenaan dengan Negara, maka agama merupakan urusan pribadi.”) 

Seandainya saya ingin mengubah metafora, maka saya ingin mengatakan bahwa “The Matrix”telah merekayasa sebuah paradigma, sepasang kacamata konseptual yang bersifat sangat universal yang telah ditusukkan ke dalam hidung setiap lelaki, wanita, dan anak-anak di Barat. Paradigma itu, lagi-lagi, adalah bahwa agama dan politik ibarat kapur dan keju. Keduanya tidak cocok. Keduanya tidak selaras. Orang-orang yang adakalanya berani untuk menantang paradigma tersebut, dengan memerangi “the Matrix”, seperti Neo, secara ritual dicaci-maki, dilaknat, dan ditolak dengan berbagai julukan seperti ‘fundamentalis’, ‘teokrat’, ‘fanatik agama’, ‘pelaku jihad’, ‘mullah’, dan sebagainya. Kecil tapi memberi contoh. Konsep European Charter of Fundamental Rights (Piagam Eropa tentang Hak-hak Asasi) yang baru-baru ini dibuat sama sekali tidak menyebutkan ‘Tuhan.’ Bahkan sekali pun tidak. Walaupun adanya permintaan dari Paus, John Paul II, namun nama ‘Tuhan’ dengan sengaja dikeluarkan dari dokumen yang sangat buruk itu.  

Tuhan: Yang Mahasempurna

Menentang arogansi, kedengkian, dan penipuan dari “the Matrix”, saya ingin mengungkapkan kata-kata dari Injil. Yang pertama dari sepuluh perintah Tuhan, yang diberikan-Nya kepada Musa as di atas lembaran-lembaran batu di Bukit Sinai, berbunyi: “Aku adalah Tuhan kamu. Kamu tidak memiliki tuhan-tuhan lain selain Aku.1 Pernyataan ini merupakan sebuah pernyataan absolut. Sebuah pernyataan, perintah, yang tidak mengakui adanya pengecualian-pengecualian. Tidak relatif dan tidak juga komparatif. Tidak pula subjektif. Tidak membiarkan adanya kualifikasi, tidak lebih dan tidak kurang, tidak minus dan tidak plus, tidak ‘kecuali’ atau tidak ‘bergantung.’ Tidak ada pengkondisian kultural atau permainan sulap dari jenis itu. Ia adalah sebuah nilai tanpa syarat, sebuah standar absolut dan objektif yang menyatakan apa yang berbunyi: ‘Aku adalah Tuhan kamu. Kamu tidak memiliki tuhan-tuhan lain selain Aku.’

Hak-hak asasi manusia, demokrasi, persamaan hak, parlemen, partai-partai politik, raja-raja, penguasa-penguasa, presiden-presiden, perdana menteri—seluruh institusi, konsep, dan segala sesuatu yang mungkin baik atau kurang baik atau tidak begitu baik—itu tidaklah mengapa. Bukanlah itu persoalannya. Apa yang menjadi persoalannya adalah bahwa tidak ada satu pun dari semua itu yang absolut. Semua itu merupakan nilai-nilai relatif dan kondisional. Semua itu tergantung pada kondisi-kondisi sejarah, kultur, etnik, dan sosiologi. Walaupun hari ini di dunia Barat semua itu diagungkan—atau saya harus katakan disembah—sebagai kategori-kategori mirip Tuhan —atau sebagai tuhan-tuhan di samping Tuhan Yang Mahaesa—namun semua itu tidaklah demikian. Semua itu tidak memiliki validitas absolut. Tidak demikian halnya dengan Tuhan. Sebab Tuhan adalah Zat yang absolut—Mahasempurna. Karena Zat Yang Mahasempurna itulah, segala sesuatu, setiap orang, setiap nilai, dan setiap diri harus dibuat tunduk dan harus tunduk. (Islam=ketundukan)

Sebuah konsekuensi. Jika Tuhan itu Mahasempurna, Mahatampak, Mahatinggi, dan Puncak Realitas—Tuhan semesta alam—maka tidaklah dikehendaki oleh manusia bahwa Dia tersembunyi dari lingkup publik—tanpa mempedulikan bagaimana kehidupan yang menarik di dalam “the Matrix”, kehidupan di dalam realitas yang salah dan palsu. Lagi pula, kehidupan itu diinginkan oleh Neo, pahlawan yang memimpin perjuangan melawan “the Matrix”, dimana ia harus tetap terbius-hidup dan terpenjara dalam kerangka utama “the Matrix”, yang secara subjektif berbahagia namun secara objektif sangat menyedihkan dan benar-benar diperbudak. Tuhan, Zat yang menggenggam kehidupan dan kematian, Pencipta Yang Mahaperkasa dan Mahatampak, tidak dapat dikucilkan dari kehidupan, politik, jual-beli, perbankan, kesehatan, pendidikan, keluarga, dan dunia nyata dari manusia. Teologi—theo+logos: ilmu tentang Tuhan—merupakan ilmu pengetahuan global. Ia mempengaruhi, mencakupi, dan meliputi seluruh realitas sebab objeknya yang tertinggi, yaitu Tuhan, Sang Realitas Tertinggi, dan Realitas itu sendiri.

