Minggu, 09 Februari 2014

Anekdot Mencium Kuburan


Salah seorang dari ulama Syiah bercerita, “Pada suatu hari aku berada di Madinah, di Masjid Nabawi. Aku melihat di sebelahku ada peziarah yang datang dari Iran mencium dinding dan pagar makam Rasulullah saw. Lalu tiba-tiba imam jama’ah setempat, yang mana ia adalah seorang alim Wahabi, mendatanginya membentak dengan berteriak: “Mengapa kamu mencium dinding yang tidak bisa berbuat apa-apa?! Kamu telah syirik!”

Aku pun merasa kesal dengan sikapnya lalu kudatangi dan kukatakan, “Kami mencium dinding masjid ini karena kecintaan kami kepada Rasulullah saw. Tak ada bedanya seperti seorang ayah yang mencium anaknya karena rasa cinta. Tidak ada kesyirikan dalam hal seperti ini.” Ia berkata, “Tidak! Perbuatan ini tetaplah syirik.”

Aku berkata, “Bukankah anda pernah membaca ayat yang berbunyi: “Ketika pembawa berita gembira datang kepada Ya’qub dan memberikan baju anaknya kepadanya, Ya’qub mengusap baju itu ke mukanya lalu ia dapat melihat kembali.” (QS Yusuf: 96). Pertanyaanku adalah, baju itu hanya sekedar kain. Lalu bagaimana bisa menyembuhkan mata nabi Ya’qub as? Apa bukan karena baju itu milik anak kecintaannya sehingga baju tersebut begitu istimewa bagi beliau?”

Imam jama’ah Wahabi itu terlihat kebingungan dan tidak bisa menjawab. Demikian aku berusaha memberitahu ia tentang bagaimana kami berkeyakinan. Penjelasannya yang lebih detil begini: Bukannya nabi Ya’qub as pernah mencium bau anaknya dari jarak yang sangat jauh karena begitu cintanya ia pada nabi Yusuf as? “Sungguh aku mencium wangi Yusuf.” (QS Yusuf: 94)

Oleh karena itu kami begitu mempercayai keistimewaan wali-wali Allah ini. Perbuatan kami ini bukanlah Syirik. Bahkan kami berani bertaruh inilah Tauhid yang sebenarnya!” Lalu kujelaskan lebih detil, “Saat menziarahi nabi, kami marasa diri kami tidak pantas untuk menghadap Allah swt secara langsung, oleh karena itu kami ingin menjadikan nabi sebagai perantara untuk mendekatkan diri kepada Tuhan. Inilah Tawasul. Tak jauh beda dengan seorang anak yang nakal yang tidak berani menemui ayahnya lalu meminta tolong orang lain yang dikenal baik ayahnya untuk datang bersamanya meminta maaf dari sang ayah.

Dalam Al Qur’an hal ini pun dijelaskan dengan sangat jelas. Saat anak-anak nabi Ya’qub as merasa berdsa, mereka berkata kepada ayahnya: “Hai ayah kami, mintakanlah ampun Allah untuk kami karena kami sungguh orang-orang yang salah.” (QS Yusuf: 97). Dari ayat itu dapat kita fahami bahwa bertwasul dan menjadikan hamba-hamba terdekat Allah sebagai perantara adalah hal yang wajar dan boleh-boleh saja. Sedangkan mereka, orang-orang Wahabi menyebut Tawasul sebagai perbuatan syirik, bertentangan dengan Tauhid, dan lain sebagainya. Allah swt juga pernah berfirman: “Wahai orang-orang yang beriman, carilah wasilah (perantara) kepada-Nya.” (QS Al Maidah: 35)

Bukannya ayat itu mengajak kita untuk ber-Tawasul? Wasilah atau perantara yang dimaksud oleh ayat di atas tidak hanya terbatas pada menjalankan kewajiban dan meninggalkan yang haram saja, namun juga menjalankan hal-hal mustahab, yang salah satunya adalah Tawasul itu sendiri. Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa Mansur Dawaniqi (Khalifah kedua Dinasti Abbasiah) bertanya kepada Imam Malik bin Anas (pemimpin Madzhab Maliki), “Di makam Rasulullah saw kita harus berdoa menghadap Kiblat atau menghadap makam beliau?”

Ia menjawab, “Mengapa kamu harus memalingkan wajahmu dari nabi? Ia adalah perantara bagimu dan juga bagi ayahmu, nabi Adam As, di hari kiamat nanti. Menghadaplah kepada nabi dan mintalah ia untuk menjadi pemberi syafaat kepadamu. [1] Allah swt berfirman: “Dan ketika orang-orang yang menzalimi dirinya datang kepada nabi untuk dimintakan ampunan, lalu nabi memohon ampunan Allah untuk mereka, niscaya mereka mendapati bahwa Allah maha maha penerima taubat dan pengasih.” (QS An Nisa’:64)

Dalam riwayat-riwayat Syiah maupun Suni disebutkan bahwa Nabi Adam as saat bersimpuh di pintu Ka’bah berdoa kepada Allah dan menjadikan nama Rasulullah  Saw sebagai perantara taubatnya. Ia berdoa, “Ya Allah, demi Muhammad ampunilah aku.”[2] Kembali ke permasalahan. Sederhana saja, bukti bahwa mencium kubur hamba-hamba dekat Allah swt adalah beberapa riwayat ini:

Seseorang pernah mendatangi nabi dan bertanya, “Wahai nabi, aku telah bersumpah untuk mencium pintu surga… Lalu (jika terlanjur begini), apa yang harus kulakukan?” Beliau menjawab, “Kalau begitu ciumlah kaki ibu dan kening ayahmu.” “Bagaimana jika ayah dan ibuku telah mati?”, tanya lelaki itu. Nabi menjawab, “Maka ciumlah kuburan mereka.”[3] Riwayat yang lain… Saat nabi Ibrahim as datan dari Syam untuk menemui anaknya, nabi Ismail as di Makkah, anaknya tidak ada di rumah. Lalu saat nabi Ismail as datang, istrinya menceritakan bahwa tadi ayahnya datang mencarinya. Segera setelah itu ia mencari jejak kaki ayahnya lalu sebagai penghormatan ia mencium jejak kaki tersebut.

Riwayat yang lain juga, diriwayatkan bahwa Sufyan Tsauri (seorang sufi Ahlu Sunah) mendatangi Imam Ja’far Shadiq as dan berkata, “Mengapa orang-orang suka menciumi kain Ka’bah padahal kain itu tidak akan berbuat apa-apa dan tak berguna?” Imam Shadiq as menjawabnya dengan berkata, “Hal itu bagai kejadian seseorang yang bersalah terhadap sesamanya lalu berusaha menarik bajunya dengan berlutut dan menciumnya agar mau menerima permintaan maafnya.”[4]

Catatan Kaki:
[1] Wafa’ul Wafa’, jilid 2, halaman 1376; Ad Durr As Sunniyah, Dzaini Dahlan, halaman 10.
[2] Ad Durr Al Mantsur, jilid 1, halaman 59; Mustadrak Al Hakim, jilid 2, halaman 615; Majma’ul Bayan, jilid 1, halaman 89.
[3] Al A’lam, Quthbuddin Hanafi, halaman 24.
[4] Seratus Satu Dialog, Muhammad Muhammadi Isytihardi, halaman 175. 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar