Kamis, 28 Januari 2016

Tragedi Genosida Bangsa Armenia


Dahulu kala, yaitu era 1900-an, di masa Ottoman mulai rapuh secara internal dan eksternal, di Turki terjadi tarik-menarik kekuasaan antara gerakan modern-konstitusional (sekular) dan gerakan syariah-monarkial (khilafah), yang bermuara pada berakhirnya pemerintahan Dinasti Utsmaniyah yang terkenal mempraktekkan ragam macam hukuman kejam itu, sebagaimana digambarkan dalam beberapa prosanya Orhan Pamuk, semisal White Castle.

Dari kelompok ultranasionalis Turki Muda (Young Turk) yang mengambil alih kekuasaan, terbentuk kelompok Komite Persatuan dan Kemajuan (KPM, Committee of Union and Progress) yang kemudian secara de facto menjadi penguasa. Para pemimpin KPM, dikenal dengan Trio Pasha yang berasal dari wilayah Utsmaniyah Eropa, menggiring negara mereka masuk ke dalam PD I (Perang Dunia Pertama), dan melaksanakan pembantaian etnis Armenia, termasuk Assiria dan Yunani.

Wilayah-wilayah seperti Deir El-Zour di Suriah, Gurun Mesopotamia dan Mosul di Irak, tak pelak lagi menjadi neraka bagi rakyat Armenia yang dideportasi dan dibantai Turki di kawasan-kawasan tersebut.

Tetapi sesungguhnya, permusuhan Turki terhadap bangsa Armenia sudah sejak lama. Sebutlah contoh kasusnya yaitu di tahun 1894-1896, yaitu kala rakyat Armenia yang terus mendapat perlakuan tidak adil menuntut penghargaan atas hak-hak mereka, yang malah ditanggapi oleh Sultan Abdul Hamid II dengan pembunuhan massal terhadap etnis Armenia pada 1894-1896.

Thomas de Waal dalam bukunya Great Catastrophe: Armenians and Turks in the Shadow of Genocide (Oxford University Press 2015) menyebut 88.000 warga Armenia menjadi korban ketika itu. Sumber-sumber lain memperkirakan antara 100.000-300.000 orang menjadi korban.

Sementara itu, pada perang dunia pertama, sekira satu setengah juta warga Armenia dibantai Turki, perempuan-perempuan Armenia disalib dalam keadaan telanjang setelah diperkosa. Demikianlah ketika Bashar Al-Assad mengetahui Turki mendukung salah-satu faksi geng perang, yaitu Teroris Front Al-Nusra (bersamaan dengan ketika agressi terhadap Suriah dilancarkan), Bashar Al-Assad segera menekan Rusia agar Rusia turun tangan demi menghindari tragedi itu terulang.

Kala itu, di tahun 1913, kaum ultranasionalis Young Turks mengambil alih kekuasaan di Konstantinopel (Istanbul). Mereka adalah Mehmed Talat Pasha, Ismail Enver Pasha, dan Ahmed Djemal Pasha (arsitek pembantaian). Pada 1914, Turki masuk dalam kancah Perang Dunia I, berpihak kepada Jerman dan Kekaisaran Austro-Hongaria setelah menandatangani perjanjian rahasia dengan Jerman dan mendirikan Aliansi Ottoman-Jerman pada Agustus 1914, dengan tujuan melawan Rusia sebagai musuh.

Pada Oktober 1914, Turki melancarkan serangan ke pelabuhan-pelabuhan Rusia dan menyatakan orang Armenia ”musuh internal”. Para pemimpin militer berargumentasi bahwa orang-orang Armenia adalah pengkhianat. Orang Armenia membentuk batalion relawan untuk membantu tentara Rusia melawan orang Turki di kawasan Kaukasus. Hal ini membuat orang Turki curiga kepada orang Armenia dan memaksa mereka keluar dari zona perang di front timur.

Pada Februari 1915, Talat Pasha memberi tahu kepada Duta Besar Jerman bahwa inilah saatnya memberi jawaban atas pertanyaan tentang Armenia. Komite Pusat Ottoman membahas rencana ”menghapus bangsa Armenia”.

Pada 24 April 1915, pembantaian dimulai. Pada hari itu pemerintahan Ottoman menangkap dan mengeksekusi ratusan intelektual Armenia di Konstantinopel. Setelah itu, rakyat Armenia dipaksa keluar dari rumah mereka dan dibiarkan mati ketika berjalan kaki di tengah gurun Mesopotamia tanpa makanan dan tanpa air. Mereka ditelanjangi dan dipaksa berjalan kaki di bawah sengatan terik matahari sampai akhirnya meninggal dunia. Mereka yang berhenti untuk beristirahat ditembak mati. 










Tidak ada komentar:

Poskan Komentar