Satu Keberatan Teologi yang Utama

Saya kini harus menghadapi keberatan standar untuk jalan yang saya sedang tempuh—bahwa Tuhan tidak dapat dan tidak harus disingkirkan dari lingkup publik.                             

Dalam Injil menurut Markus 12:13-17, kepada Yesus diajukan sebuah pertanyaan. Sebuah pertanyaan yang maknanya telah mengumandang pada abad tersebut dan masih berkumandang hingga hari ini. Pengabar Injil meriwayatkan bahwa para Farisi (Pharisee=sekte Yahudi zaman dahulu yang sangat patuh kepada ajaran Yahudi) dan beberapa pengikut Raja Herod menemui Yesus, dengan berusaha untuk memasang perangkap baginya. Mereka bertanya kepadanya, “Guru, kami tahu Anda benar namun Anda tidak mempedulikan orang; karena Anda tidak memandang kedudukan orang per orang namun dengan sungguh-sungguh mengajarkan jalan Tuhan. Apakah sah untuk membayar pajak kepada Kaisar ataukah tidak sah? Apakah kami harus membayar mereka ataukah tidak harus?” Markus selanjutnya mengatakan bahwa Yesus, karena mengetahui kemunafikan mereka, memberikan jawaban, “Mengapa kalian menguji aku? Berikan aku satu uang logam dan biarlah aku mengamatinya!” Mereka memberinya sebuah uang logam dan ia berkata, “Milik siapa uang ini?” Mereka menjawab, “Milik Kaisar.” Yesus berkata kepada mereka, “Berikanlah kepada Kaisar apa yang menjadi milik Kaisar, dan berikanlah kepada Tuhan apa yang menjadi milik Tuhan.” Markus berkata, “Dan mereka merasa kagum dengan peristiwa ini.”

Sesungguhnya musuh-musuh Yesus, yaitu orang-orang munafik, yang sungguh-sungguh tidak peduli terhadap hukum Tuhan, telah berusaha untuk menjebaknya. Itu bukanlah permintaan tulus untuk mendapatkan petunjuk spiritual. Itu adalah sebuah tipu-daya. Seandainya Yesus menjawab, “Ya, sah untuk membayar pajak kepada Kaisar, pemegang otoritas Romawi,” maka berarti mereka akan menjadikannya seorang kolaborator, seorang kafir, seorang Yahudi yang tidak benar, yang bersedia untuk berkhidmat kepada para penguasa asing penyembah berhala yang terkutuk, yaitu para penguasa Romawi. Sebaliknya, seandainya Yesus menjawab, “tidak, itu tidak sah,” maka mereka akan mengabarkan tentang Yesus kepada bangsa Romawi dan menuduh Yesus sebagai seorang pemberontak, seorang revolusioner, seorang penghasut yang mengobarkan kerusuhan untuk menentang negara. Korelasinya, Yesus berarti telah melemahkan misi tertentu dari Tuhannya. Namun, Yesus “menghantam” mereka melalui permainan mereka sendiri. Yesus memberikan jawaban dialektis yang cemerlang, sebuah jawaban cepat, tepat, dan keras yang menimbulkan buah simalakama. “Berikanlah kepada Kaisar—Negara—apa yang menjadi milik Negara, dan berikanlah kepada Tuhan apa yang menjadi milik Tuhan.”

Keberatan yang Disangkal

Namun perhatikanlah! Apakah jawaban ini tidak memiliki makna? Jawaban ini tidak bermakna, bahkan untuk sesaat, bahwa Kaisar dan Tuhan berada di atas pijakan yang sama, memiliki kedudukan yang sama. Pikirkanlah ini! Dapatkah Yesus, yang ditahbiskan dengan upacara pemberian minyak oleh Tuhan, Pembawa wahyu yang ditunggu-tunggu, Penyelamat bangsa Israel, Sang Penebus yang dijanjikan, telah menyamakan negara dengan Tuhan? Tolong saya! Betapa menggelikannya! Betapa ini sebuah kebohongan! Kebohongan psikologis, spiritual, dan teologis! Tentu saja, Yesus, Sang Putra Manusia—bagi orang-orang Kristen memang Putra Tuhan—mengetahui bahwa Tuhan itu Mahatinggi. Bahwa Tuhan itu Zat yang tertinggi. Bahwa Tuhan itu merupakan Realitas Mutlak. Bahwa Kaisar, negara, bagaimanapun Anda menafsirkannya, adalah lebih rendah dan tunduk kepada Tuhan. Bahwa Yesus, Orang yang ditahbiskan dengan upacara pemberian minyak oleh Tuhan, mustahil memaksudkan sesuatu yang berbeda.

Kekuasaan Kerajaan Tuhan

Tidak menjadi masalah bahwa Yesus berniat untuk membagi realitas menjadi dua kekuasaan yang berbeda, terpisah, dan tidak berhubungan, yaitu spiritual dan duniawi. Walaupun terdapat beberapa perbedaan seremonial dan ritual—pada masa Israel dahulu, sebagai contoh, suatu suku khusus diasingkan untuk tugas-tugas kependetaan, sebagaimana terhadap para pendeta Gereja Kristen sendiri. Perbedaan klasik di antara spiritual dan duniawi tidaklah sama dengan perbedaan modern antara relijius dan sekuler. Perbedaan klasik mengasumsi konsepsi realitas dan konsepsi masyarakat manusia bergantung pada Tuhan, ditentukan oleh Tuhan, diberikan informasi oleh Tuhan, dan diperintah oleh Tuhan.

Dalam hubungan ini, penulis Rusia Vladimir Soloviev telah mengemukakan argumen berupa gagasan tentang sebuah negara Kristen, sebuah gagasan yang kembali pada Kaisar Konstantin, sebagai sebuah gagasan yang merupakan deduksi dari kategori utama Injil Kristen—yaitu gagasan tentang Kerajaan Tuhan. Kerajaan yang demikian, di bumi, akan terdiri dari tiga konsep terkait: Gereja Kristen, Negara Kristen, dan Masyarakat Kristen. Tiga dimensi yang memiliki esensi yang sama: Kerajaan dan kekuasaan kerajaan Tuhan di bumi. Gereja yang mengabdi kepada Tuhan sebagai kebenaran mutlak. Demi kepentingan-Nya, maka gereja melayani umat manusia. Negara dalam lingkup relatifnya melayani dan meratakan keadilan suci Tuhan untuk umat manusia. Masyarakat Kristen, dibantu oleh Gereja dan negara, berusaha untuk membangun dan memenuhi Kerajaan Tuhan melalui lembaga-lembaga solidaritas sosial, yang memfasilitasi realisasi kemerdekaan yang sesungguhnya.

Konklusi

Akhirnya, saya ingin mengatakan bahwa kami semua di Barat yang peduli tentang Tuhan dan kerajaan-Nya di bumi menyampaikan terima kasih yang sangat besar kepada Islam. Terima kasih untuk kehadiran Islam di antara kita hari ini hingga kita mulai bangkit dari tidur kita yang terbius “the Matrix”. Islam membantu kita untuk menemukan kembali fakta bahwa model politik Barat yang kontemporer bukanlah model politik satu-satunya. Bahwa paradigma mutakhir, tidak seperti Ten Commandments (Sepuluh Perintah Tuhan), tidaklah tertulis di atas lembaran-lembaran batu. Demikianlah, sebab Islam mempersembahkan kepada kita model pemahaman politik dan hubungan-hubungan yang berbeda, alternatif, dan hidup, di antara sekuler dan agama, Gereja dan negara, duniawi dan spiritual. Islam menganugerahi kita kebutuhan dan visi yang saya telah perjuangkan: kebutuhan, yaitu kebutuhan mendesak dalam hal politik global dan politik teologi universal. Suatu politik yang diinformasikan oleh teologi, oleh ilmu pengetahuan tentang Zat Yang Absolut, pencipta seluruh realitas—Tuhan. Gagasan tentang Imam Mahdi terutama adalah signifikan. Karena begitu banyak orang Kristen, atau saya harus mengatakan “orang-orang Kristen gadungan”, telah benar-benar berhenti untuk mempercayai “Kedatangan Kedua” Kristus di bumi, maka kaum Muslimin mengingatkan kita tentang figur eschatology yang utama ini, Imam Mahdi, yang akan merealisasikan kekuasaan kebenaran dan keadilan di bumi. Betapa dahsyat ajaran yang memberikan inspirasi ini! Betapa harapan yang besar dan luar biasa! Semoga Islam memberikan inspirasi kepada kita semua untuk melakukan apa yang saya telah kemukakan dalam naskah ini: memerangi “the matrix”.
                                                                                                                      
*Frank Julian Gelli adalahpendeta Anglikan di London sekaligus pendiri Arkadash Network fo Religious and Cultural Dialogue. Tulisan ini dikutip dan disarikan dari buku Pemerintahan Akhir Zaman (Al-Huda Islamic Cultural Center Jakarta, 2005)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar