Jumat, 09 Mei 2014

Khutbah Imam Ali Bin Abi Thalib As Tentang Terbunuhnya Utsman Bin Affan




Apabila saya telah memerintahkan pembunuhannya maka saya adalah pembunuhnya, tetapi apabila saya telah mencegah orang lain membunuhnya maka saya adalah penolongnya. Kedudukannya sedemikian rupa sehingga sekarang orang yang menolongnya tak dapat mengatakan bahwa ia lebih baik daripada orang yang meninggalkannya. Saya akan mengajukan ke hadapan Anda perkaranya. Ia memperkaya diri dan menyalahgunakannya. Anda memprotes atasnya dan berbuat melampaui batas di dalamnya. Pada Allah terletak keputusan yang sesungguhnya antara si pengambil hak orang dan si pemrotes. 

Syarah:

[1] ‘Utsman adalah Khalifah Bani Umayyah yang pertama; ia menduduki kekhalifahan pada 1 Muharam 24 H. dalam usia tujuh puluh tahun. Setelah berkuasa penuh atas urusan kaum Muslim selama dua belas tahun, ia tewas di tangan mereka pada 18 Zulhijah 35 H. dan dimakamkan di Hasysy Kaukab.

Suatu kenyataan yang tak tersangkal, pembunuhan ‘Utsman adalah akibat kelemahannya dan perbuatan keji para pejabatnya. Bila tidak demikian maka tak ada alasan bahwa kaum Muslim akan sepakat membunuhnya, sementara beberapa orang dari keluarganya mendukung dan membelanya. Kaum Muslim tentulah menenggang rasa terhadap usianya, kedudukannya yang senior, harkat dan keistimewaannya sebagai sahabat Nabi, tetapi cara dan perbuatannya begitu merusak suasana sehingga nampaknya tak ada orang bersedia untuk menaruh simpati dan memihak kepadanya. Penindasan dan kesewenang-wenangan yang dilakukan terhadap para sahabat Nabi tingkat tinggi telah menimbulkan suatu gelombang kepedihan dan keberangan di kalangan suku-suku Arab. Masing-masingnya berang dan melihat kesombongan dan perbuatan buruk mereka dengan mata menghina. Penghinaan terhadap Abu Dzarr menyinggung kehormatan dan menyingkirkan Bani Ghifar serta suku-suku yang berkaitan dengannya. Pemukulan tak manusiawi terhadap ‘Abdullah Ibn Mas’ud menyebabkan Bani Hudzail dan sekutu-sekutunya tersinggung. Pematahan rusuk ‘Ammar Ibn Yasir, menjauhkan Bani Makhzum, dan sekaitan dengannya juga suku Bani Zuhrah menaruh kebencian. Karena persekongkolan untuk membunuh Muhammad Ibn Abu Bakar, timbul kebencian besar Bani Taim.

Kaum Muslim di kota-kota lain juga sudah melimpah dengan keluhan karena perbuatan para pejabat yang karena mabuk harta dan pengaruh kemewahan melakukan apa saja dan menghancurkan siapa saja yang mereka kehendaki. Mereka tak takut akan hukuman dari pusat, juga tak cemas akan pengusutan. Rakyat sedang bingung untuk melepaskan diri dari cengkeraman penindasan, tetapi tak seorang pun yang mau memperhatikan jerit kesakitan dan keresahannya. Rasa benci sedang meningkat tinggi, tetapi tak ada perhatian untuk meredakannya.

Para sahabat Nabi pun telah muak atasnya. Mereka melihat bahwa kedamaian telah hancur, pemerintahan jungkir balik dan wajah Islam sedang diubah. Kaum miskin dan kelaparan merindukan remah-remah roti kering sementara Bam Umayyah bergelimang dalam kemewahan. Khalifah telah dijadikan alat untuk membuncitkan perut dan sarana untuk menumpuk harta. Akibatnya, mereka pun tidak tinggal diam dalam menyiapkan lahan untuk membunuhnya. Malah, justru karena surat-surat dan pesan mereka maka rakyat Kufah, Bashrah dan Mesir berkumpul di Madinah. Memperhatikan kelakuan rakyat Madinah. ‘Utsman menulis surat kapada Mu’awiah,

“Amma ba ‘du, pastilah rakyat Madinah telah menjadi murtad, telah mengubah keimanan menjadi pembangkangan dan memutuskan baiat. Maka kirimkanlah kepada saya para prajurit Suriah dengan kuda-kuda yang cepat dan kuat.”

Kebijakan yang ditempuh Mu’awiah ketika menerima surat ini pun memberikan sorotan tentang keadaan para sahabat Nabi. Sejarawan Thabari menulis tentang ini:

“Ketika surat ini sampai ke Mu’awiah, ia merenungkannya dan menganggap buruk apabila ia secara terburu menentang para sahabat Nabi, karena ia mengetahui akan kesepakatan pendapat mereka.”

Melihat keadaan ini maka menganggap pembunuhan ‘Utsman sebagai akibat kebangkitan sesaat atau perasaan sementara dan memandangnya sebagai suatu pembangkangan samalah artinya dengan menutupi kenyataan, karena semua faktor oposisi terhadapnya terdapat di Madinah itu sendiri, sedang orang-orang yang datang dari luar telah berkumpul untuk mengusahakan pemulihan kesusahan mereka atas penggilan orang Madinah ini. Tujuan mereka hanya sekadar perbaikan keadaan, bukan pembunuhan atau pertumpahan darah. Apabila keluhan-keluhan mereka telah didengar maka tak akan terjadi peristiwa berdarah itu.

Yang terjadi ialah sebagai berikut. Rakyat Mesir yang telah muak dengan penindasan dan kesewenang-wenangan ‘Abdullah ibn Sa’id ibn Abi Sarh, saudara angkat ‘Utsman, pergi ke Madinah dan berkemah di lembah Dzakhusyub dekat kota. Mereka mengutus seorang lelaki membawa surat yang meminta kepada ‘Utsman supaya kelaliman dihentikan, cara-cara yang ada supaya diubah, dan supaya ia bertaubat untuk masa depannya. Tetapi, ketimbang memberikan jawaban, ‘Utsman menyuruh orang ini pergi dari rumahnya, dan tidak merasa perlu memperhatikan tuntutan-tuntutan mereka. Atasnya, orang-orang dari Mesir itu masuk ke kota dan mengangkat suara terhadap kesombongan dan sikap keras kepala itu, seraya mengeluh kepada penduduk tentang perilaku itu, di samping kelebihan-kelebihan lain. Sementara itu, dari Kufah dain Bashrah banyak orang telah tiba pula dengan membawa keluhan-keluhan mereka. Setelah bergabung, mereka maju dengan dukungan penduduk Madinah lalu mengurung ‘Utsman dalam rumahnya, walaupun ia tidak terhalang untuk pergi pulang ke mesjid. Tetapi, dalam khotbahnya pada hari Jum’at pertama setelah peristiwa itu, ia mencela keras orang-orang ini dan bahkan mengutuk mereka. Rakyat itu menjadi marah sampai melemparinya dengan kerikil, yang menyebabkan ia kehilangan kontrol sampai jatuh dari mimbar. Setelah beberapa hari, masuk keluarnya ke mesjid pun dicegah. Ketika ‘Utsman melihat keadaan memburuk sejauh itu, ia meminta dengan sangat kepada Amirul Mukminin Ali Bin Abi Thalib As untuk mencari jalan menyelamatkannya dan membubarkan rakyat menurut cara bagaimanapun yang dapat diusahakannya. Amirul Mukminin Ali Bin Abi Thalib As mengatakan, “Dengan ketentuan-ketentuan apa dapat saya meminta mereka pergi bilamana tuntutan-tuntutan mereka benar?” ‘Utsman mengatakan, “Anda saya beri hak dalam hal ini. Ketentuan-ketentuan apa pun yang Anda selesaikan dengan mereka, saya akan terikat kepadanya.” Maka Amirul Mukminin Ali Bin Abi Thalib As pun menemui orang-orang Mesir lalu berbicara dengan mereka. Mereka setuju untuk kembali ke Mesir dengan syarat bahwa kelaliman harus dihapus, Muhammad ibn Abu Bakar dijadikan Gubernur Mesir, dan Ibn Abi Sarh dipindahkan dari sana. Amirul Mukminin Ali Bin Abi Thalib As kembali dan menyampaikan tuntutan mereka kepada ‘Utsman, yang menerimanya tanpa ragu-ragu seraya mengatakan bahwa untuk mengatasi ekses-ekses itu diperlukan waktu. Amirul Mukminin Ali Bin Abi Thalib As  menunjukkan bahwa untuk hal-hal yang mengenai Madinah tak perlu penundaan. Namun, untuk tempat-tempat lain dapat diberikan waktu selama pesan Khalifah dapat sampai ke sana. ‘Utsman mengatakan bahwa untuk Madinah pun diperlukan waktu tiga hari. Setelah pembicaraan dengan orang-orang Mesir, Amirul Mukminin Ali Bin Abi Thalib As pun menyetujuinya pula dan menganggapnya sebagai tanggungjawabnya. Mereka pun bubar atas sarannya. Sebagian dari mereka ke Mesir bersama Muhammad ibn Abu Bakar, sebagian lagi ke lembah Dzakhusyub dan menginap di sana, dan seluruh persoalan berakhir.

Pada keesokan harinya Marwan ibn Hakam berkata kepada ‘Utsman, “Keadaan baik, orang-orang itu telah pergi, tetapi untuk menghentikan orang-orang datang dari kota-kota lain, Anda harus mengeluarkan suatu pernyataan supaya mereka tidak datang secara begini dan tinggal dengan tenteram di tempat mereka, dan pernyataan bahwa beberapa orang yang berkumpul di Madinah ada mendengar pembicaraan tak bertanggung jawab, tetapi ketika mereka mengetahui bahwa segala yang mereka dengar itu tidak benar, maka mereka telah merasa puas lalu kembali.” ‘Utsman tidak hendak mengatakan kebohongan yang terang-terangan itu, tetapi Marwan merayunya hingga ia menyetujuinya, dan di Mesjid Nabi, ia berkata,

“Orang-orang Mesir itu telah mendengar beberapa kabar tentang khalifah, dan ketika sadar bahwa semua itu tak beralasan dan salah, mereka kembali ke kota-kota mereka.”

Baru saja ia mengatakan ini timbul keributan di Mesjid, dan orang-orang mulai berteriak kepada ‘Utsman, “Bertaubatlah, takutlah kepada Allah. Kebohongan apa yang Anda katakan itu?” ‘Utsman bingung dalam keributan itu dan terpaksa bertaubat. Ia berpaling ke kiblat, menyatakan penyesalan di hadapan Allah, lalu kembali ke rumahnya.

Rupanya, setelah peristiwa inilah Amirul Mukminin Ali Bin Abi Thalib As menasihati ‘Utsman, “Anda seharusnya secara terbuka menyatakan taubat atas perbuatan Anda yang sudah-sudah supaya kebangkitan ini mereda untuk selamanya. Bila tidak, jika besok datang orang-orang dari tempat lain maka Anda akan merangkul leher saya lagi untuk menyelamatkan diri dari mereka.” Akibatnya, ia mengucapkan pidato di Mesjid Nabi di mana, sambil mengakui kesalahan-kesalahannya, ia menyatakan taubat dan bersumpah akan selalu berhati-hati di waktu-waktu yang akan datang. Ia mengatakan kepada rakyat bahwa setelah ia turun dari mimbar, wakil-wakil mereka supaya menemuinya; ia akan menyingkirkan kesusahan serta memenuhi tuntutan mereka. Untuk itu rakyat serentak menyambut perbuatannya itu dan mencuci bersih parasaan jengkel mereka dengan banyak air mata.

Ketika ia tiba di rumah, Marwan meminta izin untuk mengatakan sesuatu kepadanya, tetapi istrinya, Na’ilah binti Farafishah, menghalangi. Menghadapi Marwan, ia berkata, “Demi Allah, diamlah engkau. Engkau hanya akan mengatakan sesuatu yang akan menyebabkan kematiannya. Marwan tersinggung lalu menjawab, “Anda tak berhak dalam urusan ini. Anda putri dari si lelaki yang hingga matinya tak tahu bagaimana cara berwudhu.” Na’ilah menjawab dengan berang, “Engkau salah, engkau menuduh secara palsu. Sebelum mengatakan sesuatu tentang ayah saya seharusnya engkau melirik dulu ke wajah ayahmu. Kalau tidak menenggang rasa pada orang tua itu, saya akan mengatakan hal-hal yang akan membuat orang gemetar tetapi akan mengukuhkan setiap kata-kata saya.”

Ketika ‘Utsman melihat bahwa percakapan ini akan memanjang, ia menghentikan mereka dan meminta Marwan mengatakan kepadanya apa yang dikehendakinya. Marwan mengatakan, “Apa gerangan yang telah Anda katakan di Mesjid, dan taubat apa yang Anda sampaikan? Menurut pendapat saya, bertahan pada dosa adalah seribu kali lebih baik daripada pernyataan taubat itu, karena betapa besar pun dosa yang berlipat ganda, selalu ada kesempatan untuk bertaubat, tetapi taubat karena paksaan bukanlah taubat. Anda telah mengatakan apa yang Anda katakan, tetapi sekarang lihatlah akibat-akibat pengumuman terbuka ini; gerombolan orang sekarang ada di pintu rumah Anda. Nah, majulah dan penuhilah tuntutan mereka.” ‘Utsman lalu mengatakan, “Saya telah mengatakan apa yang telah saya katakan, sekarang engkau urusilah orang-orang itu. Saya tak mampu mengurusi mereka.” Setelah mendapatkan persetujuan tersirat itu, Marwan keluar dan mengatakan kepada orang-orang itu, “Mengapa kamu berkumpul di sini? Apakah kamu bermaksud akan menyerang atau untuk mengacau? Ingatlah, tidak mudah bagi kamu merebut kekuasaan dari tangan kami. Keluarkan gagasan dari hatimu bahwa kamu akan menundukkan kami. Kami tak dapat ditundukkan oleh siapa pun. Bawalah pergi wajah-wajah hitam kamu dari sini. Semoga Allah menggaibkan dan menghina kamu.”

Ketika rakyat melihat perubahan wajah dan gambaran yang lain ini, mereka bangkit dengan penuh kemarahan dan keberangan lalu pergi langsung kepada Amirul Mukminin Ali Bin Abi Thalib As dan menyampaikan semua peristiwa ini. Ketika mendengar ini, Amirul Mukminin Ali Bin Abi Thalib As marah dan langsung pergi kepada ‘Utsman seraya berkata kepadanya, “Subhdnallah. Betapa buruknya perilaku Anda terhadap kaum Muslim. Anda telah meninggalkan keimanan demi seorang lelaki yang tak beriman dan tak berakhlak, dan Anda telah kehilangan semua pikiran sehat. Setidak-tidaknya Anda harus menghormati dan memandang janji Anda sendiri. Apa sebabnya maka dengan dukungan Marwan Anda telah menyisih dengan mata tertutup. Ingatlah, ia akan melemparkan Anda ke sumur yang begitu gelap sehingga tak mungkin lagi Anda keluar daii situ. Anda telah menjadi hewan pemikul beban Marwan sehingga ia dapat menunggangi Anda sesuka hatinya. Di waktu-waktu yang akan datang saya tidak lagi akan mencampuri urusan Anda, tidak pula saya akan mengatakan apa-apa kepada rakyat.”

Setelah mengatakan semua itu, Amirul Mukminin Ali Bin Abi Thalib As kembali, dan Na’ilah mendapatkan kesempatan lalu berkata kepada ‘Utsman, “Tidakkah saya katakan kepada Anda untuk melepaskan diri dari Marwan; bila tak demikian maka ia akan menodai Anda, yang tak akan terhilangkan walaupun dengan segala usaha. Nah, apakah gunanya mendengarkan segala kata-kata orang yang sama sekali tidak disukai rakyat dan hina di mata mereka? Usahakan supaya ‘Ali menyetujui; ingatlah bahwa memulihkan urusan yang kacau adalah di luar kemampuan Anda maupun Marwan.” ‘Utsman terkesan dengan kata-kata ini, lalu mengirm orang memanggil Amirul Mukminin Ali Bin Abi Thalib As, tetapi ia menolak. Tidak ada kepungan di sekitar ‘Utsman, tetapi ia bingung karena malu. Dengan muka mana ia akan keluar dari rumah? Tetapi, tak ada jalan selain keluar. Karenanya ia keluar diam-diam dalam gelap malam dan setiba di tempat Amirul Mukminin Ali Bin Abi Thalib As ia mengeluh tentang tidak berdayanya dia, mengajukan alasan-alasan dan berusaha meyakinkan bahwa ia akan menepati janji, tetapi Amirul Mukminin Ali Bin Abi Thalib As berkata, “Anda berjanji di Mesjid Nabi di hadapan semua orang, tetapi janji itu dipenuhi seperti itu; ketika rakyat pergi kepada Anda, mereka ditolak, bahkan hinaan dilemparkan kepada tnereka. Bila begini keadaan Anda yang telah dilihat dunia, maka bagaimana dan atas dasar apa saya dapat mempercayai suatu perkataan Anda kelak? Jangan mengharapkan sesuatu dari saya sekarang. Saya tidak bersedia menerima tanggung jawab atas nama Anda. Ambillah jalan mana pun yang Anda kehendaki, dan tempuhlah jalan mana saja yang Anda pilih.” Setelah pembicaraan ini, ‘Utsman kembali dan mulai menyalahkan Amirul Mukminin atas semua kekacauan yang menimpa dirinya dan bahwa ia tidak melakukan apa-apa walaupun ia mampu melakukan segalanya.

Di sisi ini hasil pertaubatannya sama sebagaimana dahulunya. Sekarang marilah kita lihat sisi lainnya. Setelah melewati Hijaz, di suatu tempat bernama Ailah di pantai Laut Merah, Muhammad ibn Abu Bakar dan rombongan melihat seorang penunggang unta yang berusaha melarikan untanya secepat mungkin seakan-akan dikejar musuh. Ia mengatakan bahwa ia budak ‘Utsman. Ketika ditanya ke mana ia hendak pergi, ia menjawab hendak ke Mesir. Ditanya tentang kepada siapa ia akan pergi, ia menjawab, kepada Gubernur. Orang-orang itu mcngatakan bahwa Gubernur Mesir ada bersama mereka. Maka, kepada siapa ia akan pergi? Ia mengatakan akan pergi kepada Ibn Abi Sarh. Ketika ditanya apakah ia membawa surat, ia menyangkalnya. Mereka menanyakan untuk maksud apa ia akan ke sana. Ia menjawab tak tahu. Salah seorang mengatakan bahwa pakaiannya harus diperiksa. Ketika diperiksa, tak ditemukan apa-apa. Kinanah ibn Bisyr at-Tujibt mengatakan, “Periksalah kantong airnya.” Orang berkata, “Biarkan dia, betapa mungkin ada surat dalam air.” Kinanah mengatakan, “Anda tak tahu betapa liciknya permainan orang-orang itu.” Akhirnya, kantong airnya dibuka dan diperiksa. Di dalamnya terdapat suatu pipa dari timah, dan di dalam pipa itu terdapat sepucuk surat. Ketika dibuka dan dibaca, di dalamnya tertera perintah Khalifah, “Bilamana Muhammad ibn Abu Bakar dan rombongannya sampai kepada Anda, maka dari antara mereka bunuhlah si anu dan si anu, tahanlah si anu dan si anu, dan masukkan si anu dan si anu ke dalam penjara, tetapi hendaklah Anda tetap pada jabatan Anda.” Ketika membaca ini, semuanya tercengang dan saling memandang dalam kebingungan.

Sekarang, meneruskan perjalanan ke Mesir sama artinya dengan maju ke mulut maut. Karena itu mereka kembali ke Madinah dengan membawa serta budak itu. Setiba di sana, mereka meletakkan surat itu di hadapan para sahabat Nabi. Siapa saja yang mendengar peristiwa itu tercengang, dan tiada seorang pun yang tidak mencerca ‘Utsman. Kemudian beberapa sahabat Nabi pergi kepada ‘Utsman bersama orang-orang ini dan menanyakan meterai siapa yang tertera pada surat itu. ‘Utsman menjawab bahwa itu meterainya sendiri. Mereka menanyakan tulisan siapa itu. Ia mengatakan itu tulisan sekretarisnya. Mereka menanyakan budak siapa itu. Ia menjawab bahwa itu budaknya. Mereka menanyakan hewan siapa yang ditungganginya. Ia menjawab bahwa itu milik pemerintah. Mereka menanyakan siapa yang mengirimnya. Ia menjawab tak tahu. Orang-orang itu lalu mengatakan, “Subhanallah. Semuanya kepunyaan Anda tetapi Anda tak tahu siapa yang mengirimkannya. Apabila Anda begitu tak berdaya, Anda tinggalkanlah kekhalifahan ini dan menyingkirlah darinya, supaya datang orang lain yang dapat mengatur urusan kaum Muslim.” Ia menjawab “Tak mungkin saya menanggalkan baju kekhalifahan yang telah dipakaikan Allah kepada saya. Tentu saja saya akan bertaubat.” Orang-orang berkata, “Mengapa Anda bicara tentang bertaubat yang telah diingkari pada hari ketika Marwan mewakili Anda di pintu rumah Anda, dan segala yang kurang telah dilengkapi oleh surat ini. Tinggalkanlah kekhalifahan! Apabila saudara-saudara karni mengahalangi jalan kami, kami akan menggeserkannya; apabila mereka bersedia untuk berkelahi, kami pun mau berkelahi. Tangan kami tidak kaku, dan pedang kami tidak tumpul. Apabila Anda memandang kaum Muslim sama dan menegakkan keadilan, serahkan Marwan kepada kami supaya dapat kami menanyainya atas kuasa dan dukungan siapa ia hendak mempermainkan nyawa mahal kaum Muslim dengan menulis surat ini.” Tetapi, ia menolak tuntutan ini dan tak mau menyerahkan Marwan kepada mereka, yang karenanya orang mengatakan bahwa surat itu telah ditulis atas suruhannya.

Bagaimanapun, keadaan yang sedang membaik sebelumnya, sekarang menjadi buruk dan memang semestinya akan demikian; karena, walaupun waktu yang dahulunya dijanjikan telah lewat, keadaannya tepat sama sebagaimana sebelumnya, tiada sedikit pun perubahan telah terjadi. Akibatnya, orang-orang yang tertinggal di lembah Dzakhusyub, untuk melihat hasil pertaubatan ‘Utsman, maju lagi seperti banjir dan menyebar di jalan-jalan Madinah, dan dengan menutup perbatasan dari setiap sisi, mereka mengepung rumahnya.

Sementara pengepungan ini, seorang sahabat Nabi, Niyar ibn ‘Iyad, ingin bicara dengan ‘Utsman; ia pergi ke rumahnya lalu memanggilnya. Ketika ‘Utsman menengok keluar dari atas, Niyar berkata, “Wahai, ‘Utsman, demi Allah, serahkan kepada kami kekhalifahan ini dan selamatkanlah kaum Muslim dari pertumpahan darah.” Sementara ia bicara, salah seorang pendukung ‘Utsman membidik dan membunuhnya dengan panah. Rakyat menjadi berang dan menyerukan bahwa pembunuh Niyar harus diserahkan kepada mereka. ‘Utsman mengatakan bahwa tak mungkin ia akan menyerahkan pendukungnya sendiri kepada mereka.

Sikap keras kepala itu adalah ibarat pengipas api, dan dalam puncak kemarahan beberapa orang membakar pintu rumahnya dan mendesak maju untuk masuk, sementara Marwan ibn Hakam, Sa’id ibn ‘Ash dan Mughirah ibn al-Akhmas bersama dengan kontingen-kontingen mereka, menghantam para pengepung itu, lalu pembunuhan dan pertumpahan darah mulai di pintu rumahnya. Rakyat hendak memasuki rumahnya, tetapi mereka terdorong mundur. Sementara itu ‘ Amr ibn Hazm al-Anshari yang rumahnya bertetangga dengan ‘Utsman membuka pintu rumahnya seraya menyerukan supaya maju ke situ. Maka, melalui rumah itu para pengepung memanjat ke bumbungan rumah ‘Utsman lalu turun dari sana seraya menghunus pedang. Baru terjadi sedikit perkelahian—kecuali orang-orang keluarga ‘Utsman—para pencintanya dan Bani Umayyah lari ke jalan-jalan Madinah, dan beberapa orang bersembunyi di rumah Umm Habibah binti Abi Sufyan (saudara perempuan Mu’awiah). Yang tertinggal semuanya terbunuh bersama ‘Utsman karena membelanya hingga saat berakhir. (Ibn Sa’d, ath-Thabaqat, III, Bagian I, h. 50-58; ath-Thabari, Tarikh, I, h. 2998-3025; Ibn Atsir, al-Kamil, III, h. 167-180; Ibn Abil Hadid, II, 144-161).

Pada pembunuhannya, beberapa penyair menulis elegi. Berikut ini satu syair oleh Abu Hurairah: Sekarang orang hanya punya satu kesedihan, tetapi saya mempunyai dua (kesedihan):  "Kehilangan kantong uang saya dan kematian ‘Utsman".

Setelah melihat peristiwa-peristiwa itu, sikap Amirul Mukminin Ali Bin Abi Thalib As menjadi jelas. Yakni, ia tidak mendukung kelompok yang menghasut pembunuhan ‘Utsman, dan ia tak dapat digolongkan pada orang-orang yang mendukung dan membelanya; ketika ia melihat bahwa apa yang telah dikatakan tidak dijalankan, ia berlepas tangan.

Bilamana kedua pihak dilihat pada saat itu, di antara orang-orang yang berlepas tangan dari mendukung ‘Utsman, nampak ‘A’isyah, dan orang-orang di antara sepuluh orang yang mubasysyarun bil-jannah (yang telah diberitakan sebelumnya akan masuk surga, menurut versi yang populer, yang tak benar), yang pada saat itu masih hidup, dari antara mereka yang ambil bagian dalam komite Syura (yang dibentuk untuk memilih khalifah), Anshar, Muhajirin awal, orang-orang yang dahulu turut serta dalam Perang Badr, dan lain-lain tokoh menonjol dan terkemuka, sementara di pihak ‘Utsman hanya nampak budak khalifah itu dan beberapa orang dari Bani Umayyah. Apabila orang-orang seperti Marwan dan Sa’id ibn ‘Ash tak dapat dianggap mengungguli para Muhajirtn awal, maka tindakan mereka pun tak dapat dianggap mengatasi perbuatan-perbuatan Muhajirin awal itu. Lagi, apabila ijmak (konsensus pendapat) bukan sarana untuk peristiwa-penstiwa khusus saja, maka akan sukar untuk mempertanyakan kesepakatan melimpah dari para sahabat itu.

Sumber: Khutbah No.30 dalam Nahjul Balaghah

Tidak ada komentar:

Posting Komentar